Nina

Bear Winter
Chapter #17

Gambar yang Tidak Selesai

Aku paling suka menggambar sesuatu yang bisa kulihat, karena kalau menggambar sesuatu yang hanya ada di kepala, bentuknya sering berubah sebelum selesai.

Hari itu aku ingin menggambar rumah kami, lengkap dengan jendela, pintu, pohon kecil di halaman, dan tiga orang yang tinggal di dalamnya, tetapi baru selesai menggambar atap, tanganku sudah ingin membuat sesuatu yang lain.

Aku mengambil pensil warna cokelat untuk membuat pintu, lalu mengganti dengan warna biru karena menurutku pintu cokelat terlalu mirip pintu rumah tetangga.

Setelah itu aku menambahkan dua jendela, satu pot bunga, dan seekor kucing yang sebenarnya tidak pernah kulihat di halaman kami, tetapi aku merasa rumah akan lebih menyenangkan kalau ada kucing yang tidur di dekat pintu.

Ibu lewat di belakangku sambil membawa pakaian bersih, kemudian berhenti ketika melihat kertas yang penuh garis itu.

“Rumah siapa yang sedang Nina gambar?”

“Rumah kita,” jawabku sambil menunjuk atap yang bentuknya miring sebelah.

Ibu mendekat dan melihat gambarku lebih lama daripada yang kukira, seolah-olah rumah kecil di atas kertas itu memiliki sesuatu yang tidak bisa dilihat hanya dengan sekali pandang.

Aku menunjuk pintu, jendela, pot bunga, dan kucing yang kubuat dengan kepala terlalu besar, lalu menjelaskan bahwa aku ingin menggambar semua hal yang membuat rumah kami berbeda dari rumah orang lain.

Ibu bertanya kenapa aku menggambar tiga jendela, padahal rumah kami hanya memiliki dua jendela di bagian depan, dan aku menjawab bahwa jendela ketiga diperlukan supaya rumah bisa melihat ke arah yang belum pernah dilihatnya.

Ibu tertawa pelan, kemudian berkata bahwa rumah tidak punya mata, tetapi aku tahu Ibu kadang-kadang juga berbicara kepada rumah ketika sedang membuka pintu atau membersihkan lantai, jadi menurutku rumah mungkin punya cara sendiri untuk melihat.

Setelah Ibu pergi ke dapur, aku melanjutkan gambar itu dengan menambahkan jalan kecil menuju pintu dan tiga pasang sandal di dekatnya, karena rumah yang tidak punya jalan akan kesulitan menerima orang yang ingin datang.

Aku menggambar sandal Ibu dengan warna merah muda, sandal Ayah dengan warna biru tua, dan sandal Nina dengan warna kuning, meskipun sandal yang kupakai sebenarnya sudah berubah menjadi cokelat karena sering terkena debu.

Aku ingin semuanya terlihat bagus, jadi aku menghapus bagian jalan yang terlalu tebal dan menggambar ulang sandal Ayah karena bentuknya tampak seperti dua ikan yang sedang tidur, tetapi setelah dihapus berkali-kali, kertasnya menjadi tipis dan sedikit berbulu.

Aku mengusap bagian itu dengan telunjuk, lalu berhenti karena takut kertasnya berlubang, sebab aku tidak ingin gambar rumah kami rusak hanya karena aku terlalu sibuk membuatnya sempurna.

“Kenapa dihapus terus, Nak?”

Aku menoleh dan melihat Ibu sudah berdiri di dekat meja dengan segelas air di tangannya.

“Sandal Ayah jelek,” jawabku sambil menunjuk dua bentuk biru yang tidak lagi terlihat seperti sandal.

Ibu meletakkan gelas di meja dan duduk di sampingku, lalu mengatakan bahwa sandal tidak harus digambar dengan sempurna supaya orang tahu sandal itu milik siapa.

Aku memandang gambar itu lagi dan berpikir bahwa Ibu mungkin benar, sebab aku mengenali sandal Ayah dari bentuknya yang lebar dan bagian belakangnya yang sering terlipat, bukan karena warnanya selalu biru seperti yang kugambar.

Aku mengambil pensil dan menambahkan garis kecil di bagian belakang sandal, kemudian memutuskan untuk tidak menghapusnya lagi meskipun bentuknya masih sedikit miring.

Ibu tersenyum melihat keputusanku, lalu bertanya siapa saja yang akan kumasukkan ke dalam rumah kecil itu.

“Tiga orang,” jawabku sambil mengambil pensil warna untuk menggambar manusia.

Aku membuat Ibu berdiri di dekat jendela karena Ibu sering membuka jendela pada pagi hari, lalu menggambar Ayah di dekat pintu karena Ayah sering datang dari sana, dan terakhir menggambar diriku sendiri di tengah-tengah mereka.

Ketika selesai, aku merasa ada sesuatu yang kurang, sebab gambar itu tampak terlalu sepi meskipun tiga orang sudah berada di dalamnya, jadi aku menambahkan meja kecil dengan tiga gelas dan tiga piring.

Ibu tidak bertanya kenapa aku selalu menggambar benda dalam jumlah tiga, mungkin karena dia sudah terbiasa melihatku menghitung kursi, sendok, dan apa saja yang bisa kuhitung ketika sedang bosan.

Aku menambahkan asap tipis dari cerobong yang sebenarnya tidak dimiliki rumah kami, lalu menggambar matahari di sudut kertas supaya rumah itu terlihat hangat meskipun tidak ada seorang pun yang sedang memasak.

“Kalau rumahnya sudah selesai, apa yang akan Nina lakukan?”

Aku mengangkat bahu karena belum memikirkan jawabannya.

“Mungkin disimpan,” kataku.

Lihat selengkapnya