Nina

Bear Winter
Chapter #9

Sepatu Ayah

Aku punya sepasang sepatu merah.

Sepatu itu sudah agak kotor sekarang.

Bagian depannya ada sedikit warna hitam karena aku pernah menginjak tanah yang basah.

Ibu bilang sepatuku harus dicuci.

Aku bilang nanti.

Ibu bilang jangan nanti terus.

Aku bilang iya.

Tapi aku belum mencucinya.

Aku suka sepatu merahku karena waktu pertama kali membelinya, Ayah yang memilih.

Sebenarnya aku ingin sepatu warna kuning.

Aku bilang warna kuning seperti matahari.

Tapi Ayah mengambil sepatu merah dan menyuruhku mencobanya.

“Bagaimana?” tanya Ayah.

“Sedikit terlalu merah.”

Ayah tertawa.

Aku juga tertawa.

Lalu Ayah bilang, “Kalau Nina pakai, merahnya jadi bagus.”

Aku tidak tahu bagaimana caranya aku membuat warna merah jadi bagus.

Tapi aku percaya.

Jadi aku membawa sepatu itu pulang.

Sekarang sepatu itu ada di bawah tempat tidur.

Kadang aku mengeluarkannya hanya untuk melihatnya.

Ibu bilang aku tidak boleh memakai sepatu di dalam rumah.

Aku tahu.

Tapi kadang aku hanya ingin memakai sebentar.

Bukan untuk pergi.

Cuma untuk mengingat.

Aku juga punya satu kebiasaan yang mungkin aneh.

Aku suka melihat sepatu Ayah.

Sepatu Ayah biasanya diletakkan dekat pintu.

Warnanya hitam.

Tidak terlalu bersih.

Kadang ada tanah yang menempel di bawahnya.

Kalau Ayah baru pulang, sepatunya sering basah kalau sedang hujan.

Kalau sedang tidak hujan, sepatunya kadang berdebu.

Aku pernah bertanya kenapa sepatu Ayah selalu kelihatan capek.

Ayah menjawab, “Karena sepatu Ayah dipakai kerja.”

Aku bilang, “Berarti sepatu juga bisa capek?”

Ayah menjawab, “Bisa.”

Aku langsung kasihan.

Sejak saat itu, kalau Ayah pulang, aku selalu melihat sepatunya dulu.

Kalau sepatu itu ada, berarti Ayah sudah pulang.

Aku tidak perlu bertanya.

Aku hanya perlu melihat ke bawah.

Ada sepatu.

Berarti ada Ayah.

Sederhana.

Aku suka sesuatu yang sederhana.

Pagi tadi sepatu Ayah tidak ada.

Aku mencari sampai ke belakang pintu.

Tidak ada.

Aku melihat ke teras.

Tidak ada.

Aku bahkan melihat di bawah meja karena kadang Ayah meletakkannya sembarangan.

Tidak ada juga.

Aku bertanya kepada Ibu.

“Ayah pergi?”

Ibu sedang menyapu.

“Iya.”

“Pergi ke mana?”

“Kerja.”

“Pulangnya kapan?”

Ibu berhenti menyapu sebentar.

“Nanti.”

Aku tidak suka kata itu.

Tapi aku tidak marah.

Aku cuma duduk di dekat pintu.

Aku melihat tempat sepatu Ayah biasanya diletakkan.

Kosong.

Aku tidak suka tempat yang kosong.

Entah kenapa tempat kosong selalu membuatku berpikir terlalu banyak.

Aku pernah berpikir kalau sepatu bisa menunggu.

Mungkin sepatu Ayah yang tidak ada sedang berjalan di luar.

Mungkin dia sedang mengantar Ayah.

Mungkin dia juga ingin cepat pulang.

Aku membayangkan sepatu itu berjalan di jalan.

Kanan.

Kiri.

Kanan.

Kiri.

Tidak pernah berhenti.

Aku jadi tersenyum sendiri.

Ibu melihatku.

“Kamu senyum kenapa?”

“Sepatu Ayah lagi jalan.”

Ibu diam.

Aku kira Ibu tidak mendengar.

Jadi aku mengulanginya.

“Sepatunya lagi jalan mencari jalan pulang.”

Ibu tersenyum sedikit.

“Bisa saja.”

Aku suka kalau Ibu bilang begitu.

Bukan berarti Ibu percaya.

Tapi juga bukan berarti Ibu melarangku percaya.

Siang hari aku bermain dengan sepatu merahku.

Aku menaruhnya di depan pintu.

Aku membuat dua sepatu itu berjalan.

Sepatu kiri namanya Lili.

Sepatu kanan namanya Lala.

Lili dan Lala mau pergi mencari Ayah.

Mereka berjalan jauh sekali.

Melewati halaman.

Melewati jalan.

Melewati pohon mangga.

Melewati rumah orang.

Lalu mereka berhenti karena capek.

“Lala, kita istirahat,” kata Lili.

“Tidak boleh,” kata Lala.

“Kita harus menemukan Ayah.”

“Kalau capek?”

“Kalau capek, kita duduk sebentar.”

Aku suka cerita itu.

Karena menurutku semua orang boleh berhenti kalau capek.

Termasuk orang dewasa.

Aku pernah bilang itu kepada Ibu.

“Kalau Ibu capek, duduk saja.”

Ibu menjawab, “Ibu tidak apa-apa.”

Aku bilang, “Tapi kalau capek, tidak apa-apa.”

Ibu tidak menjawab.

Aku tahu kadang Ibu suka mengatakan tidak apa-apa meskipun sebenarnya ada apa-apa.

Aku belum tahu kenapa orang dewasa begitu.

Kalau aku sedih, aku bilang sedih.

Kalau aku lapar, aku bilang lapar.

Kalau aku takut, aku bilang takut.

Kalau aku rindu, aku bilang rindu.

Menurutku tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu yang sudah terasa di dalam dada.

Tapi mungkin orang dewasa punya tempat khusus untuk menyimpan perasaan.

Tempat yang tidak bisa kulihat.

Sore hari aku duduk di dekat pintu lagi.

Aku membawa buku gambar.

Aku menggambar sepatu.

Pertama aku gambar sepatu merahku.

Lihat selengkapnya