Nina

Bear Winter
Chapter #5

Kursi yang Kosong

Kursi yang Kosong


Aku tidak suka kursi kosong.


Entah kenapa.


Menurutku kursi seharusnya dipakai.


Kalau tidak dipakai, untuk apa ada di sana?


Di rumah kami ada tiga kursi di meja makan.


Kursi Ibu.


Kursi Ayah.


Kursiku.


Aku tahu itu karena Ibu selalu duduk di sebelah kiri.


Ayah di sebelah kanan.


Aku di tengah.


Kadang aku pindah-pindah.


Kalau sedang ingin dekat Ibu, aku duduk di sebelahnya.


Kalau sedang ingin dekat Ayah, aku duduk di sebelahnya.


Tapi biasanya aku di tengah.


Aku suka di tengah.


Dari sana aku bisa melihat keduanya.


Kalau Ibu bicara, aku bisa melihat Ibu.


Kalau Ayah bicara, aku bisa melihat Ayah.


Kalau mereka bicara satu sama lain, aku bisa ikut mendengar.


Aku suka mendengar orang yang kusayang bicara.


Walaupun kadang aku tidak mengerti.


Orang dewasa punya banyak kata yang aneh.


Mereka sering bicara tentang uang.


Tentang pekerjaan.


Tentang rumah.


Tentang sesuatu yang katanya nanti.


Aku tidak suka kata nanti.


Tapi orang dewasa sepertinya suka sekali menggunakannya.


"Nanti."


"Nanti saja."


"Nanti kalau sudah..."


"Nanti kita lihat."


"Nanti."


Aku sering berpikir mungkin orang dewasa memang tinggal di masa nanti.


Kalau aku, aku tinggal di sekarang.


Kalau lapar, aku makan.


Kalau ngantuk, aku tidur.


Kalau senang, aku tertawa.


Kalau sedih, aku menangis.


Selesai.


Tidak serumit mereka.


Aku pernah bilang kepada Ayah,


"Orang dewasa susah."


Ayah tertawa.


"Kenapa?"


"Karena banyak pikiran."


Ayah mengangguk.


"Memang."


Aku bertanya,


"Kalau sudah besar, aku juga begitu?"


Ayah diam sebentar.


"Mungkin."


Aku tidak suka jawaban itu.


Aku tidak mau punya banyak pikiran.


Aku cuma mau punya banyak cerita.


Cerita tentang sekolah.


Cerita tentang sepatu.


Cerita tentang Momo.


Cerita tentang Ibu.


Cerita tentang Ayah.


Aku ingin hidupku penuh cerita yang bisa diceritakan lagi.


Tapi ada beberapa cerita yang tidak pernah kuceritakan.


Misalnya tentang kursi kosong.


Aku pernah melihat kursi Ayah kosong sepanjang sore.


Ibu sedang di dapur.


Aku duduk di kursiku.


Aku melihat kursi itu.


Aku tidak tahu kenapa.


Aku cuma melihat.


Kursinya tidak berbeda dari biasanya.


Kayunya masih sama.


Bantal duduknya masih sama.


Ada sedikit bekas goresan di bagian samping.


Aku yang membuatnya.


Waktu itu aku sedang bermain mobil-mobilan.


Mobilku menabrak kaki kursi.


Aku pikir kursinya akan marah.


Ternyata tidak.


Aku tertawa waktu itu.


Ayah bilang,


"Jangan rusakkan kursi."


Aku bilang,


"Kan kursinya tidak sakit."


Ayah menggeleng.


Sekarang aku melihat goresan itu.


Aku menyentuhnya.


Aku ingat Ayah.


Aneh.


Benda kecil bisa membuat seseorang muncul di kepala kita.


Aku pernah bertanya kepada Ibu,


"Kalau barang rusak, bisa diperbaiki?"


Ibu bilang,


"Sebagian."


"Kalau semuanya?"


Ibu tersenyum.


"Belum tentu."


Aku tidak suka jawaban itu.


Aku ingin semua bisa diperbaiki.


Kalau mainanku rusak, diperbaiki.


Kalau sepatu sobek, diperbaiki.


Kalau meja patah, diperbaiki.


Kalau hati sakit...


Aku tidak tahu.


Aku belum pernah melihat hati.


Mungkin bentuknya seperti bola.


Mungkin seperti batu.


Mungkin merah.


Aku pernah menggambar hati di buku.


Ibu bilang gambarku bagus.


Padahal jelek.


Aku tahu.


Tapi aku senang Ibu bilang begitu.


Ibu selalu bilang gambaranku bagus.


Bahkan ketika aku menggambar manusia dengan tangan yang terlalu panjang.


Ayah bilang,


"Itu siapa?"


Aku jawab,


"Ayah."


Ayah tertawa.


"Kenapa tangannya panjang?"


"Supaya bisa peluk aku."


Ayah langsung memelukku.


Aku tertawa.


Aku suka kalau jawabanku membuat Ayah memelukku.


Mungkin aku sering sengaja.


Tapi tidak apa-apa.


Aku anak kecil.


Aku boleh sedikit nakal.


Hari itu Ayah tidak pulang.


Setidaknya sampai aku tidur.


Aku tidak tahu kenapa.


Ibu bilang,


"Ayah ada urusan."


Aku bertanya,


"Sampai malam?"


Ibu mengangguk.


Aku bertanya,


"Besok pulang?"


Ibu bilang,


"Iya."


Aku mengangguk.


Aku percaya.


Aku selalu percaya kepada Ibu.


Lihat selengkapnya