Warnanya putih.
Sebenarnya bukan putih sekali.
Lebih seperti putih yang agak abu-abu kalau kena cahaya.
Ibu bilang warnanya putih.
Aku bilang abu-abu.
Kami berdebat sebentar.
Ibu akhirnya bilang,
“Ya sudah, putih abu-abu.”
Aku menang.
Walaupun sebenarnya aku tidak tahu aku menang apa.
Tapi tidak apa-apa.
Menang sedikit tetap menang.
Sepatu itu ada garis kecil warna biru di sampingnya.
Aku suka sekali.
Aku bahkan tidur sambil memikirkan sepatu itu.
Aku taruh di dekat tempat tidur sebelum tidur.
Aku lihat beberapa kali.
Aku tidak tahu kenapa aku suka melihatnya.
Mungkin karena sepatu baru membuatku merasa seperti seseorang yang baru.
Padahal aku tetap Nina.
Tetap suka bertanya.
Tetap suka makan.
Tetap suka lari.
Tetap dimarahi Ibu.
Tetap takut kalau rumah terlalu sepi.
Tapi sepatu baru membuat semuanya terasa berbeda.
Aku langsung ingin pergi.
Ke mana saja.
Aku ingin berjalan jauh.
Aku ingin menginjak jalanan.
Aku ingin melihat orang.
Aku ingin melihat toko.
Aku ingin membeli sesuatu.
Walaupun aku tidak punya uang.
Tidak apa-apa.
Aku bisa cuma melihat.
Kadang melihat saja sudah menyenangkan.
Aku pernah bilang begitu kepada Ibu.
Ibu sedang melipat baju waktu itu.
Aku menunjukkan sepatuku.
“Bagus, kan?”
Ibu melihat.
“Bagus.”
“Besok aku mau pakai.”
Ibu mengangguk.
Aku bertanya,
“Boleh?”
Ibu berhenti melipat.
“Ke mana?”
“Sekolah.”
Ibu tidak langsung menjawab.
Aku menunggu.
Lalu Ibu bilang,
“Lihat nanti.”
Aku tidak suka jawaban itu.
Aku bilang,
“Kenapa lihat nanti?”
Ibu tersenyum.
“Pokoknya nanti.”
Aku melihat sepatu lagi.
Aku tidak mau bertanya lebih banyak.
Aku takut sepatu itu akhirnya tidak jadi dipakai.
Jadi aku diam.
Aku memang begitu.
Kalau ada sesuatu yang sangat kuinginkan, aku jadi takut bertanya terlalu banyak.
Takut jawabannya tidak sesuai yang kuinginkan.
Aku lebih suka berharap diam-diam.
Kalau ternyata dapat, aku senang.
Kalau tidak, aku bisa pura-pura tidak terlalu ingin.
Padahal ingin sekali.
Sepatu itu aku dapat dari Ayah.
Ayah membawanya pulang dalam kotak.
Aku kira isinya mainan.
Aku membuka sedikit.
Aku melihat warna putih.
Aku langsung tahu.
Sepatu.
Aku berteriak.
Ayah kaget.
Ibu datang dari dapur.
“Ada apa?”
Aku bilang,
“Ayah beli sepatu!”
Ibu melihat Ayah.
Ayah mengangkat kedua tangannya.
“Bukan saya yang minta.”
Aku memeluk kotaknya.
“Buat aku?”
Ayah mengangguk.
Aku tidak tahu kenapa aku ingin menangis.
Bukan karena sedih.
Aku cuma terlalu senang.
Aku memeluk Ayah.
Ayah tertawa.
“Coba dulu.”
Aku duduk di lantai.
Aku membuka kotak.
Bau sepatu baru langsung keluar.
Aku suka bau itu.
Bau seperti sesuatu yang belum pernah dipakai.
Aku memasukkan kaki.
Kebesaran sedikit.
Aku bilang,
“Pas.”
Ibu langsung tahu.
“Kebesaran.”
Aku bilang,
“Pas.”
Ibu tertawa.
Ayah bilang,
“Kalau pas sekarang, nanti kekecilan.”
Aku bilang,
“Nanti kakiku yang besar.”
Ayah tertawa.
Ibu menggeleng.
Aku berdiri.
Aku berjalan keliling rumah.
Tidak.
Bukan berjalan.
Aku berlari.
Sepatu baruku berbunyi sedikit di lantai.
Tok.
Tok.
Tok.
Ibu langsung bilang,
“Jangan lari!”
Aku berhenti.
Aku melihat sepatu.
Sepatu tidak kenapa-kenapa.
Aku berjalan pelan.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku tersenyum.
Aku suka suaranya.
Sepatu baru memang punya suara sendiri.
Aku ingin semua orang tahu aku punya sepatu baru.
Tapi tidak usah bilang.
Biar mereka lihat sendiri.
Aku bahkan membayangkan masuk ke sekolah dengan sepatu itu.
Teman-temanku pasti melihat.
