Nina

Bear Winter
Chapter #12

Surat Untuk Ayah

Aku baru tahu kalau surat bisa menyimpan kata-kata yang tidak berani kita ucapkan.

Aku mengetahuinya ketika menemukan beberapa lembar kertas kosong di dalam laci meja Ibu.

Kertasnya putih, sedikit kusut di bagian ujung, dan baunya seperti lemari yang sudah lama tidak dibuka.

Aku mengambil satu lembar untuk menggambar, tetapi kemudian aku berpikir bahwa kertas itu mungkin lebih cocok dipakai untuk menulis surat.

Aku pernah melihat orang menulis surat di televisi.

Mereka biasanya duduk di dekat jendela, memegang pena, lalu menulis sambil memandang jauh.

Kadang mereka berhenti lama sekali, seolah-olah sedang menunggu kata-kata datang sendiri. Setelah selesai, mereka melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop.

Aku tidak mengerti kenapa mereka tidak langsung mengatakan saja apa yang ingin disampaikan.

Kalau rindu, kenapa tidak bilang rindu?

Kalau sayang, kenapa tidak bilang sayang?

Kalau ingin seseorang pulang, kenapa tidak memanggilnya?

Tapi mungkin ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan semudah itu.

Aku masih kecil. Jadi, ada banyak hal yang belum kumengerti.

Aku mengambil selembar kertas, sebuah pena biru, lalu duduk di dekat jendela kamar.

Aku ingin menulis surat untuk Ayah. Sudah lama aku ingin bercerita kepadanya tanpa harus menunggu sampai dia pulang.

Aku ingin Ayah tahu banyak hal yang terjadi di rumah, bahkan hal-hal kecil yang mungkin menurut orang dewasa tidak penting.

Aku menulis namanya di bagian paling atas.

Ayah.

Hanya itu.

Aku memandangi kata tersebut cukup lama. Ternyata menulis nama seseorang terasa berbeda dengan memanggilnya.

Kalau aku memanggil Ayah, suaraku akan keluar dan memenuhi ruangan. Kalau aku menulis namanya, suaraku seperti tinggal di atas kertas.

Aku menyentuh tulisan itu dengan ujung jari.

Lalu aku mulai menulis.

Ayah, hari ini Nina bangun pagi.

Aku berhenti.

Kalimat itu terlalu biasa.

Ayah mungkin sudah tahu kalau aku sering bangun pagi. Atau mungkin Ayah tidak tahu karena selama ini aku lebih sering bangun ketika dia sudah pergi. Aku mencoret kalimat itu pelan-pelan.

Aku mencoba lagi.

Ayah, Nina kangen.

Aku menatap tulisan itu.

Rasanya aneh melihat kata kangen berada di atas kertas.

Biasanya aku mengucapkannya sambil memeluk Ibu atau ketika melihat Ayah pulang setelah lama tidak ada di rumah.

Kali ini aku menulisnya untuk seseorang yang tidak sedang berada di depanku.

Aku hampir mencoret kalimat itu juga.

Tapi aku tidak jadi.

Aku membiarkannya tetap di sana.

Aku melanjutkan suratku.

Ayah, Nina ingin Ayah cepat pulang. Nina punya banyak cerita. Nina ingin menunjukkan gambar baru. Nina juga ingin bertanya apakah sepatu Ayah masih capek.

Aku tersenyum sendiri.

Aku membayangkan Ayah membaca surat itu sambil tertawa. Mungkin dia akan menggelengkan kepala, lalu berkata bahwa hanya aku yang bisa menanyakan hal seperti itu.

Aku suka membuat Ayah tertawa.

Kalau Ayah tertawa, wajahnya terlihat lebih ringan. Garis di dahinya tidak terlalu kelihatan.

Bahunya juga tidak terlihat setinggi biasanya. Aku merasa seperti bisa melihat Ayah yang tidak sedang memikirkan pekerjaan.

Aku ingin melihat wajah itu lebih sering.

Aku menambahkan beberapa kalimat lagi.

Ayah, Nina sudah bisa merapikan tempat tidur sendiri. Nina juga sudah membantu Ibu mengeringkan piring. Kadang Nina masih lupa menyimpan sepatu, tetapi Nina akan berusaha mengingatnya.

Aku berhenti lagi.

Aku merasa suratku terdengar seperti sedang melapor kepada guru.

Aku tidak ingin Ayah membaca surat yang membosankan. Aku ingin menulis sesuatu yang membuatnya merasa ingin segera pulang.

Aku berpikir lama sekali.

Lalu aku menulis:

Ayah, kalau Ayah pulang, Nina mau memeluk Ayah lama-lama.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Entah kenapa, dadaku terasa hangat sekaligus sakit.

