Aku menemukan sebuah kancing di bawah meja makan ketika sedang mencari pensil warna kuning yang menggelinding entah ke mana, dan kancing itu berwarna putih dengan empat lubang kecil di tengahnya seperti dua pasang mata yang sedang mengintip dari balik pintu.
Aku mengambilnya, membersihkan debu yang menempel dengan ujung baju, lalu meletakkannya di telapak tangan sambil berpikir bahwa kancing sekecil itu pasti pernah menjadi bagian penting dari sesuatu, sebab tidak mungkin ada orang yang sengaja membuat benda dengan empat lubang hanya untuk dibiarkan tergeletak di lantai.
Aku membawa kancing itu ke dapur dan menemui Ibu yang sedang memotong sayuran, lalu bertanya apakah dia kehilangan sesuatu yang bentuknya bulat dan berwarna putih.
Ibu menoleh sebentar, kemudian melihat benda di tanganku sebelum menjawab bahwa kancing itu mungkin berasal dari baju lama Ayah atau bajunya sendiri.
Aku bertanya bagaimana caranya mengetahui kancing itu milik siapa, sebab menurutku kancing tidak memiliki nama yang bisa dibaca seperti tulisan di buku, dan Ibu menjawab bahwa kita kadang-kadang mengenali sesuatu bukan dari namanya, melainkan dari tempatnya biasa berada.
Aku memandangi kancing itu lagi, tetapi tidak menemukan petunjuk apa pun selain warnanya yang sedikit kusam dan satu lubang yang tampak lebih gelap daripada tiga lubang lainnya.
“Boleh Nina menyimpannya?”
Ibu menghentikan pisau sebentar dan bertanya untuk apa aku menginginkan kancing yang bahkan tidak kuketahui pemiliknya.
Aku menjawab bahwa aku belum tahu, tetapi mungkin kancing itu bisa menjadi teman untuk benda-benda kecil lain yang sering kehilangan tempat, seperti tutup pulpen, penghapus yang tinggal setengah, dan manik-manik yang pernah kutemukan di sela karpet.
Ibu tersenyum tipis, lalu menyuruhku meletakkannya di dalam mangkuk kecil dekat lemari supaya tidak tertelan atau terinjak, dan aku langsung berjanji akan menjaganya dengan baik.
Aku mencari mangkuk yang dimaksud dan menemukan sebuah wadah keramik berwarna biru dengan gambar bunga di bagian sampingnya, kemudian menaruh kancing putih itu tepat di tengah agar tidak terselip di antara benda-benda lain.
Setelah itu aku duduk di lantai dan mengamati isi mangkuk tersebut, yang ternyata sudah berisi dua kancing hitam, sebuah peniti yang tidak boleh kusentuh, dan satu benda kecil berbentuk bulat yang awalnya kukira kancing tetapi ternyata hanya tutup botol.
Aku bertanya kepada Ibu apakah semua benda di dalam mangkuk itu juga pernah kehilangan tempat, dan Ibu menjawab bahwa sebagian memang berasal dari baju yang sudah tidak dipakai, sedangkan sebagian lainnya dikumpulkan karena mungkin akan berguna suatu hari nanti.
Aku menyukai kata mungkin ketika digunakan untuk benda-benda, karena itu berarti mereka belum harus menentukan akan menjadi apa dan masih boleh menunggu sampai seseorang menemukan kegunaannya.
Aku mulai mengatur kancing-kancing itu berdasarkan warna, lalu membuat barisan kecil dari yang paling besar sampai yang paling kecil, tetapi setelah selesai aku merasa barisannya terlihat terlalu sepi sehingga kutambahkan tutup botol sebagai penjaga di bagian paling depan.
Aku membayangkan tutup botol itu sedang menjaga pintu sebuah rumah kecil, sementara kancing-kancing di belakangnya adalah penghuni yang tidak boleh keluar sebelum pagi tiba.
Aku tidak tahu kenapa aku sering membayangkan benda-benda kecil memiliki kehidupan sendiri, tetapi menurutku mereka pasti punya banyak hal untuk diceritakan setelah seharian berada di tempat yang tidak diperhatikan orang.
Ketika aku sedang berbicara kepada kancing putih itu, Ayah masuk ke ruang tengah sambil membawa tas kerja dan bertanya apa yang sedang kulakukan di lantai dengan wajah serius seperti sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting.
“Ini rumah untuk benda-benda yang kehilangan tempat,” jawabku sambil menunjuk mangkuk biru.
Ayah berjongkok di sampingku dan melihat barisan kancing itu, lalu mengambil satu kancing hitam dengan dua jari sebelum bertanya apakah setiap benda harus tinggal di sana selamanya.
Aku menggeleng karena menurutku benda-benda boleh pergi kapan saja kalau pemiliknya datang mencari, tetapi mereka harus memberi tahu penjaga lebih dahulu supaya tidak ada yang mengira mereka menghilang begitu saja.
Ayah mengangguk pelan dan meletakkan kembali kancing hitam itu, lalu berkata bahwa aku harus berhati-hati menyimpan benda yang bukan milikku karena mungkin ada orang yang masih membutuhkannya.
Aku langsung memikirkan kancing putih di telapak tanganku, kemudian bertanya apakah orang bisa mengetahui sesuatu yang hilang kalau mereka sudah terlalu lama tidak melihatnya.
Ayah tidak segera menjawab, melainkan memandang mangkuk biru itu cukup lama sebelum mengatakan bahwa kadang-kadang orang baru menyadari kehilangan ketika membutuhkan sesuatu yang sebelumnya selalu ada.
Aku tidak begitu mengerti, jadi aku bertanya apakah itu berarti orang yang tidak sedang membutuhkan sesuatu boleh melupakannya untuk sementara waktu.
Ayah tersenyum kecil dan mengusap rambutku, lalu berkata bahwa aku boleh berpikir begitu kalau itu membuatku lebih mudah memahami dunia.
Aku senang ketika Ayah tidak memaksaku mengerti sesuatu yang belum bisa kupahami, sebab kadang-kadang aku hanya ingin bertanya tanpa harus menemukan jawaban yang benar.
Setelah Ayah pergi mengganti pakaian, aku membawa mangkuk itu ke meja kecil dekat jendela agar kancing-kancing di dalamnya bisa melihat halaman, lalu mulai menggambar rumah kecil dengan atap merah dan pintu berwarna hijau.