Ngipri Ular

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #13

Akhir Dari Kesesatan

Jam antik yang menempel di dinding ruang tengah berdentang dua belas kali. Tepat tengah malam. Hawa malam itu panas dan gerah. Sasongko anak pertama Hartono gelisah dalam tidurnya. AC yang berada di kamar tak mampu mendinginkan panas udara malam itu. Piyama yang dikenakannya telah basah kuyup bermandikan peluh. Sasongko lalu terbangun dan duduk di tepi ranjang. Radio yang ada di meja tampak sudah mengeluarkan bunyi distorsi tanda sudah tidak ada siaran.

Diputarnya tuning gelombang radio untuk mencari stasiun masih siaran. Terdengar suara lagu dari stasiun radio RRI. Lagu dari Betaria Sonata yang berjudul Hati Yang Luka.

Berulang kali aku mencoba

s’lalu untuk mengalah

demi keutuhan kita berdua

walau kadang sakit

Lihatlah tanda merah di pipi

bekas gambar tanganmu

sering kau lakukan

bila kau marah menutupi salahmu

Samakah aku

bagai burung disana

yang dijual orang

hingga sesukamu

kau lakukan itu

kau sakiti aku

Lagu itu tiba –tiba menjadi lambat dan suaranya menjadi aneh lebih mirip rintihan dari alam kegelapan. Suara musiknya menyeret meliuk-liuk mengerikan. Kemudian.....

Bzzzz .. Bzzzz .. Bzzzz

Radio tiba –tiba mengalami distorsi. Sasongko membalik radio lalu memeriksa kotak baterai. Menggoyang –goyangkan badan radio, lalu menepuk pelan radionya itu. Tetap saja bunyi distorsi yang keluar. Diletakannya radio itu di tempat semula. Sasongko kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Kemudian dia berbalik badan ke arah tembok. Terbelalak matanya tatkala di di tepi ranjangnya membelakangi sosok tubuh anak kecil perempuan berambut panjang.

" Witri...... "

Suara Sasongko bergetar bulu kuduk Sasongko meremang. Dia sangat mengenali perawakan adiknya itu. Tubuh kecil misterius itu berbalik badan. Seorang anak kecil perempuan berumur sekitar lima tahun. Wajahnya pucat putih dengan bibir membiru. Wajah menyeramkan itu sebagian tertutup rambut panjang tergerai ke depan, kelopak matanya menghitam menakutkan dan yang lebih menggidikkan leher anak itu patah. Sehingga kepalanya sedikit terkulai. Sasongko menjerit ketakutan.

Jam antik yang menempel di dinding ruang tengah berdentang dua belas kali. Sasongko terperanjat terbangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Napasnya terengah-engah. Di raihnya gelas berisi air putih yang ada di meja samping ranjangnya. Tangannya gemetar hebat.

" Ohhh..hanya mimpi...hanya mimpi... "

Sasongko berbicara sendiri berulang –ulang. Cangkir di tangannya bergetar.

Radio yang ada di meja tampak sudah mengeluarkan bunyi distorsi tanda telah tidak ada siaran.

Bzzzz .. Bzzzz .. Bzzzz

Bzzzz .. Bzzzz .. Bzzzz

Sasongko bergidik lalu menoleh ke arah samping sisi tempat tidurnya. Tidak ada siapa –siapa. Dia menarik nafas lega. Ketika tiba –tiba terdengar ada langkah-langkah kaki setengah berlari menuruni tangga.

Sasongko keluar dari kamarnya. Langkahnya ragu-ragu menembus lorong rumah yang remang.

" Bu..ibu..Pak..Bapak... "

Sepi tidak ada jawaban. Sunyi mencekam merayapi ruangan.

Suara langkah kaki itu terhenti. Sasongko bermaksud untuk masuk ke kamarnya lagi. Ketika tiba –tiba terdengar lagi suara langkah kaki menuruni tangga. Bulu kuduk nya meremang lagi. Saat itu lah matanya melihat sekelebatan anak kecil menuruni tangga dan berlari sambil tertawa–tawa ke arah rumah bagian belakang. Serta merta seperti ada suntikan nyali dan keberanian Sasongko mengejar bayangan itu. Bayangan itu lenyap tak berbekas di depan kamar kosong yang dipergunakan Hartono untuk melakukan ritual bersetubuh dengan Nyi Blorong.

" Sasongko Bapak ingatkan, jangan sekali –kali masuk ke ruangan ini. Ingat itu, apapun alasannya biarkan tetap terkunci dan tertutup ".

" Kamar itu isinya apa Pak? Mengapa Bapak melarang saya dan Ibu untuk mengetahui isi dari kamar itu?! "

Lihat selengkapnya