Nina

Bear Winter
Chapter #15

Tanaman Kecil di Jendela

Di dekat jendela dapur, ada tanaman kecil yang menurutku mirip anak ayam.

Daunnya tidak banyak. Batangnya kurus, dan kalau terkena angin dari jendela, tubuhnya bergoyang ke kanan dan kiri.

Potnya berwarna putih, tetapi bagian bawahnya sudah berubah menjadi kecokelatan karena tanah yang sering tumpah saat disiram.

Aku tidak tahu nama tanaman itu.

Aku pernah bertanya kepada Ibu, tetapi Ibu hanya bilang tanaman itu sudah lama ada di rumah kami.

“Sejak kapan?” tanyaku.

Ibu mengangkat bahu sedikit.

“Sudah lama sekali.”

Aku mencoba membayangkan berapa lama itu. Apakah sejak aku masih bayi? Apakah sejak Ayah belum punya rambut putih? Atau sejak rumah kami masih kosong dan belum ada meja makan, kursi, serta rak sepatu?

Aku tidak bisa membayangkannya dengan benar.

Bagiku, sesuatu yang sudah lama sekali terdengar seperti benda yang pernah hidup di zaman dinosaurus.

Aku pernah mengatakan itu kepada Ibu.

Ibu tertawa kecil dan bilang tanaman kami belum setua itu.

Sayang sekali. Aku sebenarnya ingin punya sesuatu di rumah yang bisa bercerita tentang zaman dinosaurus.

Setiap pagi, setelah bangun tidur, aku suka memeriksa tanaman itu. Aku melihat apakah ada daun baru, apakah tanahnya masih basah, dan apakah ada serangga kecil yang berjalan di pinggir pot.

Aku juga suka menghitung daunnya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Kadang-kadang aku mendapatkan angka yang berbeda karena ada daun yang saling menutupi. Kalau begitu, aku menghitungnya dari arah lain.

Aku tidak mau ada daun yang dihitung dua kali.

Menurutku, tanaman itu pasti senang kalau ada yang memperhatikannya. Kalau aku menjadi tanaman, aku juga ingin seseorang melihat ketika daun kecilku tumbuh. Aku ingin ada yang berkata, “Wah, kamu bertambah besar,” meskipun aku hanya bertambah satu daun.

Aku tahu tanaman tidak bisa menjawab.

Tetapi tanaman juga tidak bisa mengatakan bahwa mereka tidak suka diajak bicara.

Jadi, setiap pagi aku menyapanya.

“Selamat pagi.”

Tanaman itu bergoyang sedikit.

Aku menganggapnya menjawab.

“Tidurmu nyenyak?”

Daunnya diam.

“Mungkin masih mengantuk,” kataku sendiri.

Aku pernah bertanya kepada Ayah apakah tanaman bisa mendengar suara manusia.

Ayah sedang memperbaiki sesuatu di ruang tengah ketika aku bertanya.

“Bisa jadi,” jawabnya.

“Kalau bisa mendengar, apa tanaman mengerti?”

Ayah berpikir sebentar.

“Mungkin tidak seperti kita.”

Aku mengangguk. Jawaban itu cukup masuk akal. Tanaman mungkin tidak mengerti kata-kata, tetapi bisa mengenali suara. Mungkin mereka tahu siapa yang sering datang ke dekat potnya.

Aku ingin tanaman itu mengenali suaraku.

Aku ingin kalau suatu hari aku tidak menyapanya, tanaman itu merasa ada sesuatu yang berbeda.

Aku tidak ingin membuatnya sedih. Jadi aku berjanji akan menyapanya setiap pagi.

Hari itu aku melihat satu daun kecil yang tumbuh di ujung batang.

Aku langsung berlari mencari Ibu.

“Ibu! Tanamannya punya daun baru!”

Ibu sedang mengiris bawang di dapur. Dia menoleh ketika aku datang dengan langkah terburu-buru.

“Benarkah?”

Aku mengangguk cepat.

