Ngipri Ular

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #12

Keluarga Yang Retak

Malam baru saja merambat menembus Desa Sambirejo, namun di dalam rumah megah berdinding tembok tebal milik Hartono, udara terasa membeku bagai di dalam lemari es. Lampu-lampu kristal gantungan yang baru dibeli dari kota memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan, memantul pada lantai tegel mengilap tanpa setitik debu pun. Di tengah ruang makan yang luas, meja kayu jati berukir dipenuhi oleh aneka hidangan mewah: ayam goreng rempah yang gurih, rendang daging sapi berkuah pekat, ikan bakar berukuran besar, hingga berbagai buah-buahan segar yang tertata di atas piring-piring porselen tebal.

Aroma masakan mahal itu memenuhi ruangan, namun tak satu pun dari bau harum itu yang mampu menghangatkan suasana.

Di kepala meja, Hartono duduk mematung. Kemeja batiknya yang terbuat dari kain sutera halus tampak berkilau. Jemari tangan kanannya yang dihiasi batu akik hijau tebal memegang sendok emas, sementara di samping piringnya berdiri sebuah gelas kristal tinggi berisi air kelapa muda segar—minuman yang tak pernah lepas dari tangannya. Di sisi kiri meja, Marni duduk menunduk lesu. Wajah perempuan itu kian hari kian tirus, lingkar hitam menggenang di bawah matanya, seolah-olah seluruh kebahagiaannya telah disedot habis sejak kepergian Witri lima tahun lalu.

Sasongko, pemuda berkulit kuning langsat yang merupakan anak sulung keluarga itu, duduk di sisi kanan meja. Makanan mewah di piringnya hampir tak tersentuh. Jemarinya mengepal di atas pangkuannya. Tatapan matanya yang tajam dan terluka menghujam lurus ke arah sang ayah.

"Makanlah, Sasongko," suara Hartono terdengar datar, memecah keheningan yang menekan. "Ikan bakar itu sengaja diminta ibumu dibeli dari pasar kota tadi siang. Makanan seperti ini dulu bahkan tidak pernah bisa kita impikan."

Sasongko tidak menyentuh sendoknya. Ia menghembuskan napas panjang, sebuah napas berat yang sarat dengan kekecewaan yang telah lama ia pendam di dasar dadanya.

"Untuk apa makan semua ini, Bapak?" tanya Sasongko. Suaranya pelan, namun bergetar hebat.

Hartono menghentikan gerak jemarinya yang hendak menyuapkan nasi. Matanya terangkat, menatap anak laki-lakinya dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu? Makanan enak, rumah besar, baju bagus... apa yang kurang? Semua anak di desa ini iri padamu karena punya bapak kaya raya!"

"Aku tidak butuh semua ini jika harganya adalah jiwa Bapak!" tegur Sasongko, suaranya melengking membelah kesenyapan ruang makan.

Marni yang duduk di antara mereka langsung tersentak kaget. "Sasongko... sudah, Nak. Jangan bicara seperti itu pada bapakmu..." bisik Marni gemetar, mencoba meredakan ketegangan yang mendadak membumbung tinggi.

Namun, Sasongko tak bisa lagi ditahan. Bendungan rasa sesak di dadanya telah runtuh. Pemuda itu bangkit berdiri dari kursi jatinya. Kursi itu bergeser keras menghantam lantai, menimbulkan bunyi derit tajam yang mengejutkan.

"Bapak berubah 180 derajat!" jerit Sasongko dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Bapak bukan lagi Bapak yang aku kenal dulu! Mana Bapakku yang dulu selalu tersenyum meski tangan dan kakinya belepotan lumpur sawah?! Mana Bapak yang dulu mengelus kepalaku tiap malam sebelum tidur?!"

Hartono menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya menyipit, berubah menjadi dingin dan liar. "Kamu masih bocah, Sasongko! Kamu tidak tahu apa-apa tentang kerasnya dunia ini! Kamu lupa bagaimana rasanya dihina, diludahi, dan diinjak-injak oleh orang-orang desa ini hanya karena kita melarat?!"

"Aku tidak lupa, Pak! Aku ingat betul!" bentak Sasongko, air matanya akhirnya menetes menelusuri pipinya. "Aku ingat dulu kita sangat miskin! Dulu kita cuma makan satu kali sehari, kadang-kadang cuma nasi hangat ditaburi garam dapur dan sedikit jelantah! Tapi waktu itu... waktu kita masih tinggal di gubuk bambu yang bocor, rumah kita terasa hangat! Kita bisa tertawa bersama-sama di atas balai-balai kayu. Bapak mengajari aku mengaji, Bapak memeluk Witri saat hujan dingin turun... Ada cinta di rumah kita yang dulu, Pak!"

Sasongko menarik napas tersengal-sengal, dadanya berombak naik turun. Ia menunjuk ke sekeliling ruangan megah itu dengan jemarinya yang gemetar.

"Tapi sekarang? Lihat rumah ini, Pak! Lihat!" seru Sasongko seraya tertawa sumbang yang getir. "Kita punya rumah tembok tinggi, punya belasan kios sembako di pasar, punya mesin parut kelapa, punya mobil Mercy mengilap lengkap dengan AC dingin yang berhembus tiap kali kita bepergian... Tapi suasana di rumah ini hambar! Dingin! Murahan!"

"Jaga mulutmu, Sasongko!" bentak Hartono serak seraya menghentakkan telapak tangannya ke atas meja makan.

BAMMM!

Lihat selengkapnya