Nina

Bear Winter
Chapter #8

Foto yang Tidak Mau Diam

Aku suka foto.

Menurutku foto itu seperti jendela kecil.

Kalau kita melihatnya, kita bisa melihat sesuatu yang sudah lewat.

Ibu punya banyak foto.

Ada foto aku waktu masih kecil.

Ada foto Ayah.

Ada foto kami bertiga.

Ada juga foto yang aku tidak tahu kapan diambil.

Aku pernah bertanya kepada Ibu,

"Kenapa banyak sekali foto?"

Ibu menjawab,

"Supaya tidak lupa."

Aku mengangguk.

Aku mengerti.

Kalau tidak ada foto, mungkin kita bisa lupa.

Aku tidak suka lupa.

Aku takut lupa.

Aku takut lupa suara.

Aku takut lupa wajah.

Aku takut lupa cara seseorang tersenyum.

Aku takut lupa hal-hal kecil.

Seperti cara Ayah memegang gelas.

Cara Ibu mengikat rambut.

Cara aku duduk sambil menggoyang-goyangkan kaki.

Hal-hal kecil itu kelihatannya tidak penting.

Tapi ternyata aku suka menyimpannya.

Suatu sore aku menemukan sebuah kotak di lemari.

Kotaknya sudah agak berdebu.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada foto-foto.

Aku langsung duduk di lantai.

Aku mengambil satu.

Aku melihat diriku sendiri.

Aku kecil sekali.

Pipiku bulat.

Rambutku pendek.

Aku memakai baju yang tidak kusuka.

Aku bertanya kepada Ibu,

"Aku dulu jelek ya?"

Ibu tertawa.

"Enggak."

Aku melihat foto lagi.

"Kenapa rambutku begitu?"

"Karena waktu itu kamu belum suka disisir."

Aku tertawa.

"Aku nakal?"

Ibu mengangguk.

"Sedikit."

Aku protes.

"Sedikit?"

Ibu tertawa.

"Sedikit banyak."

Aku mengambil foto lain.

Ada Ayah.

Dia sedang duduk.

Aku berdiri di sampingnya.

Aku melihat wajah Ayah di foto itu.

Aku tersenyum.

"Ayah kenapa lihat kamera?"

Ibu menjawab,

"Karena yang foto bilang lihat sini."

Aku mengangguk.

Aku pikir itu lucu.

Orang dewasa kalau difoto selalu disuruh melihat satu tempat.

Aku tidak suka.

Aku lebih suka melihat ke mana saja.

Aku pernah bilang kepada Ibu,

"Foto itu harus lihat orang, bukan kamera."

Ibu bertanya,

"Kenapa?"

"Supaya kelihatan sedang bicara."

Ibu diam sebentar.

Lalu tersenyum.

"Benar juga."

Aku mengambil foto lain.

Foto kami bertiga.

Aku berada di tengah.

Ayah di satu sisi.

Ibu di sisi lain.

Aku suka foto itu.

Aku terlihat sedang tersenyum.

Ayah juga.

Ibu juga.

Kami terlihat bahagia.

Aku menunjuk foto.

"Ini bagus."

Ibu mengangguk.

Aku bertanya,

"Kapan ini?"

Ibu tidak langsung menjawab.

Aku melihat wajahnya.

Dia seperti sedang mengingat sesuatu.

Aku menunggu.

Akhirnya dia berkata,

"Sudah lama."

Aku tertawa.

"Ya aku tahu lama. Aku kecil."

Ibu ikut tersenyum.

Aku mengambil foto berikutnya.

Aku melihat foto itu lama.

Ada meja makan.

Ada tiga kursi.

Ada makanan.

Ada tiga orang.

Aku tidak tahu siapa yang mengambilnya.

Aku menunjuk.

"Ini di rumah."

Ibu mengangguk.

Aku melihat kursi.

Aku suka melihat benda-benda di foto.

Kadang benda lebih jujur daripada manusia.

Kursi tidak bisa pura-pura.

Meja juga tidak.

Pintu tidak.

Jendela tidak.

Kalau mereka ada di sana, ya ada.

Kalau tidak ada, ya tidak ada.

Aku pernah bilang kepada Ayah,

"Foto tidak bisa bohong."

Ayah tertawa.

"Bisa."

Aku langsung tidak setuju.

"Enggak."

"Foto bisa dibuat supaya terlihat berbeda."

Aku mengerutkan dahi.

"Caranya?"

Ayah mengambil ponsel.

"Bisa dipotong."

Aku melihat layar.

Ayah menunjukkan foto.

Aku baru tahu.

Ternyata bagian gambar bisa dihilangkan.

Aku bilang,

"Kalau orangnya dihilangkan?"

Lihat selengkapnya