“Ada satu. Kecil sekali. Seperti telinga tikus.”

Ibu meletakkan pisau dan menghampiriku.

Kami berdiri berdampingan di depan jendela. Aku menunjuk daun yang baru tumbuh itu.

Ibu tersenyum.

“Bagus, ya.”

Aku ikut tersenyum.

Aku senang ketika sesuatu yang kecil bisa membuat dua orang berhenti melakukan pekerjaan mereka.

Daun itu mungkin tidak tahu bahwa kami sedang memperhatikannya. Ia hanya tumbuh, sedikit demi sedikit, tanpa meminta siapa pun bertepuk tangan.

Aku ingin bisa seperti itu.

Tumbuh tanpa harus terburu-buru.

Tidak perlu menjadi lebih tinggi daripada orang lain.

Tidak perlu selalu mendapat pujian.

Cukup menjadi diriku sendiri dan tetap tumbuh.

Aku pernah bertanya kepada Ibu apakah aku sudah besar.

Ibu menjawab bahwa aku sudah semakin besar setiap hari.

Aku melihat tubuhku di depan cermin, tetapi rasanya tidak banyak berubah. Tanganku masih kecil. Kakiku masih bisa ditekuk dengan mudah. Aku masih harus menjinjit kalau ingin mengambil gelas dari rak yang tinggi.

Mungkin perubahan memang tidak selalu terlihat.

Mungkin aku juga sedang menumbuhkan sesuatu yang belum bisa kulihat.

Aku hanya berharap ketika aku tumbuh besar nanti, aku masih bisa mengenali diriku sendiri.

Siang itu aku meminta izin kepada Ibu untuk menyiram tanaman.

Ibu memberiku gelas plastik kecil.

“Sedikit saja. Jangan terlalu banyak.”

Aku mengangguk serius.

Aku tahu air penting untuk tanaman, tetapi aku juga tahu sesuatu yang terlalu banyak bisa membuat masalah. Kalau aku minum terlalu banyak, perutku terasa penuh. Kalau aku makan terlalu banyak permen, gigiku bisa sakit.

Mungkin tanaman juga punya batas.

Aku menuangkan air perlahan ke tanah.

Awalnya hanya sedikit.

Lalu aku berhenti dan melihat permukaannya.

Tanah itu menyerap air, membuat warnanya menjadi lebih gelap.

Aku menuangkan sedikit lagi.

Ketika ada air keluar dari lubang kecil di bawah pot, aku langsung berhenti.

Aku takut tanaman itu kedinginan kalau terlalu banyak air.

Aku meletakkan gelas di meja dan menunggu.

Tidak ada perubahan yang bisa kulihat.

Daunnya tetap sama.

Batangnya tetap kurus.

Tanahnya hanya terlihat lebih basah.

Aku sedikit kecewa karena tanaman tidak langsung terlihat lebih segar setelah disiram.

Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku sudah memberikan air.

Aku ingin dia menunjukkan sesuatu sebagai tanda terima kasih.

Mungkin satu daun baru.

Mungkin batang yang lebih tegak.

Mungkin goyangan kecil yang lebih jelas.

Tetapi tanaman tidak melakukan apa-apa.

Aku kemudian berpikir bahwa mungkin aku tidak seharusnya mengharapkan sesuatu hanya karena sudah membantu.

Ibu sering membantuku tanpa meminta apa-apa.

Ibu menyiapkan makanan, merapikan rambutku, mencuci bajuku, dan menemaniku ketika aku takut tidur sendirian.

Aku tidak selalu bisa membalasnya.

Kadang aku hanya memeluk Ibu atau memberinya gambar.

Mungkin itu juga sudah cukup.

Aku duduk di dekat jendela dan memperhatikan tanaman itu sampai Ibu memanggilku untuk makan.

Ketika makan siang, aku bercerita bahwa aku sudah menyiram tanaman.

Ibu mengangguk.

“Jangan lupa besok diperiksa lagi.”

Lihat selengkapnya