Aku suka hari ulang tahun.
Menurutku ulang tahun adalah hari ketika semua orang boleh merasa senang hanya karena seseorang masih bertambah besar.
Tidak harus menjadi juara kelas.
Tidak harus mendapat nilai bagus.
Tidak harus bisa melakukan sesuatu yang hebat.
Cukup bangun pagi, lalu menyadari bahwa umur kita bertambah satu angka.
Aku belum tahu kenapa umur harus bertambah setiap tahun.
Kalau aku boleh memilih, aku ingin tetap berumur seperti sekarang sedikit lebih lama.
Aku masih suka bermain di lantai.
Aku masih suka meminta Ibu menyisir rambutku.
Aku juga masih suka kalau Ayah menggendongku ketika aku sudah mengantuk, meskipun Ayah selalu bilang aku sudah semakin berat.
Tapi kalau umurku tidak bertambah, aku mungkin tidak akan pernah tahu rasanya menjadi besar.
Aku ingin tahu rasanya bisa mengambil gelas sendiri dari rak paling atas.
Aku ingin tahu rasanya pergi ke toko tanpa harus memegang tangan Ibu.
Aku ingin bisa memasak sesuatu untuk Ayah dan Ibu, meskipun aku belum tahu cara menyalakan kompor dengan benar.
Jadi, mungkin bertambah besar juga tidak buruk.
Aku hanya berharap ketika aku besar nanti, Ibu dan Ayah masih bisa mengenaliku.
Aku pernah bertanya kepada Ibu apakah wajahku akan berubah ketika aku dewasa.
Ibu sedang menyisir rambutku waktu itu.
“Tentu berubah,” jawabnya.
“Kalau begitu, Ibu masih tahu kalau itu Nina?”
Ibu berhenti menyisir.
Lalu dia menunduk dan mencium puncak kepalaku.
“Ibu akan selalu tahu.”
Aku suka jawaban itu.
Aku menyimpannya baik-baik di dalam kepala, seperti menyimpan permen di dalam saku supaya bisa dimakan nanti.
Hari ulang tahunku sebenarnya masih beberapa hari lagi.
Tapi aku sudah mulai memikirkannya sejak minggu lalu.
Aku ingin ada kue kecil, tiga lilin, dan makan malam bersama Ibu dan Ayah.
Aku tidak meminta hadiah mahal.
Aku hanya ingin sesuatu yang bisa kami lakukan bersama.
Aku pernah melihat ulang tahun anak tetangga.
Kuenya besar sekali.
Ada tulisan namanya dengan krim berwarna merah muda.
Balonnya banyak.
Orang-orang datang membawa hadiah.
Mereka menyanyi dengan keras, lalu mengambil foto berkali-kali.
Aku berdiri di dekat pagar dan memperhatikan semuanya.
Aku tidak iri.
Setidaknya aku berusaha untuk tidak iri.
Aku hanya berpikir bahwa ulang tahun seperti itu pasti menyenangkan.
Tetapi kalau terlalu banyak orang datang, mungkin kita tidak sempat berbicara dengan semua orang.
Kita harus tersenyum kepada banyak wajah, meniup lilin, membuka hadiah, lalu berterima kasih berkali-kali.
Aku tidak ingin sesibuk itu.
Aku ingin duduk dekat Ibu.
Aku ingin Ayah duduk di seberangku.
Aku ingin kami makan kue dengan sendok kecil, lalu tertawa karena ada krim yang menempel di hidung seseorang.
Kalau bisa, aku ingin Ayah yang terkena krimnya.
Ayah selalu bilang dia tidak suka makanan manis, tetapi kalau ada kue di rumah, potongannya sering menjadi lebih kecil karena dia diam-diam mengambil sedikit demi sedikit.
Aku pernah memergokinya.
Ayah bilang dia hanya memastikan kuenya masih enak.
Aku tidak tahu bagaimana cara memastikan kue tetap enak dengan memakannya berkali-kali.
Tapi Ayah memang punya banyak cara aneh untuk melakukan sesuatu.
Pagi itu aku menemukan kalender di dinding dapur.
Aku berdiri di depannya sambil menghitung hari.
Satu.
Dua.
Tiga.
Aku menghitung lagi karena takut salah.
Ibu melihatku dari dekat kompor.
“Sedang apa?”
“Menghitung.”
“Untuk apa?”
“Ulang tahunku sebentar lagi.”
Ibu menoleh ke kalender.
Lalu dia mengangguk.
“Iya.”
Aku menunggu sebentar.
Kupikir Ibu akan bertanya aku ingin kue apa atau hadiah apa.
Biasanya orang dewasa bertanya begitu kalau ulang tahun seseorang sudah dekat.
Tapi Ibu kembali memasak.
