Aku punya sepasang sepatu yang tidak ingin kubuang.
Warnanya merah muda, dengan tali putih dan gambar bunga kecil di bagian samping.
Bunga itu sudah tidak terlalu jelas karena beberapa kali terkena lumpur.
Bagian depannya juga sedikit terkelupas, terutama sepatu sebelah kiri. Kalau aku berjalan terlalu cepat, ujungnya kadang menyentuh lantai dan mengeluarkan suara kecil.
Krek.
Krek.
Aku pernah bilang kepada Ibu bahwa sepatuku sedang mengeluh.
Ibu bertanya kenapa.
Aku menjawab karena sepatuku sudah tua, tetapi masih harus diajak berjalan ke mana-mana.
Ibu tertawa waktu itu.
Katanya, kalau sepatu bisa bicara, mungkin yang pertama kali dimintanya adalah dibersihkan.
Aku langsung mengambil kain lap.
Aku tidak mau sepatuku menganggapku anak yang tidak peduli.
Sejak saat itu, aku sering membersihkan sepatu merah mudaku sendiri.
Aku mengusap bagian depannya, membersihkan debu di sela-sela sol, lalu menaruhnya di dekat pintu supaya besok pagi mudah ditemukan.
Aku selalu menaruh sepatu dengan posisi berdampingan.
Sepatu kiri di sebelah kiri.
Sepatu kanan di sebelah kanan.
Menurutku, sepatu yang dipisahkan terlalu jauh akan merasa kesepian.
Aku tahu itu hanya pikiran anehku sendiri. Sepatu tidak punya perasaan seperti manusia.
Tetapi kalau aku boleh membayangkan sesuatu, aku tidak mengerti kenapa aku harus berhenti hanya karena orang lain tidak bisa melihatnya.
Aku juga pernah membayangkan awan sedang mengantuk dan kursi sedang bosan.
Tidak ada yang dirugikan karena itu.
Pagi itu, aku sedang mencari kaus kaki ketika melihat sepatu Ayah di dekat rak.
Sepatu Ayah berwarna hitam. Ukurannya besar, jauh lebih besar daripada sepatuku.
Bagian tumitnya sudah kusam, dan talinya sering terlepas karena Ayah suka mengikatnya dengan terburu-buru.
Aku pernah bertanya kenapa Ayah tidak membeli sepatu baru.
Ayah menjawab bahwa sepatunya masih bisa dipakai.
Aku bilang, kalau begitu, sepatuku juga masih bisa dipakai meskipun bagian depannya sudah terbuka sedikit.
Ayah tertawa dan mengacak rambutku.
“Kalau sudah tidak nyaman, baru kita cari yang baru.”
Aku tidak tahu kenapa orang dewasa selalu menunggu sampai sesuatu benar-benar tidak bisa dipakai sebelum menggantinya.
Kalau sebuah benda sudah mulai rusak, bukankah lebih baik dirawat sebelum kerusakannya bertambah banyak?
Mungkin orang dewasa punya alasan sendiri.
Aku tidak selalu mengerti alasan mereka.
Aku mengambil sepatu Ayah dan meletakkannya berdampingan dengan sepatuku.
Sepatu Ayah tampak seperti dua rumah besar.
Sepatuku tampak seperti dua rumah kecil.
Aku membayangkan kami sedang bersiap pergi bersama-sama.
Aku memakai sepatu merah muda.
Ayah memakai sepatu hitam.
Ibu memakai sandal yang biasa dipakainya ketika keluar sebentar.
Lalu kami bertiga berjalan melewati pagar, menyusuri jalan, dan pergi ke tempat yang belum pernah kami datangi.
Aku ingin sekali pergi ke kebun binatang bersama Ayah dan Ibu.
Aku ingin melihat gajah dari dekat, meskipun aku sedikit takut kalau belalainya terlalu panjang.
Aku ingin melihat jerapah dan menghitung bintik-bintik di tubuhnya.
Aku juga ingin membeli es krim setelah berjalan-jalan.
Kalau boleh memilih, aku ingin rasa cokelat untuk Ayah, stroberi untukku, dan vanila untuk Ibu.
