Banyak sekali.
Kadang sampai aku bingung harus mulai dari mana.
Kalau aku cerita semuanya sekaligus, mungkin orang yang mendengarkanku akan capek. Jadi aku pikir, lebih baik sedikit-sedikit saja. Satu cerita untuk satu waktu. Tidak perlu buru-buru.
Lagipula, aku tidak sedang pergi ke mana-mana.
Aku bisa menulis kapan saja.
Aku juga tidak harus tidur cepat, kecuali Ibu sudah mulai marah karena lampu kamarku masih menyala.
Ibu paling tidak suka lampu yang menyala tanpa alasan.
Katanya listrik mahal.
Aku pernah bilang, “Kalau aku yang bayar gimana?”
Ibu tertawa.
“Memangnya kamu punya uang?”
Aku bilang punya.
Padahal uangku cuma dua ribu rupiah.
Ibu tertawa lebih keras.
Aku suka kalau Ibu tertawa.
Kalau Ibu tertawa, rumah terasa lebih besar.
Aneh, ya?
Padahal rumah kami tidak berubah. Dindingnya tetap sama. Meja makan masih ada di tempatnya. Sofa masih menghadap televisi.
Jam dinding masih bunyi setiap detik. Lemari di kamar Ibu juga masih suka berbunyi kalau pintunya tidak ditutup rapat.
Tapi kalau Ibu tertawa, semuanya seperti menjadi lebih ringan.
Aku sering memperhatikan Ibu diam-diam.
Bukan karena Ibu cantik.
Walaupun menurutku Ibu memang cantik.
Tapi aku suka melihat wajah Ibu ketika sedang tidak tahu kalau ada yang melihat.
Kalau Ibu sedang memasak, misalnya.
Ibu suka mengikat rambutnya asal-asalan. Beberapa rambut selalu jatuh di dekat pipinya. Kalau sedang menggoreng, Ibu akan meniup rambut itu berkali-kali karena tangannya sedang kotor.
Aku pernah bilang, “Ibu kelihatan lucu.”
Ibu langsung melihatku.
“Lucu bagaimana?”
“Kayak orang marah sama rambut sendiri.”
Ibu mengejarku membawa sendok.
Aku lari sampai ke kamar.
Padahal sebenarnya aku tidak takut.
Aku cuma suka kalau Ibu mengejarku.
Sekarang aku sedang duduk di atas tempat tidur.
Kakiku tidak sampai ke lantai.
Aku masih harus menggeser badan ke ujung kasur kalau mau turun. Ibu pernah bilang nanti kalau aku sudah tinggi, kakiku akan sampai sendiri.
Aku tidak sabar menunggu tinggi.
Aku ingin tinggi seperti Ayah.
Ayah tinggi sekali.
Kalau aku berdiri di sebelahnya, kepalaku cuma sampai dadanya.
Aku pernah bertanya kenapa Ayah tinggi sedangkan aku pendek.
Ayah menjawab, “Karena Ayah makan banyak.”
Besoknya aku makan tiga piring nasi.
Ibu sampai melotot melihatku.
“Kamu lapar?”
Aku mengangguk.
“Sebanyak itu?”
Aku bilang, “Aku mau tinggi.”
Ayah tertawa sampai batuk.
Ibu menggeleng.
Katanya tinggi bukan begitu caranya.
Aku kecewa.
Tapi nasi tiga piring tetap habis.
Aku tidak mau membuang makanan.
Ibu selalu bilang, makanan harus dihargai karena tidak semua orang bisa makan sampai kenyang.
Aku tidak begitu mengerti maksudnya waktu itu.
Sekarang juga belum terlalu mengerti.
Tapi aku ingat.
Aku selalu ingat hal-hal yang dikatakan Ibu.
Mungkin karena suara Ibu gampang sekali masuk ke kepalaku.
Bahkan kalau Ibu tidak sedang bicara, aku kadang masih bisa mendengarnya.
Seperti sekarang.
Aku sedang menulis, tapi rasanya seperti Ibu sedang bilang dari luar kamar,
“Jangan terlalu dekat sama jendela.”
Padahal aku tidak dekat dengan jendela.
Aku cuma melihatnya.
Jendelaku menghadap ke halaman.
Kalau pagi, cahaya matahari masuk lewat celah tirai. Kalau sore, warnanya berubah menjadi kuning. Kalau hujan, kaca jendela penuh titik air.
Aku suka hujan.
Ibu tidak.
Katanya hujan bikin rumah lembab.
Menurutku hujan membuat dunia lebih tenang.
Suara air di atap seperti seseorang sedang mengetuk pintu pelan-pelan.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku kadang berpura-pura ada seseorang di luar.
Aku bertanya,
“Siapa?”
Lalu aku diam.
Tidak ada jawaban.
Aku membuka tirai.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi aku tetap senang.
Entah kenapa.
Mungkin karena aku suka membayangkan ada orang yang datang mencariku.
Aku pernah bertanya kepada Ibu apakah aku punya teman yang tinggal dekat rumah.
Ibu bilang dulu ada.
“Dulu?”
Aku bertanya.
Ibu mengangguk.
