Nina

Bear Winter
Chapter #7

Aku Menunggu di Depan Pintu

Aku suka pintu rumah kami.

Bukan karena bentuknya bagus.

Pintunya biasa saja.

Warnanya juga sudah mulai pudar di beberapa bagian.

Ada bekas goresan kecil dekat gagangnya.

Itu juga ulahku.

Waktu kecil aku pernah mencoba membuka pintu dengan kunci sendiri.

Kuncinya jatuh.

Aku mengambilnya.

Lalu jatuh lagi.

Aku kesal.

Aku menggores pintunya dengan kunci.

Ibu marah.

Aku menangis.

Ayah malah tertawa.

Katanya,

"Namanya juga belajar."

Ibu bilang,

"Belajar boleh, pintunya jangan."

Aku tertawa waktu itu.

Sekarang kalau melihat bekas goresannya, aku selalu ingat mereka.

Aneh ya.

Kadang sesuatu yang kecil bisa menyimpan cerita yang besar.

Aku sering berdiri di depan pintu.

Kadang untuk menunggu Ayah.

Kadang untuk melihat siapa yang datang.

Kadang hanya karena aku ingin keluar.

Aku suka membuka pintu sedikit.

Lalu melihat halaman.

Kalau pagi, biasanya ada cahaya matahari.

Kalau sore, ada angin.

Kalau malam, gelap.

Kalau hujan, semuanya basah.

Aku paling suka sore.

Sore terasa seperti waktu yang belum selesai.

Belum malam.

Tapi siang juga sudah pergi.

Langit biasanya berubah warna.

Aku pernah bertanya kepada Ayah kenapa langit berubah.

Ayah bilang,

"Karena matahari mau pulang."

Aku percaya.

Aku pikir matahari juga punya rumah.

Aku bertanya,

"Rumahnya di mana?"

Ayah menunjuk ke langit.

"Di sana."

Aku melihat ke atas.

"Tapi rumahnya jauh."

Ayah tertawa.

"Iya."

Aku bertanya lagi,

"Kalau matahari pulang, siapa yang jaga langit?"

Ayah diam sebentar.

"Lalu malam yang jaga."

Aku mengangguk.

Aku suka jawaban Ayah.

Walaupun kadang aku tahu dia mengarang.

Tapi tidak masalah.

Aku suka cerita.

Aku suka kalau sesuatu punya alasan.

Aku suka kalau semua hal terasa masuk akal.

Mungkin itu sebabnya aku sering bertanya.

Aku ingin tahu kenapa.

Kenapa hujan turun.

Kenapa daun jatuh.

Kenapa orang pergi.

Kenapa orang pulang.

Kenapa seseorang bisa tersenyum meskipun sedang sedih.

Aku belum menemukan semua jawabannya.

Mungkin tidak akan.

Tapi aku masih suka bertanya.

Suatu sore aku duduk di depan pintu.

Ibu sedang di dapur.

Aku sudah memakai sandal.

Aku ingin keluar.

Aku bilang,

"Ibu."

"Iya?"

"Aku boleh ke depan?"

"Jangan jauh."

Aku membuka pintu.

Aku duduk di teras.

Aku melihat jalan.

Ada orang lewat.

Ada motor.

Ada anak-anak bermain.

Aku ingin ikut.

Tapi Ibu bilang jangan jauh.

Jadi aku hanya duduk.

Aku menghitung motor yang lewat.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Aku bosan.

Aku berhenti menghitung.

Lalu aku melihat seorang anak memakai sepeda.

Aku suka sepeda.

Aku ingin punya.

Aku pernah meminta kepada Ayah.

Ayah bilang,

"Nanti kalau sudah cukup besar."

Aku bilang,

"Aku sudah besar."

Ayah tertawa.

"Belum."

Aku menunjukkan tanganku.

"Lihat."

Ayah tertawa lagi.

"Itu bukan ukuran besar."

Aku kesal.

Aku bilang,

"Terus ukuran besar apa?"

Ayah menunjuk dirinya sendiri.

"Seperti Ayah."

Aku melihatnya.

Aku menggeleng.

"Enggak mau."

Ayah tertawa.

"Kenapa?"

"Karena Ayah tua."

Ibu yang sedang lewat langsung tertawa.

Ayah pura-pura marah.

"Siapa yang tua?"

Aku lari.

Aku senang melihat Ayah mengejarku.

Aku tahu dia tidak akan benar-benar menangkapku.

Atau mungkin dia sengaja membiarkanku menang.

Aku tidak tahu.

Tapi aku selalu menang.

Hari itu aku ingat.

Ketika duduk di depan pintu, aku teringat sepeda.

Aku membayangkan punya sepeda sendiri.

Warnanya biru.

Aku ingin ada keranjang kecil di depannya.

Aku ingin memasukkan boneka.

Aku ingin pergi bersama Ayah.

Aku ingin Ibu berjalan di samping.

Aku ingin kami bertiga pergi jauh.

Tidak perlu jauh sekali.

Mungkin hanya sampai taman.

Mungkin sampai toko.

Mungkin sampai tempat yang belum pernah kami datangi.

Aku hanya ingin pergi bersama.

Aku pernah bilang kepada Ibu,

"Kalau aku punya sepeda, kita pergi bertiga."

Ibu tersenyum.

"Ke mana?"

"Mana saja."

"Kalau jauh?"

"Ya jauh."

"Kalau capek?"

"Berhenti."

Lihat selengkapnya