Nina

Bear Winter
Chapter #4

Ayah Pulang Terlambat

Ayah sering pulang terlambat.


Aku tidak tahu kenapa orang dewasa selalu punya alasan untuk pulang terlambat.


Kadang karena pekerjaan.


Kadang karena macet.


Kadang karena ada urusan.


Kadang karena katanya sebentar lagi.


Aku tidak suka kata sebentar lagi.


Menurutku sebentar itu lima menit.


Tapi kalau Ayah bilang sebentar lagi, bisa lama sekali.


Aku pernah duduk di depan pintu sambil menunggu.


Aku memakai piyama.


Rambutku sudah berantakan.


Mataku sudah mengantuk.


Tapi aku tidak mau tidur.


Aku ingin menunggu Ayah pulang.


Ibu bilang,


“Tidur saja.”


Aku menggeleng.


“Ayah belum pulang.”


“Nanti kalau Ayah pulang, Ibu bangunkan.”


Aku tetap menggeleng.


“Aku mau tunggu.”


Ibu duduk di sampingku.


“Kamu ngantuk.”


“Tidak.”


Ibu melihat mataku.


Aku tahu dia tahu aku bohong.


“Kalau begitu kenapa matamu merah?”


Aku mengusap mata.


“Kelilipan.”


Ibu tertawa kecil.


“Kelilipan dari tadi?”


Aku mengangguk.


Ibu menghela napas.


Aku tidak suka kalau Ibu menghela napas.


Biasanya setelah itu dia akan menyuruhku tidur.


Tapi malam itu dia tidak.


Dia hanya duduk di sampingku.


Kami sama-sama melihat pintu.


Aku suka menunggu kalau ada teman.


Walaupun temannya diam.


Aku dan Ibu tidak banyak bicara.


Kami hanya menunggu.


Aku kadang melihat jam.


Jarumnya bergerak.


Pelan sekali.


Aku pernah berpikir jam sengaja bergerak lambat kalau seseorang sedang menunggu.


Tapi kalau aku sedang bermain, jam bisa cepat sekali.


Tidak adil.


Aku pernah bilang kepada Ayah.


Ayah tertawa.


“Jam tidak punya perasaan.”


Aku bilang,


“Punya.”


“Dari mana?”


“Kalau tidak punya perasaan, kenapa kadang cepat?”


Ayah diam.


Aku merasa menang.


Tapi Ayah kemudian bilang,


“Karena kamu yang merasa begitu.”


Aku tidak suka jawaban itu.


Tapi mungkin benar.


Mungkin waktu memang tidak pernah berubah.


Yang berubah hanya perasaan kita.


Kalau sedang senang, waktu terasa pendek.


Kalau sedang menunggu, waktu terasa panjang.


Kalau sedang sedih, waktu rasanya tidak bergerak sama sekali.


Aku pernah mengalami itu.


Aku tidak ingat kapan.


Tapi aku ingat rasanya.


Seperti duduk di satu tempat terlalu lama.


Seperti menunggu seseorang membuka pintu.


Seperti mendengar suara dari jauh tetapi tidak bisa mendekat.


Aku tidak suka perasaan itu.


Jadi aku tidak memikirkannya terlalu lama.


Aku lebih suka memikirkan Ayah.


Ayah kalau pulang biasanya membawa sesuatu.


Tidak selalu.


Kadang cuma dirinya sendiri.


Kadang roti.


Kadang buah.


Kadang makanan yang aku suka.


Pernah suatu malam Ayah membawa martabak.


Aku langsung senang.


Ibu bilang,


“Sudah malam.”


Aku bilang,


“Cuma sedikit.”


Ibu melihat Ayah.


Ayah melihat Ibu.


Aku tahu mereka sedang bicara tanpa suara.


Akhirnya Ibu mengambil piring.


“Sedikit.”


Aku langsung duduk.


Ayah tertawa.


Aku makan dua potong.


Ibu bilang,


“Katanya sedikit.”


Aku menunjuk perut.


“Ini sedikit.”


Ibu tertawa.


Ayah juga.