“Sekarang?”
Ibu diam sebentar.
“Sekarang juga ada.”
Aku senang.
“Siapa?”
Ibu hanya tersenyum.
Aku tidak tahu kenapa Ibu tersenyum seperti itu.
Aku kira Ibu akan menyebut nama seseorang.
Tapi tidak.
Kadang Ibu memang begitu.
Aku bertanya sesuatu, lalu Ibu menjawab dengan wajah yang membuatku merasa pertanyaanku tidak perlu dijawab.
Aku sering kesal.
Tapi tidak lama.
Aku gampang lupa kalau sedang marah.
Kata Ayah, itu bagus.
Katanya jangan menyimpan marah terlalu lama.
Aku bilang aku bisa menyimpan marah.
Ayah bertanya, “Berapa lama?”
Aku bilang, “Lima menit.”
Ayah tertawa.
Aku sebenarnya bisa lebih lama.
Sepuluh menit.
Kadang lima belas.
Tapi kalau Ibu datang membawa makanan, ya sudah.
Aku lupa.
Aku pernah berpikir mungkin semua orang dewasa memang begitu.
Mereka suka membuat masalah yang sebenarnya bisa selesai hanya dengan makan bersama.
Kalau aku nanti sudah dewasa, aku mau tetap seperti itu.
Kalau sedang marah, aku akan makan.
Kalau sedang sedih, aku akan makan.
Kalau sedang bahagia, aku juga makan.
Ibu bilang aku memang punya hubungan yang serius dengan makanan.
Aku tidak tahu maksudnya.
Tapi aku suka.
Hari ini aku makan roti.
Roti coklat.
Aku sebenarnya ingin roti stroberi, tapi Ibu bilang yang coklat lebih enak.
Aku tidak setuju.
Tapi aku makan juga.
Aku selalu makan apa yang Ibu berikan.
Kadang aku ingin memilih sendiri.
Tapi kalau aku memilih sendiri, Ibu biasanya bilang,
“Yang ini saja.”
Jadi aku menurut.
Bukan karena aku takut.
Aku cuma tidak ingin membuat Ibu sedih.
Aku tidak suka melihat Ibu sedih.
Wajahnya berubah kalau sedang sedih.
Seperti semua bagian wajahnya lupa bagaimana caranya tersenyum.
Kalau sedang sedih, Ibu sering melihat foto.
Foto yang sama.
Aku tidak tahu kenapa Ibu suka sekali melihat foto itu.
Aku pernah ikut melihat.
Di foto itu ada aku.
Ada Ayah.
Ada Ibu.
Aku sedang tersenyum lebar.
Gigi depanku waktu itu belum lengkap.
Aku ingat hari itu.
Aku memakai baju merah.
Aku suka baju itu.
Ibu bilang aku kelihatan seperti apel.
Aku bilang aku bukan apel.
Ibu bilang pipiku merah.
Aku bilang karena panas.
Ayah bilang karena malu.
Aku marah.
Semua orang tertawa.
Kalau melihat foto itu sekarang, aku kadang merasa lucu.
Aku tidak ingat siapa yang mengambil foto.
Mungkin Ayah.
Atau seseorang yang lewat.
Aku tidak tahu.
Tapi aku tahu satu hal.
Aku suka foto itu.
Karena disana kami bertiga sedang tersenyum.
Aku sering bertanya kenapa foto-foto lain tidak seperti itu.
Ada banyak foto di rumah.
Tapi sebagian besar cuma ada aku dan Ibu.
Atau aku dan Ayah.
Foto bertiga lebih sedikit.
Aku pernah bertanya kepada Ibu.
“Kenapa foto kita sedikit?”
Ibu menjawab,
“Karena yang penting bukan jumlah fotonya.”
Aku tidak mengerti.
Menurutku jumlah itu penting.
Kalau aku punya seratus permen, aku lebih bahagia daripada punya satu.
Kalau punya seratus foto, berarti punya seratus kenangan.
Tapi mungkin orang dewasa memang berpikir berbeda.
Aku masih kecil.
Setidaknya itu yang sering dikatakan Ibu.
“Kamu masih kecil.”
Aku tidak suka kalimat itu.
Karena setiap kali aku ingin melakukan sesuatu, Ibu bilang aku masih kecil.
Aku mau membantu memasak.
“Kamu masih kecil.”
Aku mau pergi sendiri.
“Kamu masih kecil.”
Aku mau tidur lebih malam.
“Kamu masih kecil.”
Aku mau punya uang sendiri.
“Kamu masih kecil.”
Aku pernah bilang,
“Kalau begitu kapan aku besar?”
Ibu diam.
Aku menunggu.
Ibu tersenyum.
“Nanti.”
Aku paling tidak suka kata itu.
Nanti.
Nanti itu kapan?
Besok?
Minggu depan?
Tahun depan?
Kalau aku bertanya, Ibu selalu bilang,
“Nanti kamu juga tahu.”
Aku rasa orang dewasa terlalu suka menyimpan jawaban.
Padahal kalau tahu jawabannya, kenapa tidak bilang saja?
Aku pernah bertanya kepada Ayah.
Ayah juga bilang,