Aku punya selimut yang paling kusukai di rumah. Warnanya kuning pucat dengan gambar awan kecil berwarna putih.
Dulu, kata Ibu, selimut itu dibeli ketika ini masih kecil sekali. Kecil sampai-sampai badanku bisa ditutupi semuanya hanya dengan satu lipatan.
Sekarang kakiku sudah lebih panjang, jadi kalau aku menarik selimut sampai ke dagu, ujung kakiku kadang keluar. Aku tidak suka kalau kakiku keluar.
Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang tertinggal di tempat lain. Karena itu sering menarik selimut berkali-kali sebelum tidur, sampai Ibu menyuruhku berhenti bergerak dan memejamkan mata.
“Nina, selimutnya tidak akan lari,” kata Ibu suatu malam.
Aku bilang kau tahu. Aku hanya ingin memastikan semua bagian tubuhku ada di dalamnya.
Ibu tersenyum, lalu merapikan ujung selimut di dekat kakiku. Tangannya hangat.
Aku suka tangan Ibu kalau sedang merapikan selimut. Tangan itu bergerak pelan, seperti tidak ingin membangunkan sesuatu yang sedang tidur.
Aku pernah bertanya apakah selimut bisa merasa kedinginan. Ibu menjawab tidak. Selimut hanya membuat orang lain merasa hangat.
Menurutku itu tidak adil. Selimut selalu berada di tempat paling dingin, paling dekat dengan kaki, dan kadang terjatuh ke lantai ketika aku tidur. Tetapi tidak ada yang menyelimuti selimut.
Aku lalu mengambil selimut kecil dari bonekaku dan meletakkannya di atas selimut besar. Ibu melihatku melakukan itu sambil tersenyum.
“Sekarang dia punya selimut juga,” kataku.
Ibu tidak menjawab. Dia hanya mengusap rambutku sebentar, kemudian duduk di pinggir tempat tidur.
Aku kira Ibu sedang memikirkan sesuatu. Orang dewasa sering begitu. Mereka duduk diam, memandang sesuatu yang sebenarnya tidak sedang mereka lihat.
Aku pernah memanggil Ibu sampai tiga kali ketika dia seperti itu. Pada panggilan pertama, dia tidak menoleh. Pada panggilan kedua, matanya berkedip. Pada panggilan ketiga, dia baru melihatku dan bertanya, “Ada apa, Nak?”
Padahal aku hanya ingin menunjukkan gambar seekor kucing yang ekornya terlalu panjang. Aku tidak jadi menunjukkan gambar itu. Bukan karena aku marah. Aku cuma takut gambar itu sudah tidak lucu lagi ketika Ibu kembali melihatku.
Malam itu aku bertanya kepada Ibu apakah dia pernah kehilangan selimut kesukaannya. Ibu mengangguk pelan. Katanya, dulu dia punya selimut waktu masih kecil. Selimut itu sudah lama sekali, bahkan sebelum Ayah mengenalnya.
Aku ingin tahu bagaimana bentuknya, apakah ada gambar bunga atau binatang, apakah warnanya merah muda atau biru. Ibu tidak ingat semuanya. Dia hanya ingat selimut itu lembut dan selalu dibawanya ketika tidur.
“Lalu selimutnya sekarang di mana?” tanyaku.
Ibu memandang ujung tempat tidur.
“Sudah tidak ada.”
Aku bertanya apakah selimut itu hilang. Ibu menggeleng. Katanya, selimut itu sudah terlalu tipis dan akhirnya dibuang.
Aku membayangkan selimut tua yang sangat kurus, sampai-sampai tidak sanggup lagi menutupi tubuh Ibu. Aku kasihan kepadanya.
“Kalau sudah tidak bisa menghangatkan, apa selimutnya tetap berguna?” tanyaku.
Ibu diam cukup lama sebelum menjawab.
“Kadang yang membuat sesuatu berguna bukan cuma apa yang bisa dilakukannya.”
Aku tidak terlalu mengerti. Kalau pensil sudah habis, pensil itu tidak bisa dipakai menulis. Kalau gelas pecah, gelas itu tidak bisa dipakai minum. Kalau sepatu sudah kekecilan, kakiku akan sakit kalau memakainya.
Menurutku benda-benda punya tugas masing-masing. Kalau tugasnya selesai, mungkin mereka boleh beristirahat.
Tetapi Ibu pernah menyimpan kancing baju yang lepas dari bajunya, dan dia juga menyimpan selembar kertas kecil yang sudah kusut. Jadi mungkin orang dewasa punya aturan sendiri tentang benda-benda yang boleh dibuang.
Aku memeluk selimutku lebih erat. Aku tidak ingin selimut kuningku dibuang hanya karena suatu hari nanti warnanya pudar. Aku juga tidak ingin selimut itu dibuang kalau sudah tidak cukup panjang untuk menutupi kakiku.
Kalau terlalu pendek, aku bisa tidur dengan lutut ditekuk. Kalau kainnya robek, Ibu bisa menjahitnya. Kalau gambarnya hilang, aku masih ingat awannya. Selama aku masih ingat, selimut itu belum benar-benar kehilangan semuanya.