Kami akan duduk di bangku, makan es krim, lalu pulang ketika matahari mulai turun.
Aku membayangkan perjalanan itu sampai lupa bahwa aku sedang mencari kaus kaki.
“Nina.”
Aku menoleh.
Ibu berdiri di depan pintu kamar.
“Sedang apa?”
“Melihat sepatu.”
“Sepatunya mau dipakai?”
Aku menggeleng.
“Belum. Nina sedang membayangkan pergi bersama Ayah dan Ibu.”
Ibu melihat sepatu-sepatu di dekat rak.
Wajahnya tidak berubah banyak, tetapi senyumnya datang sedikit terlambat.
“Mau pergi ke mana?”
“Kebun binatang.”
“Oh.”
“Ibu mau?”
Ibu mengangguk pelan.
“Mau.”
“Ayah juga?”
Ibu diam sebentar.
Aku memperhatikan tangannya yang memegang kain lap.
Lalu Ibu menjawab, “Kalau Ayah bisa.”
Aku menunduk melihat sepatu hitam itu.
Aku tidak suka jawaban yang membuat sesuatu terasa seperti pintu setengah terbuka.
Kalau bisa.
Kalau sempat.
Kalau tidak hujan.
Kalau tidak sibuk.
Ada banyak sekali kalau di dunia ini.
Aku berharap orang dewasa bisa menyimpan kata-kata itu di dalam lemari dan hanya mengeluarkannya ketika benar-benar diperlukan.
Aku mengambil kaus kakiku dari bawah tempat tidur.
“Kalau begitu, Nina tunggu sampai Ayah bisa.”
Ibu tidak menjawab.
Aku tidak tahu apakah dia mendengarku atau sedang memikirkan sesuatu yang lain.
Aku memakai sepatu merah muda meskipun hari itu aku tidak akan pergi jauh. Aku hanya ingin mencoba apakah talinya masih kuat.
Aku menarik tali sebelah kanan, lalu mengikatnya.
Ikatan pertamaku terlalu longgar.
Aku membuka lagi dan mencoba sekali lagi.
Kali ini lebih baik.
Aku berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu kembali ke depan pintu.
Sepatuku mengeluarkan suara kecil.
Krek.
Krek.
Aku tersenyum.
“Masih kuat,” kataku.
Ibu mengangguk, tetapi matanya masih tertuju pada sepatu Ayah.
Siang harinya, aku menemukan sebuah kotak sepatu di dalam lemari.
Kotaknya berwarna cokelat dan sedikit penyok di bagian sudut. Aku menariknya keluar perlahan karena ada beberapa benda lain yang ditumpuk di atasnya.
Di dalam kotak itu ada sepatu lama milik Ayah.
Warnanya lebih pudar daripada sepatu yang biasa dipakainya sekarang. Solnya sudah tipis, dan ada garis retak kecil di bagian samping.
Aku mengangkat sebelah sepatu.
Sepatu itu terasa lebih ringan daripada yang kubayangkan.
Aku membaliknya dan melihat bagian bawahnya.
Ada tanah kering yang menempel di sela-sela sol.
Aku bertanya-tanya, sepatu itu pernah berjalan ke mana saja.
Mungkin pernah melewati jalan yang panjang.
Mungkin pernah menginjak genangan air.
Mungkin pernah berdiri lama di depan sebuah pintu sambil menunggu seseorang keluar.
Mungkin pernah berlari ketika Ayah sedang terburu-buru.
Aku tidak tahu.
Sepatu tidak bisa bercerita tentang tempat yang pernah didatanginya.
Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali melihat Ayah memakai sepatu itu, tetapi tidak bisa.
Aku bahkan tidak yakin pernah melihatnya dipakai.
Mungkin aku terlalu kecil waktu itu.
Mungkin aku lupa.
Aku membawa kotak itu ke ruang tengah.
Ibu sedang duduk di sofa sambil melipat kain.
“Bu, ini sepatu Ayah?”
Ibu menoleh.
Begitu melihat kotaknya, tangannya berhenti bergerak.
“Iya.”
“Kenapa disimpan?”
Ibu memandangi sepatu itu.
“Sudah lama.”
“Tapi masih ada.”