Nina

Bear Winter
Chapter #2

Ibu Tidak Suka Rumah yang Berisik

Aku tahu itu karena setiap kali aku berlari dari ruang tamu ke kamar, Ibu selalu bilang,

“Pelan-pelan, Nina.”

Aku lari lagi.

Ibu bilang,

“Nina.”

Aku berhenti.

Lalu aku jalan pelan-pelan.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Setelah itu aku lupa.

Aku berlari lagi.

Ibu menghela napas.

Aku tahu suara helaan napas Ibu.

Ada banyak macamnya.

Ada helaan napas karena capek.

Ada karena kesal.

Ada karena bingung.

Ada juga yang panjang sekali, sampai aku merasa Ibu sedang membuang semua pikirannya lewat mulut.

Yang terakhir paling sering.

Aku pernah bertanya,

“Ibu kenapa sering menghela napas?”

Ibu bilang,

“Karena Ibu manusia.”

Aku tidak mengerti.

Aku kira manusia memang bernapas.

Tapi ternyata maksudnya bukan begitu.

Ibu lalu tertawa.

“Nanti kamu juga ngerti.”

Lagi-lagi nanti.

Aku pikir kata itu memang kata kesukaan Ibu.

Kalau ada perlombaan kata yang paling sering diucapkan, mungkin Ibu menang.

Nanti.

Sebentar.

Tidak apa-apa.

Tiga kata itu paling sering keluar dari mulut Ibu.

Kadang aku ingin mengganti kata “nanti” dengan “sekarang”.

Supaya semuanya cepat.

Kalau Ibu bilang,

“Nanti makan.”

Aku ingin,

“Sekarang makan.”

Kalau Ibu bilang,

“Nanti tidur.”

Aku ingin,

“Sekarang tidur.”

Kalau Ibu bilang,

“Nanti kita pergi.”

Aku ingin,

“Sekarang pergi.”

Tapi Ibu tidak pernah suka kalau aku terburu-buru.

Katanya tidak semua hal harus cepat.

Aku bilang,

“Kenapa?”

Ibu menjawab,

“Karena yang cepat belum tentu sampai dengan baik.”

Aku tidak tahu maksudnya.

Menurutku kalau kita mau sampai, ya tinggal jalan.

Kalau lambat, malah lama.

Tapi mungkin Ibu tahu lebih banyak dariku.

Ibu memang tahu banyak hal.

Dia tahu kapan hujan akan turun.

Dia tahu kapan nasi sudah matang.

Dia tahu kalau aku sedang berbohong.

Dia tahu kalau aku diam-diam makan permen.

Dia tahu kalau aku sedang sedih walaupun aku bilang tidak.

Kadang aku pikir Ibu punya mata di belakang kepala.

Aku pernah berdiri di belakangnya ketika dia sedang memasak.

Aku mengangkat tangan pelan-pelan.

Aku mau mengambil kerupuk.

Belum sempat menyentuh toples, Ibu berkata,

“Jangan.”

Aku langsung menarik tangan.

Aku bertanya,

“Ibu lihat?”

Ibu tidak menoleh.

“Tidak.”

“Terus tahu?”

“Insting Ibu.”

Aku curiga.

Menurutku Ibu bohong.

Tidak mungkin orang punya insting untuk tahu kerupuk.

Aku mencoba lagi besoknya.

Ibu tetap tahu.

Akhirnya aku menyerah.

Aku makan kerupuk setelah makan malam.

Ibu bilang,

“Bagus.”

Aku bilang,

“Aku bukan anak kecil.”

Ibu tertawa.

“Kalau bukan anak kecil, kenapa harus sembunyi-sembunyi?”

Aku tidak punya jawaban.

Jadi aku diam.

Aku memang sering diam kalau tidak punya jawaban.

Tapi diamku tidak pernah lama.

Lima menit paling lama.

Setelah itu aku akan menemukan sesuatu untuk dibicarakan.

Kadang dengan Ibu.

Kadang dengan Ayah.

Kadang dengan Momo.

Kadang dengan diriku sendiri.

Momo paling sabar.

Dia tidak pernah menyela.

Kalau aku cerita panjang, dia tetap mendengarkan.

Kalau aku cerita pendek, dia juga tetap mendengarkan.

Kalau aku menangis, dia tidak bilang,

“Sudah.”

Aku suka itu.

Aku tidak suka kata “sudah”.

Sudah makan.

Sudah tidur.

Sudah menangis.

Sudah marah.

Sudah.

Seolah-olah perasaan bisa disuruh berhenti begitu saja.

Kalau aku sedang sedih, aku tidak mau disuruh berhenti sedih.

Aku cuma mau ditemani.

Ibu kadang mengerti.

Kadang tidak.

Tapi aku tahu Ibu berusaha.

Aku juga berusaha.

Begitulah seharusnya orang yang saling sayang, kata Ibu.

Tidak harus selalu mengerti.

Yang penting mau mencoba.

Aku tidak tahu apakah semua orang seperti itu.

Aku cuma tahu Ibu dan aku.