Aku suka kalau kami makan bersama.


Walaupun cuma martabak.


Walaupun sudah malam.


Walaupun Ibu mengomel karena aku makan terlalu banyak.


Aku suka.


Aku suka tiga piring di meja.


Tiga gelas.


Tiga sendok.


Tiga orang.


Rasanya lengkap.


Aku tidak tahu kenapa kata lengkap terasa penting.


Mungkin karena aku suka sesuatu yang lengkap.


Aku tidak suka puzzle yang hilang satu bagian.


Aku tidak suka cerita yang berhenti di tengah.


Aku tidak suka lagu yang tiba-tiba mati.


Aku juga tidak suka orang yang pergi tanpa bilang.


Ayah pernah pergi tanpa bilang.


Bukan pergi jauh.


Cuma keluar sebentar.


Tapi aku tetap kesal.


Aku bertanya kepada Ibu,


“Ayah ke mana?”


Ibu bilang,


“Keluar.”


“Ke mana?”


“Tidak tahu.”


Aku mengerutkan dahi.


“Kok Ibu tidak tahu?”


Ibu tersenyum.


“Mungkin nanti pulang.”


Aku bilang,


“Kalau nanti lama?”


Ibu tidak menjawab.


Aku duduk di sofa.


Aku menunggu.


Aku melihat pintu.


Aku mendengarkan suara dari luar.


Setiap ada suara motor, aku berdiri.


Bukan Ayah.


Setiap ada suara pintu rumah orang lain, aku menoleh.


Bukan Ayah.


Setiap ada langkah di depan rumah, aku menahan napas.


Bukan Ayah.


Aku mulai kesal.


Aku bilang kepada Ibu,


“Kalau Ayah pulang, aku mau marah.”


Ibu tertawa.


“Kenapa?”


“Karena pergi tidak bilang.”


“Kalau nanti Ayah minta maaf?”


Aku berpikir.


“Ya sudah.”


Ibu tertawa.


Aku memang gampang luluh.


Aku tahu.


Ayah juga tahu.


Kalau dia pulang membawa makanan, marahku biasanya selesai.


Mungkin aku memang mudah dibeli.


Tapi aku tidak peduli.


Aku suka makanan.


Dan aku suka Ayah pulang.


Jadi tidak ada masalah.


Ketika pintu akhirnya terbuka, aku langsung tahu.


Aku tahu dari suara kunci.


Aku tahu dari langkah.


Aku tahu dari suara pintu yang dibuka pelan.


Aku berdiri.


Ayah masuk.


Dia terlihat capek.


Aku ingin marah.


Tapi aku tidak jadi.


Aku cuma bilang,


“Ayah.”


Ayah tersenyum.


“Iya?”


“Kenapa lama?”


Ayah melepas sepatu.


“Maaf.”


Aku mengangguk.


“Bawa apa?”


Ayah tertawa.


“Dasar.”


Dia mengeluarkan sesuatu dari tas.


Aku langsung lupa mau marah.


Roti.


Aku mengambilnya.


“Buat aku?”


Ayah mengangguk.


Aku memeluknya.


Aku pikir orang yang pulang membawa sesuatu memang sulit untuk dimarahi.


Ibu hanya menggeleng.


“Kamu jangan biasakan dia begitu.”


Aku pura-pura tidak dengar.


Aku makan roti.


Ayah duduk.


Ibu membuatkan minum.


Kami bertiga ada di ruang tamu.


Aku suka malam seperti itu.


Tidak ada yang istimewa.


Tapi semuanya ada.


Aku duduk di lantai.


Ayah di sofa.


Ibu di sebelahnya.


Televisi menyala.


Aku tidak tahu acara apa.


Aku tidak menonton.


Aku hanya suka suaranya.


Kadang aku melihat Ayah.


Dia sedang menonton.


Kadang aku melihat Ibu.


Dia sedang melihat Ayah.


Aku tidak tahu kenapa.


Mungkin Ibu juga suka memastikan Ayah benar-benar sudah pulang.


Aku mengerti perasaan itu.


Lihat selengkapnya