Nina

Bear Winter
Chapter #19

Lagu yang Tidak Selesai

Aku baru tahu kalau sebuah lagu bisa membuat rumah berubah menjadi tempat yang berbeda, padahal dindingnya masih sama, kursinya tidak berpindah, dan jendela di ruang tengah tetap mengeluarkan bunyi kecil ketika tertiup angin.

Sore itu Ibu sedang memasak ketika sebuah lagu terdengar dari radio tua di atas lemari, lagu yang dinyanyikan oleh suara perempuan dengan nada lembut dan sedikit serak, seperti seseorang yang baru selesai menangis tetapi tidak ingin orang lain mengetahuinya.

Aku sedang duduk di lantai sambil menyusun balok kayu menjadi rumah kecil, tetapi ketika mendengar lagu itu, tanganku berhenti di tengah jalan.

Ada sesuatu dari lagu tersebut yang terasa akrab, walaupun aku tidak tahu pernah mendengarnya di mana.

Aku mencoba mengikuti nadanya dengan mulut tertutup, lalu mengulang bagian yang sama berkali-kali karena aku belum bisa menangkap kata-katanya dengan benar.

Ibu yang sedang mengaduk sesuatu di dapur tiba-tiba berhenti bergerak.

Aku melihatnya dari sela pintu, dengan sendok kayu masih berada di tangannya dan uap tipis naik dari panci di hadapannya.

“Nina, kecilkan sedikit suaranya, ya.”

Aku menoleh ke arah radio.

“Kenapa, Bu?”

Ibu tidak segera menjawab, kemudian dia memutar tombol radio sampai suara penyanyi itu mengecil dan hanya terdengar seperti seseorang yang sedang bernyanyi dari kamar sebelah.

Aku tidak mengerti kenapa Ibu mengecilkan suara lagu yang tidak berisik, sementara suara kendaraan di luar rumah jauh lebih keras daripada suara radio.

“Lagunya sedih,” jawab Ibu akhirnya.

Aku memiringkan kepala dan mencoba mendengarkan lagi.

Menurutku lagu itu tidak terlalu sedih, hanya lambat, seperti orang berjalan sambil membawa barang yang berat dan tidak ingin barang itu jatuh.

Aku ingin mengatakan hal tersebut kepada Ibu, tetapi dia sudah kembali mengaduk masakan dan aku tidak ingin mengganggunya.

Jadi aku duduk lagi di lantai, lalu mencoba membuat rumah dari balok-balok kayu dengan atap yang tidak mudah runtuh.

Rumah buatanku hanya memiliki dua kamar, satu pintu, dan jendela kecil yang menghadap ke tempat tidur boneka.

Aku membuat ruang tengah cukup luas supaya tiga orang bisa duduk bersama, walaupun bonekaku sebenarnya hanya satu dan aku tidak tahu siapa yang akan menempati dua tempat kosong lainnya.

Ketika lagu di radio selesai, penyiar berbicara sebentar sebelum memutar lagu berikutnya.

Aku kecewa karena lagu pertama belum selesai di dalam kepalaku, tetapi suara penyiar membuatnya seolah-olah sudah tidak boleh diteruskan lagi.

Aku lalu menyanyikan bagian yang kuingat dengan suara pelan, meskipun beberapa kata kuganti dengan kata-kata yang lebih mudah.

Ibu muncul dari dapur sambil membawa gelas berisi air putih.

“Kamu hafal lagu itu?”

Aku menggeleng.

“Aku cuma ingat bunyinya.”

Ibu meletakkan gelas di meja, lalu duduk di kursi dekat jendela tanpa meminum airnya.

Aku menyanyikan lagi bagian yang tadi kuingat, dan ketika sampai pada nada terakhir, aku sengaja berhenti sebelum lagunya benar-benar selesai.

Ibu menatapku seperti aku baru saja melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh anak kecil.

“Kenapa berhenti?”

Aku mengangkat bahu.

“Karena aku tidak tahu lanjutannya.”

Ibu menunduk melihat kedua tangannya, kemudian tersenyum tipis dengan cara yang membuatku merasa jawabanku bukan jawaban yang dia harapkan.

Aku ingin bertanya apakah dia tahu lanjutannya, tetapi dari dapur terdengar bunyi air mendidih dan Ibu segera berdiri untuk memeriksanya.

Setelah makan malam, aku meminta Ayah membantuku mencari lagu itu di radio.

Ayah baru pulang beberapa waktu sebelumnya, masih memakai kemeja kerja dan terlihat lelah, tetapi dia tetap duduk di lantai bersamaku untuk memutar tombol radio dari satu saluran ke saluran lainnya.

