Aku pernah bertemu seorang anak perempuan yang wajahnya mirip sekali denganku.
Dia tinggal di dalam cermin kamar mandi.
Aku baru menyadarinya beberapa hari yang lalu, waktu sedang menggosok gigi. Rambutku berantakan karena baru bangun tidur. Ada bekas bantal di pipiku. Mataku masih mengantuk. Aku membuka mulut lebar-lebar supaya bisa melihat gigiku sendiri, lalu anak perempuan di dalam cermin itu ikut membuka mulut.
Aku menutup mulut.
Dia juga menutup mulut.
Aku mengangkat tangan kanan.
Dia mengangkat tangan kiri.
Aku mengerutkan dahi.
Dia juga begitu.
Aku jadi kesal.
“Kenapa kamu meniru aku terus?”
Tentu saja dia tidak menjawab.
Aku menunggu sebentar.
Mungkin dia malu.
Aku tahu rasanya malu. Kalau Ayah menyuruhku menyanyi di depan orang lain, aku suka menyembunyikan wajah di belakang baju Ibu. Jadi aku pikir anak perempuan di dalam cermin itu mungkin juga pemalu.
Aku tersenyum kepadanya.
Dia ikut tersenyum.
Akhirnya aku memaafkannya.
Aku bilang, “Namaku Nina.”
Dia tetap diam.
Aku menghela napas.
“Kalau kamu tidak mau bilang namamu, tidak apa-apa.”
Setelah itu aku melanjutkan menggosok gigi.
Sejak hari itu, aku sering melihatnya.
Kadang sebelum tidur.
Kadang setelah bangun.
Kadang ketika sedang menyisir rambut.
Dia selalu ada di sana.
Aku pernah bertanya kepada Ibu kenapa anak di dalam cermin tidak pernah pergi.
Ibu sedang merapikan handuk ketika aku bertanya.
“Karena itu bayanganmu, Nak.”
“Bayangan bisa tinggal di rumah?”
“Bisa.”
“Kalau aku pergi, dia ikut?”
“Iya.”
“Kalau aku tidur?”
“Iya.”
“Kalau aku tidak melihat cermin?”
Ibu tersenyum kecil.
“Dia tetap ada.”
Aku memikirkan jawaban itu lama sekali.
Berarti ada sesuatu yang tetap tinggal meskipun tidak sedang kita lihat.
Aku suka pikiran itu.
Karena kadang aku tidak bisa melihat Ayah, tetapi aku tetap ingin percaya Ayah ada.
Kadang Ibu pergi ke dapur dan aku tidak bisa melihatnya dari kamar. Tapi aku tidak takut. Aku tahu Ibu sedang di sana. Aku bisa mendengar suara piring, suara air, atau suara langkahnya.
Kalau Ayah tidak ada, aku juga suka membayangkan suaranya.
Kadang aku membayangkan Ayah sedang memanggil namaku dari depan pintu.
Kadang aku membayangkan Ayah sedang tertawa.
Kadang aku membayangkan tangannya mengacak rambutku sampai rambutku berantakan.
Aku tidak tahu apakah membayangkan seseorang sama dengan melihatnya.
Menurutku hampir sama.
Hanya saja kalau membayangkan, kita harus bekerja sedikit lebih keras.
Aku pernah mencoba menutup mata dan membayangkan wajah Ayah.
Pertama aku ingat rambutnya.
Lalu matanya.
Lalu senyumnya.
Aku mencoba mengingat bentuk hidungnya juga.
Aku takut ada bagian yang terlupa.
Aku membuka mata lagi dan melihat cermin.
Anak perempuan itu masih ada.
Aku menatapnya lama.
“Kalau aku lupa wajah seseorang, apa dia akan berubah?”
Dia tidak menjawab.
Aku menganggap diamnya sebagai tanda bahwa dia juga tidak tahu.
Hari itu aku memutuskan untuk berteman dengannya.
Aku memberinya nama.
Namanya Nina juga.
Aku tidak bisa memikirkan nama lain karena wajahnya sama denganku. Rasanya aneh kalau aku memanggilnya dengan nama yang berbeda.
Jadi, kalau aku sedang sendiri di kamar mandi, aku suka mengajaknya bicara.
Aku bercerita tentang sepatu merahku.
Tentang Ayah yang suka pulang terlambat.
Tentang Ibu yang kadang memasak sayur yang tidak kusukai.
Tentang kucing tetangga yang suka tidur di atas keset.
Aku bercerita banyak sekali.
Anak di dalam cermin itu mendengarkan semuanya.
Dia tidak pernah menyela.
Dia tidak pernah menyuruhku berhenti bicara.
Dia juga tidak pernah bilang ceritaku membosankan.
Aku suka teman seperti itu.
Walaupun kadang aku ingin dia menjawab.
Aku pernah bertanya, “Kamu punya Ayah juga?”
Dia hanya menatapku.
“Punya Ibu?”
Dia tetap menatapku.
“Kalau kamu sedih, siapa yang memelukmu?”
Aku terdiam setelah bertanya itu.
Aku melihat wajahku sendiri.
Entah kenapa, kali ini aku tidak ingin tersenyum.
Aku ingin sekali anak itu menjawab.
Aku ingin tahu apakah dia juga punya seseorang yang bisa memeluknya saat takut.
Aku ingin tahu apakah dia juga pernah menunggu di depan pintu.
Aku ingin tahu apakah dia juga pernah mendengar suara motor dari jauh dan berharap itu suara orang yang dirindukannya.
Tapi dia tidak menjawab apa-apa.
Aku akhirnya berkata, “Kalau tidak punya siapa-siapa, kamu boleh meminjam Ibu punyaku.”
Setelah mengatakannya, aku merasa senang.
Aku membayangkan anak itu ikut tinggal bersama kami.
Aku akan memberinya bantal.
Aku akan memberinya selimut.
Aku akan menyisakan tempat di meja makan.
Tentu saja Ibu harus memasak lebih banyak.
Aku tidak keberatan kalau lauknya bertambah.
Tapi ketika aku menceritakan rencana itu kepada Ibu, Ibu hanya tersenyum tipis.
“Memangnya dia bisa keluar dari cermin?”
“Kalau cerminnya dibuka?”
Ibu tertawa kecil.
“Cermin tidak punya pintu, Nina.”
Aku menatap cermin di kamar mandi.
Benar juga.
Aku tidak pernah melihat pintu di sana.
Hanya ada kaca yang dingin dan bingkai berwarna putih.
Aku menyentuh permukaannya.
Anak itu menyentuh bagian yang sama.
Aku menempelkan telapak tangan.
Dia juga.
Tangan kami seperti bertemu, tetapi ada sesuatu yang memisahkannya.
Aku tidak tahu apa namanya.
Mungkin kaca memang seperti itu.
Bisa memperlihatkan sesuatu tanpa benar-benar memberikan sesuatu itu kepada kita.
Aku merasa sedikit sedih.
Tapi tidak lama.
Aku sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak bisa kumiliki sepenuhnya.
Aku masih bisa melihatnya.
Itu sudah cukup.
Sore harinya Ayah pulang ketika aku sedang duduk di lantai ruang tengah.
Aku mendengar suara pintu.
Lalu suara langkah.
Aku langsung menoleh.