Aku punya lagu kesukaan, tetapi aku tidak tahu judulnya.
Lagu itu sering dinyanyikan Ibu ketika aku masih kecil sekali. Kata Ibu, waktu itu aku belum bisa berbicara dengan benar.
Aku hanya bisa mengucapkan beberapa kata, lalu sisanya terdengar seperti suara kucing yang sedang mengantuk.
Aku tidak ingat masa itu.
Aku hanya tahu karena Ibu pernah menceritakannya sambil melipat pakaian.
Katanya, aku suka sekali kalau dinyanyikan sebelum tidur. Kalau Ibu berhenti, aku akan membuka mata. Kalau Ibu mulai lagi, aku akan menutup mata dan tersenyum.
Aku pernah bertanya kenapa aku tidak bisa menyanyikan lagu itu sendiri sekarang.
Ibu menjawab, “Karena kamu belum hafal semuanya.”
Aku bilang aku bisa menghafalnya kalau Ibu mengajariku.
Ibu mengangguk.
Tetapi sampai sekarang, Ibu belum benar-benar mengajariku.
Bukan karena aku tidak pernah meminta. Aku sudah meminta beberapa kali.
Kadang saat kami sedang makan, kadang ketika Ibu menyisir rambutku, kadang juga saat aku sudah berbaring di tempat tidur dan lampu kamar hampir dimatikan.
Aku selalu mengingatnya ketika suasana sedang tenang.
Menurutku, lagu paling mudah dipelajari ketika tidak ada suara lain yang mengganggu.
Suara piring bisa membuatku lupa lirik.
Suara televisi bisa membuatku ikut menyanyikan lagu yang berbeda.
Suara kendaraan dari jalan kadang membuat kata-kata dalam lagu seperti tertiup angin.
Jadi aku menunggu waktu yang tepat.
Sayangnya, waktu yang tepat ternyata sulit ditemukan.
Suatu pagi, ketika Ibu sedang menjemur pakaian, aku duduk di dekat pintu belakang sambil memperhatikan jemuran yang bergerak-gerak.
Ada baju Ibu yang berwarna biru muda.
Ada kemeja Ayah yang bagian lengannya sudah sedikit pudar.
Ada bajuku yang bergambar kelinci.
Semuanya bergerak ketika angin lewat, seolah-olah pakaian itu sedang berbicara satu sama lain.
Aku membayangkan baju-baju itu sedang bercerita tentang tempat-tempat yang pernah mereka datangi.
Kemeja Ayah mungkin bercerita tentang jalanan yang ramai.
Baju Ibu mungkin bercerita tentang pasar.
Bajuku mungkin bercerita tentang lantai kamar yang sering kujadikan tempat bermain.
Aku tertawa sendiri.
Ibu menoleh.
“Ada apa?”
“Baju-baju sedang mengobrol.”
Ibu melihat jemuran.
“Memangnya mereka membicarakan apa?”
“Aku tidak tahu. Mereka tidak mengajakku.”
Ibu tersenyum kecil.
“Kalau begitu, biarkan mereka bicara dulu.”
Aku mengangguk.
Aku suka ketika Ibu tidak langsung bilang bahwa pikiranku aneh.
Kadang orang dewasa terlalu cepat mengatakan sesuatu tidak mungkin, padahal mereka belum mencoba mendengarkan.
Aku lalu teringat lagu itu.
“Ibu.”
“Hm?”
“Lagu yang dulu Ibu nyanyikan untuk Nina, judulnya apa?”
Tangan Ibu yang sedang menjepit pakaian berhenti.
“Lagu yang mana?”
“Yang buat Nina tidur.”
Ibu menatapku cukup lama sampai aku merasa harus menjelaskan lagi.
“Yang Ibu nyanyikan waktu Nina masih kecil. Katanya Nina suka sekali.”
“Oh.”
Ibu kembali memasang jepitan.
“Ibu lupa judulnya.”
Aku mengerutkan kening.
“Kalau lupa judulnya, bagaimana Ibu tahu lagunya?”
Ibu tidak langsung menjawab.
“Kadang kita ingat lagunya, tetapi lupa namanya.”
Aku mencoba memikirkan itu.
Menurutku, nama adalah bagian penting dari sesuatu. Kalau aku lupa nama teman, aku akan kesulitan memanggilnya. Kalau aku lupa nama buku, aku tidak bisa meminta Ibu mengambil buku yang benar.
