Bukan karena hujannya.
Aku suka suara hujan.
Aku suka melihat air jatuh dari atap.
Aku suka bau tanah setelah hujan.
Aku juga suka duduk dekat jendela sambil melihat jalan yang basah.
Yang tidak kusuka adalah setelah hujan.
Rumah jadi terlalu sunyi.
Aku tidak tahu kenapa.
Mungkin karena suara hujan menutupi suara yang lain.
Suara langkah.
Suara pintu.
Suara motor.
Suara orang pulang.
Kalau hujan deras, semuanya hilang.
Aku pernah duduk di ruang tamu saat hujan turun sangat deras.
Ibu ada di dapur.
Aku bisa mendengar suaranya.
Piring.
Gelas.
Air.
Tapi aku tidak bisa mendengar suara dari luar.
Aku melihat pintu.
Tidak bergerak.
Aku melihat jendela.
Air hujan turun seperti garis-garis panjang.
Aku menunggu.
Aku tidak tahu menunggu siapa.
Mungkin Ayah.
Mungkin seseorang.
Aku cuma merasa ada sesuatu yang harus datang.
Aku bertanya kepada Ibu,
"Hujannya kapan berhenti?"
Ibu menjawab dari dapur,
"Sebentar lagi."
Aku mengerutkan dahi.
Sebentar lagi lagi.
Aku tidak suka dua kata itu.
Aku bilang,
"Ibu selalu bilang begitu."
Ibu tertawa.
"Memangnya kenapa?"
"Sebentar lagi bisa lama."
Ibu tidak menjawab.
Aku kembali melihat jendela.
Hujan masih turun.
Aku pernah berpikir hujan itu seperti orang yang sedang menangis.
Kalau begitu, mungkin langit sedang sedih.
Aku bertanya kepada Ibu,
"Langit kenapa?"
"Kenapa?"
"Menangis."
Ibu datang ke ruang tamu.
Dia duduk di sebelahku.
"Langit tidak menangis."
"Terus airnya dari mana?"
Ibu tersenyum.
"Dari awan."
"Kenapa awannya punya air?"
Ibu menghela napas.
Aku tertawa.
Aku tahu aku banyak bertanya.
Ibu bilang,
"Kamu kalau sudah bertanya tidak habis-habis."
Aku bilang,
"Kalau tidak bertanya nanti tidak tahu."
Ibu mengangguk.
"Benar."
Aku senang kalau Ibu mengakui aku benar.
Aku kembali melihat hujan.
Ada air yang mengalir di kaca.
Aku mengikuti jalurnya dengan jari.
Satu air turun.
Bertemu air lain.
Lalu turun bersama.
Aku bilang,
"Mereka teman."
Ibu melihat kaca.
"Siapa?"
"Air."
Ibu tertawa.
"Kamu aneh."
Aku tidak marah.
Aku memang sedikit aneh.
Aku suka membayangkan benda punya perasaan.
Aku pernah bicara dengan kursi.
Dengan boneka.
Dengan tanaman.
Dengan sepatu.
Dengan hujan.
Kadang aku juga bicara dengan rumah.
Tapi rumah tidak pernah menjawab.
Setidaknya tidak dengan suara.
Aku merasa rumah bisa menyimpan suara.
Kalau orang tertawa, rumah menyimpannya.
Kalau orang menangis, rumah juga menyimpannya.
Kalau orang bertengkar, rumah tahu.
Kalau orang berpelukan, rumah tahu.
Mungkin itu sebabnya aku suka rumah.
Rumah tahu banyak hal yang tidak diketahui orang lain.
Aku pernah bertanya kepada Ibu,
"Rumah bisa ingat?"
Ibu menatapku.
"Ingatan rumah?"
Aku mengangguk.
Ibu tersenyum.
"Mungkin."
Aku senang.
Berarti rumah bisa mengingatku.
Aku tidak akan benar-benar hilang dari rumah ini.
Aku bisa berlari di ruang tamu.
Aku bisa duduk di sofa.
Aku bisa tidur di kamar.
Aku bisa makan di meja.
Aku bisa tertawa.
Semua itu mungkin tinggal di dinding.
Aku suka membayangkan begitu.
Hari itu hujan sampai sore.
Aku tidak bisa keluar.
Aku sebenarnya ingin memakai sepatu baruku.
Sepatu itu sudah lama tidak kupakai.
Aku mengambilnya dari bawah tempat tidur.
Aku membersihkan sedikit bagian bawahnya.
Aku bilang,
"Jangan kotor."
Sepatuku tentu tidak menjawab.
Aku memakainya.
Aku berjalan keliling kamar.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku suka suaranya.
Aku keluar kamar.
Tok.
Tok.
Tok.
Ibu menoleh.
"Ngapain pakai sepatu di dalam?"
"Mau pergi."
Ibu melihat ke luar.
"Hujan."
Aku tahu.
"Tapi aku mau pakai."
Ibu menggeleng.
"Nanti saja."
Aku menghela napas.
Aku benci nanti.
Aku duduk di sofa.
Sepatu masih kupakai.
Ibu tidak menyuruhku melepas.
Mungkin dia tahu aku sedang sedih.
Aku menatap sepatu.
Aku bilang,
"Sepatuku bosan."
Ibu tertawa.
"Sepatumu bisa bosan?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena tidak pernah diajak pergi."