Kami sering bertengkar karena hal-hal kecil.

Aku pernah marah karena Ibu tidak membelikanku permen.

Ibu bilang aku sudah makan terlalu banyak permen.

Aku bilang,

“Cuma satu.”

Ibu bilang,

“Kemarin juga satu.”

Aku bilang,

“Besok aku tidak makan.”

Ibu menjawab,

“Kamu selalu bilang begitu.”

Aku kesal.

Aku masuk kamar.

Aku membanting pintu.

Tidak keras.

Sedikit saja.

Tapi Ibu tetap datang.

“Nina.”

Aku diam.

“Nina.”

Aku tetap diam.

Ibu mengetuk.

Tok.

Tok.

Tok.

Aku tidak menjawab.

Ibu membuka pintu sedikit.

“Kamu marah?”

Aku bilang,

“Tidak.”

“Kalau tidak marah, kenapa pintunya dibanting?”

“Pintunya capek.”

Ibu diam.

Aku menunggu dia marah.

Tapi dia malah tertawa.

Aku akhirnya ikut tertawa.

Aku tidak bisa lama-lama marah kepada Ibu.

Aneh.

Kalau Ayah yang membuatku kesal, aku bisa pura-pura tidak bicara lebih lama.

Tapi kalau Ibu, entah kenapa sulit.

Mungkin karena Ibu selalu punya cara untuk membuatku merasa bersalah.

Bukan sengaja.

Mungkin.

Misalnya ketika aku marah, Ibu akan duduk di ujung tempat tidur.

Dia tidak bicara.

Dia hanya menunggu.

Lama-lama aku merasa tidak enak.

Aku akan bilang,

“Maaf.”

Ibu bertanya,

“Kenapa minta maaf?”

Aku bilang,

“Karena aku marah.”

Ibu menggeleng.

“Kamu boleh marah.”

“Terus?”

“Yang penting jangan menyakiti.”

Aku berpikir.

“Kalau ngomong keras?”

“Tidak apa-apa.”

“Kalau banting pintu?”

Ibu mengangkat alis.

“Kalau terlalu keras, pintunya yang sakit.”

Aku tertawa.

Ibu juga tertawa.

Begitu saja.

Masalah selesai.

Aku suka cara Ibu menyelesaikan masalah.

Tidak selalu dengan kata-kata.

Kadang hanya dengan duduk di sebelahku.

Kadang dengan mengusap rambutku.

Kadang dengan membuat teh.

Kadang dengan membiarkan aku diam.

Aku pernah bertanya,

“Ibu nggak capek?”

Ibu menjawab,

“Capek.”

Aku kaget.

“Terus kenapa masih mau?”

Ibu menatapku.

“Mau apa?”

“Jadi Ibu.”

Ibu tertawa.

Lalu dia mencubit pipiku.

“Karena kamu anak Ibu.”

Aku tidak tahu kenapa jawaban itu membuatku senang.

Mungkin karena sederhana.

Aku anak Ibu.

Selesai.

Tidak perlu alasan lain.

Aku suka menjadi anak Ibu.

Walaupun Ibu sering melarang.

Tidak boleh lari.

Tidak boleh terlalu banyak permen.

Tidak boleh main sampai malam.

Tidak boleh keluar sendirian.

Tidak boleh dekat jendela terlalu lama.

Tidak boleh naik ke kursi.

Tidak boleh bermain saat hujan.

Tidak boleh tidur terlalu larut.

Tidak boleh.

Tidak boleh.

Tidak boleh.

Kadang aku pikir Ibu punya buku khusus yang isinya semua hal yang tidak boleh kulakukan.

Aku pernah mencari buku itu.

Tidak ketemu.

Mungkin disimpan di tempat rahasia.

Aku akan mencarinya lagi.

Aku suka mencari barang.

Pernah suatu hari aku mencari pensilku sampai satu rumah.

Aku membongkar tas.

Laci.

Bawah tempat tidur.

Lemari.

Sofa.

Akhirnya ketemu di belakang telingaku.

Aku sendiri yang menyelipkannya di sana.

Ibu tertawa sampai matanya berair.

Aku malu.

Aku bilang,

“Jangan ketawa.”

Ibu bilang,

“Maaf.”

Tapi tetap ketawa.

Aku ikut tertawa.

Kalau dipikir-pikir, banyak hal yang membuat kami tertawa.

Hal-hal kecil.

Kadang tidak penting.

Tapi aku ingat.

Aku ingat semuanya.

Aku ingat bagaimana Ibu memotong buah.

Aku ingat bagaimana dia meniup makanan kalau terlalu panas.

Aku ingat suara sandal Ibu ketika berjalan.

Aku bahkan tahu suara sandal Ibu kalau dia sedang terburu-buru.

Kalau langkahnya cepat dan berat, berarti dia sedang punya banyak pikiran.

Kalau pelan, berarti dia sedang lelah.

Kalau hampir tidak terdengar, berarti dia sedang sedih.

Aku bisa tahu hanya dari suara.

Lihat selengkapnya