Aku meletakkan pena.

Di luar jendela, ada seekor burung kecil yang hinggap di pagar. Burung itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu terbang lagi. Aku memperhatikannya sampai tidak terlihat.

Aku bertanya-tanya apakah burung juga pernah menulis surat.

Mungkin tidak.

Burung bisa terbang ke tempat yang ingin dituju. Kalau merindukan sesuatu, mungkin mereka tinggal mengepakkan sayap dan pergi.

Aku tidak bisa melakukan itu.

Aku tidak punya sayap.

Aku juga tidak tahu harus mencari Ayah ke mana.

Jadi aku hanya bisa menulis.

Aku melanjutkan suratku sampai satu halaman penuh.

Aku bercerita tentang kucing tetangga yang mencuri ikan, tentang hujan yang membuat halaman licin, tentang cermin di kamar mandi yang selalu memperlihatkan wajahku, dan tentang ulang tahunku yang sudah lewat.

Aku menulis bahwa kuenya enak.

Aku menulis bahwa Ibu menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara pelan.

Aku menulis bahwa aku meniup tiga lilin.

Aku juga menulis bahwa aku membuat permintaan, tetapi tidak akan memberitahukannya kepada siapa pun.

Setelah itu aku berhenti.

Aku hampir menuliskan permintaanku.

Aku ingin Ayah pulang dan tinggal lebih lama.

Aku ingin Ayah duduk di kursinya setiap kali kami makan.

Aku ingin mendengar suara kunci di pintu tanpa harus menebak-nebak apakah itu Ayah atau orang lain.

Aku ingin Ibu tidak lagi melihat pintu dengan wajah sedih.

Aku ingin rumah kami terasa lengkap tanpa harus menyiapkan sesuatu untuk orang yang belum datang.

Aku ingin itu semua.

Tapi aku tidak menulisnya.

Aku takut kalau kata-kata itu terlihat terlalu banyak.

Aku takut Ayah merasa aku meminta sesuatu yang sulit.

Aku juga takut kalau sudah kutulis, keinginanku menjadi terlalu nyata. Seperti sesuatu yang bisa dibaca orang lain, lalu ditolak.

Jadi aku hanya menulis:

Ayah, jangan lupa pulang.

Aku menaruh pena.

Surat itu selesai.

Setidaknya menurutku begitu.

Aku membaca seluruh isinya dari awal. Ada beberapa tulisan yang miring.

Ada kata yang salah eja. Ada bekas coretan yang membuat kertas terlihat kotor. Tapi aku tidak ingin menggantinya dengan kertas baru.

Aku suka surat itu seperti adanya.

Surat itu tahu aku menulisnya sambil berpikir terlalu lama.

Surat itu tahu aku sempat ingin menghapus kata kangen.

Surat itu tahu ada banyak kalimat yang tidak jadi kutulis.

Aku melipat kertas itu menjadi dua bagian.

Lalu aku mencari amplop.

Aku tidak menemukannya.

Jadi aku mengambil kertas lain dan membuat amplop sendiri. Bentuknya tidak rapi.

Salah satu sisinya terlalu lebar, sedangkan sisi lainnya terlalu pendek. Aku memakai sedikit selotip agar suratnya tidak keluar.

Aku menulis alamat di bagian depan.

Untuk Ayah.

Aku tidak tahu alamat Ayah yang sebenarnya. Aku hanya tahu rumah kami, tempat kerja Ayah yang pernah disebutkannya, dan jalan yang sering dilewati motor Ayah. Tapi aku tidak yakin suratku bisa sampai kalau hanya ditulis begitu.

Aku akhirnya menambahkan:

Di mana pun Ayah berada.

Aku merasa itu sudah cukup.

Kalau surat memang dibuat untuk orang yang kita sayangi, mungkin surat akan tahu sendiri ke mana harus pergi.

Aku membawa amplop itu ke ruang tengah.

Ibu sedang melipat pakaian.

Aku duduk di sampingnya.

“Ibu.”

“Hm?”

“Kalau kita menulis surat, suratnya harus dikirim?”

Ibu menoleh kepadaku.

“Biasanya begitu.”

“Kalau tidak dikirim?”

Ibu melipat baju yang ada di tangannya sebelum menjawab.

“Bisa juga disimpan.”

“Kalau disimpan, orang yang dituju bisa membacanya?”

Ibu menatap amplop di tanganku.

“Kalau orangnya menemukan surat itu.”

Aku mengangguk.

Aku memandangi amplopku.

“Berarti surat Nina belum tentu dibaca Ayah?”

Ibu tidak langsung menjawab.

“Surat itu untuk Ayah?”

Lihat selengkapnya