Setiap kali sebuah lagu terdengar, aku akan menggeleng jika nadanya berbeda.

Ada lagu tentang cinta, lagu tentang perjalanan, dan lagu yang dinyanyikan dengan suara terlalu tinggi sampai aku merasa penyanyinya sedang memanggil seseorang dari atas pohon.

Ayah tertawa ketika aku mengatakan hal itu.

“Penyanyinya bukan di atas pohon, Nina.”

“Kalau begitu, kenapa suaranya tinggi sekali?”

“Mungkin dia sedang senang.”

Aku mengangguk, walaupun menurutku orang yang senang tidak selalu perlu bernyanyi setinggi itu.

Kami terus mencari sampai beberapa lagu berlalu, tetapi lagu yang kudengar sore tadi tidak muncul lagi.

Aku mulai merasa kesal kepada radio karena benda itu seperti sengaja menyembunyikan sesuatu yang baru saja diperlihatkannya kepadaku.

Aku menepuk sisi radio dengan telapak tangan, tetapi Ayah segera menahan tanganku.

“Jangan dipukul, nanti rusak.”

Aku menarik tanganku kembali.

“Kalau rusak, dia tidak bisa menyanyi lagi.”

Ayah mengangguk.

“Betul.”

Aku memandang radio itu dengan perasaan bersalah, lalu mengusap bagian atasnya supaya dia tahu aku tidak benar-benar ingin menyakitinya.

Ayah memperhatikan gerakanku tanpa mengatakan apa-apa.

Aku kemudian bertanya apakah dia pernah lupa lagu yang disukainya.

Ayah memikirkan pertanyaanku sebentar sebelum menjawab bahwa ada lagu yang sudah lama tidak didengarnya, sampai dia tidak ingat lagi bagaimana bunyinya.

Aku langsung bertanya bagaimana dia bisa menyukai lagu yang bahkan tidak diingatnya.

Ayah tersenyum kecil.

“Kadang kita masih ingat rasanya, meskipun sudah lupa bunyinya.”

Aku mencoba membayangkan rasa sebuah lagu, seperti rasa permen yang masih tertinggal di lidah setelah permennya habis.

Kalau begitu, mungkin lagu yang kusukai sore tadi masih berada di dalam diriku, hanya saja aku belum tahu cara mengeluarkannya dengan benar.

Aku memutuskan untuk mengingatnya sendiri.

Sebelum tidur, aku menyanyikan nada yang sama di bawah selimut, mulai dari bagian pertama sampai bagian terakhir yang kuingat.

Setiap kali sampai pada bagian yang kosong, aku membuat nada baru sesukaku, kadang terlalu tinggi, kadang terlalu rendah, sampai lagu itu terdengar seperti dua lagu yang bertengkar.

Aku tertawa sendiri, lalu mencoba sekali lagi dengan lebih pelan.

Dari luar kamar terdengar suara Ibu dan Ayah berbicara.

Aku tidak bisa mendengar semua kata mereka, hanya beberapa bagian yang terputus oleh suara langkah dan bunyi benda diletakkan di meja.

Kemudian salah satu dari mereka diam cukup lama, sampai aku berpikir mungkin pembicaraan mereka sudah selesai.

Namun beberapa saat kemudian, suara Ibu terdengar lagi, sangat pelan, seperti sedang berbicara kepada seseorang yang berada jauh di seberang pintu.

Aku tidak tahu kenapa orang dewasa sering berbicara begitu pelan ketika malam datang.

Padahal malam tidak punya telinga, dan rumah juga tidak akan mengadukan rahasia mereka kepada siapa pun.

Aku ingin keluar dan bertanya apakah mereka mengenal lagu yang kucari, tetapi aku sudah berjanji kepada Ibu untuk tidur setelah selesai minum air.

Jadi aku berbaring dan membiarkan lagu itu berputar di dalam kepala sampai aku tidak bisa membedakan mana nada yang benar-benar kudengar dan mana yang kubuat sendiri.

Pagi harinya, aku bangun dengan potongan lagu yang berbeda dari semalam.

Aku menyanyikannya ketika menyisir rambut, lalu mengulanginya sambil memakai sandal, dan terus menyanyikannya ketika berjalan menuju meja makan.

Ibu sedang menyiapkan sarapan dan langsung menoleh begitu mendengar suaraku.

“Lagu apa itu, Nina?”

Aku tersenyum bangga karena akhirnya aku mempunyai lagu yang bisa kunyanyikan sampai selesai, walaupun aku tidak tahu apakah itu lagu yang sama dengan lagu dari radio.

“Lagu yang kemarin.”

Ibu tidak bertanya lagi.

Lihat selengkapnya