Mungkin ada yang bilang bagus.
Mungkin ada yang bertanya beli di mana.
Aku akan menjawab,
“Hadiah.”
Lalu mereka pasti bilang,
“Dari siapa?”
Aku akan bilang,
“Ayah.”
Mereka mungkin iri.
Aku tidak akan mengejek.
Aku cuma akan tersenyum.
Sedikit saja.
Supaya tidak terlihat sombong.
Aku suka membayangkan sekolah.
Aku suka membayangkan halaman sekolah.
Aku suka membayangkan suara anak-anak.
Suara sepatu.
Suara guru.
Suara kursi digeser.
Suara orang tertawa.
Aku suka semuanya.
Aku suka suara banyak orang.
Walaupun Ibu tidak terlalu suka rumah yang berisik, sekolah berbeda.
Sekolah memang harus berisik.
Kalau sekolah sepi, pasti aneh.
Aku tidak tahu kapan terakhir kali sekolah terasa seperti itu.
Kadang aku mencoba mengingat.
Aku ingat papan tulis.
Aku ingat bau kapur.
Aku ingat meja.
Aku ingat tas.
Aku ingat botol minum.
Aku ingat rambut seseorang yang selalu dikepang dua.
Aku ingat suara bel.
Aku ingat hujan.
Aku ingat...
Lalu berhenti.
Ada bagian yang hilang.
Aku tidak tahu.
Mungkin aku lupa.
Aku sering lupa.
Ibu bilang tidak apa-apa.
Katanya semua orang bisa lupa.
Aku pernah bertanya,
“Kalau lupa semuanya gimana?”
Ibu diam.
Aku kira dia tidak mendengar.
Tapi dia menjawab,
“Tidak mungkin.”
Aku bertanya lagi,
“Kenapa?”
“Karena ada hal-hal yang tinggal meskipun kita lupa.”
Aku tidak mengerti.
Tapi mungkin benar.
Aku tidak ingat semua hal tentang sekolah.
Tapi kalau aku memejamkan mata, aku masih bisa mencium bau hujan di halaman.
Aku masih bisa mendengar suara anak-anak.
Aku masih bisa membayangkan seragam.
Aku masih bisa melihat sepatu-sepatu berbaris.
Mungkin ingatan memang begitu.
Tidak perlu lengkap untuk tetap terasa nyata.
Aku pernah mencoba memakai sepatu baru sambil membayangkan pergi sekolah.
Aku berdiri di depan pintu.
Aku pakai tas.
Aku pakai sepatu.
Aku bahkan memakai kaus kaki.
Ibu melihatku.
“Kamu mau ke mana?”
“Sekolah.”
Ibu diam.
Aku tertawa.
“Bercanda.”
Ibu tidak tertawa.
Aku jadi ikut diam.
Lalu Ibu datang mendekat.
Dia berjongkok di depanku.
Merapikan tali sepatuku.
Tangannya berhenti sebentar.
Aku melihat wajahnya.
Ada sesuatu di sana.
Aku tidak tahu apa.
Aku bertanya,
“Kenapa?”
Ibu menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Aku mulai bosan dengan jawaban itu.
Aku bilang,
“Ibu selalu bilang tidak apa-apa.”
Ibu tersenyum.
“Karena memang tidak apa-apa.”
“Kalau begitu kenapa wajah Ibu begitu?”
Ibu menyentuh pipiku.
“Wajah Ibu kenapa?”
“Kayak mau nangis.”
Ibu tertawa kecil.
“Tidak.”
Aku yakin dia bohong.
Tapi aku tidak memaksa.
Ibu berdiri.
Aku melihat tali sepatuku.
Rapi.
Aku suka kalau Ibu yang mengikat.
Kalau aku sendiri, selalu terlalu longgar.
Aku pernah tersandung karena tali sepatuku sendiri.
Ibu bilang,
“Makanya belajar.”
Aku bilang,
“Nanti.”
Ibu langsung melihatku.
Aku tertawa.
“Kok lihat begitu?”
“Karena kamu suka bilang nanti.”
Aku tidak bisa membantah.
Jadi aku diam.
Sepatu baru itu akhirnya tidak kupakai keluar hari itu.
Aku cuma memakainya di rumah.
Aku berjalan dari kamar ke ruang tamu.
Dari ruang tamu ke dapur.
Dari dapur kembali ke kamar.
Aku membuat rute sendiri.
Aku menyebutnya perjalanan jauh.
Momo ikut.
Aku taruh dia di kursi.
Aku bilang,
“Kita mau pergi.”
Momo diam.
Aku bilang,
“Kamu jangan takut.”
Dia tetap diam.
Aku pakai tas kecil.
Isinya tidak banyak.
Satu buku.
Satu pensil.
Satu botol minum kosong.
Dua biskuit.
Aku tidak tahu kenapa membawa botol kosong.
Mungkin nanti ada air.
Aku berdiri di depan pintu.
Aku memegang gagang.
Aku membuka sedikit.