Tapi mungkin lagu memang berbeda.
Lagu bisa tetap tinggal meskipun namanya pergi.
“Kalau begitu, nyanyikan saja, Bu.”
Ibu menatapku lagi.
Aku tersenyum, berharap permintaanku kali ini berhasil.
“Sedikit saja.”
Ibu memegang keranjang pakaian dengan kedua tangan.
“Nanti, ya.”
Aku menghela napas.
Lagi-lagi nanti.
Aku mulai merasa kata itu punya kaki yang panjang. Setiap kali aku mencoba mendekatinya, kata itu berjalan menjauh.
Aku tidak marah kepada Ibu.
Aku hanya ingin tahu kenapa sesuatu yang sederhana seperti menyanyikan lagu bisa menjadi sulit.
Mungkin Ibu benar-benar lupa.
Mungkin lagu itu sudah terlalu lama tidak dinyanyikan.
Mungkin liriknya bersembunyi di tempat yang bahkan Ibu sendiri tidak bisa temukan.
Aku membayangkan lirik lagu seperti kancing kecil yang jatuh ke sela-sela lemari. Kita tahu benda itu ada, tetapi tangan kita tidak bisa menjangkaunya.
Setelah jemuran selesai, aku masuk ke kamar dan membuka kotak mainanku.
Aku mencari boneka kelinci yang sudah lama tidak kumainkan.
Satu telinganya terlipat, dan benang di dekat lehernya mulai keluar.
Aku duduk di lantai, meletakkan boneka itu di pangkuan, lalu menepuk-nepuk punggungnya.
“Sekarang kamu mau tidur, ya?”
Boneka itu diam.
Aku menganggap diamnya sebagai jawaban.
Aku mulai menyanyikan lagu yang kuingat dari Ibu.
Aku tidak tahu liriknya benar atau salah. Ada bagian yang hanya berupa gumaman. Ada bagian yang kuulangi dua kali karena aku tidak tahu harus melanjutkan ke mana.
Aku menyanyikannya perlahan.
Lalu aku berhenti.
Aku menunggu.
Tidak ada yang terjadi.
Boneka kelinci itu tetap diam dengan telinga terlipatnya.
Aku tahu boneka memang tidak bisa membuka mata atau berbicara. Tetapi aku berharap setidaknya aku bisa membuatnya merasa nyaman seperti yang pernah Ibu lakukan kepadaku.
Aku mencoba lagi.
Kali ini aku mengubah sedikit nadanya.
Aku menyanyikan kata-kata yang menurutku cocok.
Tentang bulan yang mengantuk.
Tentang bintang yang pulang.
Tentang anak kecil yang tidak perlu takut karena ada seseorang di dekatnya.
Aku tidak tahu apakah itu lagu yang sama.
Tapi ketika menyanyikannya, aku merasa seperti sedang mengingat sesuatu yang tidak pernah benar-benar kulihat.
Seperti mengenali rumah dalam mimpi.
Aku memeluk boneka kelinci itu.
“Kalau kamu tidur, jangan takut, ya. Aku ada di sini.”
Aku mengucapkannya dengan suara pelan.
Entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang pernah dikatakan seseorang kepadaku.
Aku tidak bisa mengingat siapa.
Mungkin Ibu.
Mungkin Ayah.
Mungkin aku hanya pernah mendengarnya di dalam cerita.
Siang itu aku bertanya kepada Ayah tentang lagu tersebut.
Ayah sedang duduk di ruang tengah. Di tangannya ada gelas, dan televisi menyala tanpa benar-benar ditonton.
Aku duduk di lantai dekat kakinya.
“Ayah.”
Ayah menoleh.
“Apa?”
“Ayah ingat lagu yang Ibu nyanyikan waktu Nina kecil?”
Ayah memandang televisi sebentar.
“Lagu apa?”
“Lagu buat tidur.”
Ayah menggaruk pipinya.
“Banyak lagu buat tidur.”
“Tapi yang Ibu nyanyikan untuk Nina.”
Ayah diam.
Aku menunggu sambil menggoyangkan kaki.
Kadang orang dewasa membutuhkan waktu untuk mengingat. Aku tahu itu karena Ibu pernah mencari kunci rumah hampir sepuluh menit, padahal kuncinya ada di tangannya sendiri.
Jadi aku tidak buru-buru.
Ayah akhirnya berkata, “Coba tanya Ibu.”