Aku mendekatinya.
“Ibu.”
“Hm?”
“Nina boleh punya kue kecil?”
Ibu berhenti mengaduk masakan.
“Boleh.”
“Pakai lilin?”
“Boleh.”
“Tiga lilin?”
Ibu tersenyum tipis.
“Bukannya umurmu bukan tiga?”
Aku menggeleng.
“Tiga lilin untuk tiga orang.”
Tangan Ibu berhenti bergerak.
Aku tidak tahu kenapa.
Aku menjelaskan supaya Ibu mengerti.
“Satu untuk Ibu, satu untuk Ayah, satu untuk Nina.
Jadi kalau ditiup, kita meniup bersama-sama.”
Ibu menaruh sendok kayu di atas piring kecil.
Kemudian dia mengusap tangannya dengan kain.
“Kalau begitu, tiga lilin.”
Aku tersenyum lebar.
Aku suka ketika orang menyetujui sesuatu yang sederhana.
Rasanya seperti membuka pintu dan menemukan matahari di luar.
Sepanjang hari aku memikirkan kue itu.
Aku ingin kue cokelat karena Ayah suka cokelat.
Aku ingin bagian atasnya diberi sedikit krim putih.
Aku tidak suka krim yang terlalu banyak karena kadang rasanya membuat tenggorokan terasa aneh.
Aku juga ingin menaruh tiga buah ceri di atasnya.
Satu untuk Ibu.
Satu untuk Ayah.
Satu untukku.
Aku membayangkan kami duduk mengelilingi meja kecil.
Ibu akan menyalakan lilin.
Ayah akan menyuruhku memejamkan mata sebelum membuat permintaan.
Aku belum tahu ingin meminta apa.
Aku pernah mendengar bahwa permintaan ulang tahun tidak boleh diberitahukan kepada orang lain.
Kalau diberitahukan, permintaannya tidak akan terkabul.
Menurutku aturan itu agak menyebalkan.
Bagaimana kalau seseorang lupa apa yang ingin dimintanya?
Bukankah lebih baik kalau ditulis di kertas?
Tapi aku tidak mau mengambil risiko.
Jadi aku memutuskan untuk memikirkannya nanti.
Sore harinya aku menggambar kue ulang tahun.
Aku menggambar sebuah kue bulat dengan tiga lilin.
Di sampingnya ada tiga piring kecil dan tiga gelas.
Aku menggambar Ibu di sebelah kiri, Ayah di sebelah kanan, dan diriku di tengah.
Aku menggambar mulut kami tersenyum.
Aku bahkan menggambar mata Ayah yang hampir tertutup ketika tertawa.
Gambar itu tidak terlalu bagus.
Kueku lebih mirip roda sepeda, dan lilinnya miring ke segala arah.
Tapi aku tetap menyukainya.
Aku membawa gambar itu kepada Ibu.
“Ibu, lihat.”
Ibu menerima kertas itu.
Dia melihatnya lama sekali.
“Ini kue ulang tahun Nina?”
“Iya.”
“Bagus sekali.”
Aku menunjuk tiga lilin di atas kue.
“Jangan lupa tiga.”
Ibu mengangguk.
Aku lalu menunjuk tiga orang di bawahnya.
“Jangan lupa ini juga.”
Ibu tidak langsung menjawab.
Aku memperhatikan wajahnya.
Ada sesuatu yang berubah di sana.
Senyumnya masih ada, tetapi matanya seperti sedang melihat sesuatu yang jauh sekali.
“Ibu?”
Ibu berkedip.
“Iya, Nak?”
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku tidak suka kalau Ibu bilang begitu sambil melihat ke tempat yang jauh.
Biasanya itu berarti ada sesuatu yang tidak bisa kusentuh, meskipun aku berdiri tepat di depannya.
Aku ingin bertanya lebih banyak, tetapi akhirnya tidak jadi.
Aku hanya meminta gambar itu dikembalikan.
Aku ingin menyimpannya di buku gambar supaya tidak hilang.
Malamnya Ayah belum pulang ketika kami makan.
Aku bertanya kepada Ibu apakah Ayah tahu ulang tahunku sudah dekat.
Ibu mengangguk.
“Ayah tahu.”
“Ayah akan pulang?”
Ibu diam sebentar.
“Semoga.”
Aku memandangi nasi di piringku.
Aku tidak suka kata semoga.
Kata itu mirip nanti, hanya saja terdengar lebih halus.
Seolah-olah sesuatu sedang berdiri di depan pintu, tetapi belum memutuskan apakah akan masuk.
Aku ingin kata yang lebih jelas.
Aku ingin Ibu bilang Ayah akan pulang.
Aku ingin mendengar bahwa kami akan makan bersama.