Aku bilang begitu kepada Ibu. Ibu memandangku dengan mata yang membuatku ingin mendekat. Lalu dia memelukku. Pelukannya lama sekali.
Aku hampir bertanya apakah dia juga ingin meminjam selimutku, tetapi aku tidak jadi. Kadang-kadang pelukan tidak perlu ditanya apa maksudnya.
Malam itu aku tidur sambil memegang ujung selimut. Aku takut kalau aku melepaskannya, selimut itu akan pergi mencari tempat lain yang lebih membutuhkan.
Aku tahu benda tidak bisa berjalan sendiri. Tetapi aku juga tahu ada beberapa benda yang selalu berpindah tempat tanpa ada yang mengaku memindahkannya.
Gunting bisa hilang dari laci. Kaus kaki bisa tinggal sebelah. Pensil warna merah bisa ditemukan di bawah lemari padahal terakhir kali aku memakainya di ruang tengah.
Jadi aku memutuskan untuk menggenggam selimutku sampai tertidur. Aku ingin melihat apakah dia masih ada ketika aku bangun.
Pagi harinya, selimut itu masih di tempatnya. Aku senang sekali. Aku melipatnya sendiri setelah bangun, walaupun hasilnya miring dan salah satu sudutnya menggembung.
Ibu bilang lipatanku sudah bagus. Aku tahu dia berbohong sedikit, tetapi aku tidak keberatan. Tidak semua kebohongan membuat orang sedih. Ada kebohongan yang membuat seseorang berani mencoba lagi.
Aku meletakkan selimut di atas bantal, lalu merapikan bagian awannya supaya terlihat. Aku ingin dia tahu bahwa aku tidak melupakannya hanya karena hari sudah pagi.
Setelah sarapan, aku membawa selimut itu ke ruang tengah. Ibu sedang membuka jendela. Udara pagi masuk bersama suara kendaraan dan bau tanah basah dari halaman.
Aku membentangkan selimut di atas kursi panjang. Ibu menoleh dan bertanya kenapa aku membawa selimut keluar dari kamar.
Aku bilang selimut juga perlu melihat matahari. Ibu tertawa kecil. Katanya, kalau selimut terlalu lama berada di tempat lembap, baunya bisa tidak enak.
Aku tidak tahu bahwa selimut bisa punya bau yang tidak disukai orang. Aku mencium kainnya. Baunya seperti kamar, bantal, dan sedikit wangi sabun. Menurutku itu bau yang baik.
Aku ingin tahu apakah selimut juga bisa mengingat bau. Mungkin dia mengingat bau rambutku setelah mandi, bau baju tidur yang baru dicuci, atau bau hujan yang menempel di jendela ketika aku tidur.
Mungkin dia juga mengingat malam-malam ketika aku menangis diam-diam karena bermimpi buruk. Aku tidak sering menangis karena mimpi buruk.
Biasanya aku hanya terbangun, melihat pintu kamar, lalu menarik selimut sampai menutupi hidung. Kadang aku merasa ada sesuatu yang kurang, tetapi aku tidak tahu apa.
Kalau aku bertanya kepada Ibu, dia akan datang dan duduk di sampingku. Dia akan mengusap punggungku dan berkata semuanya baik-baik saja.
Aku percaya kepada Ibu. Hanya saja, ada kalanya kata-kata itu terdengar seperti pintu yang ditutup pelan. Aku tahu ada sesuatu di baliknya, tetapi aku tidak bisa melihat.
Kalau aku sudah tenang, Ibu akan kembali ke kamarnya atau ke ruang tengah. Aku biasanya menunggu suara langkahnya menjauh sebelum tidur lagi.
Aku tidak ingin memanggilnya terlalu sering. Aku takut suatu hari nanti dia akan terlalu lelah untuk datang.
Karena itu aku belajar menenangkan diri dengan selimut. Aku menariknya sampai ke dagu, merapatkan kedua lutut, lalu membayangkan awan-awan putih di kainnya sedang berjalan mengelilingi langit.
Awan yang paling besar selalu berada di dekat dadaku. Aku menyebutnya Awan Ibu karena bentuknya mirip rambut Ibu ketika terurai.
Awan yang kecil berada di dekat kakiku. Aku menyebutnya Awan Nina.
Ada satu awan lagi di bagian belakang yang jarang terlihat kalau selimut sedang dipakai. Aku menyebutnya Awan Ayah.
Ketiganya tidak pernah benar-benar berjauhan. Bahkan ketika selimut dilipat, mereka hanya saling menindih.
Aku suka membayangkan mereka tetap saling mengenali meskipun tidak bisa melihat wajah masing-masing.
Aku pernah menunjukkan awan-awan itu kepada Ayah. Waktu itu Ayah sedang duduk di tepi tempat tidur sambil membuka jam tangannya.
Aku menunjuk satu per satu dan menjelaskan nama mereka. Ayah tertawa ketika mendengar nama Awan Ayah.
Katanya, awan itu tidak mirip dirinya sama sekali. Aku bilang awan tidak harus mirip wajah seseorang untuk menjadi miliknya. Yang penting aku sudah memberinya nama.
Ayah mengangguk, lalu membetulkan selimut yang menutupi kakiku. Dia bertanya apakah aku takut tidur sendirian.