Nina

Bear Winter
Chapter #20

Payung yang Tidak Dipakai

Aku menemukan payung kecil berwarna merah muda di belakang pintu ketika sedang mencari sandal yang sebelahnya hilang, payung itu terselip di antara dinding dan lemari sepatu, tertutup debu tipis dengan salah satu ujung kainnya terlipat ke dalam seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

Aku menariknya perlahan supaya tidak merusak bagian yang tersangkut, lalu membukanya di ruang tengah meskipun tidak ada hujan di dalam rumah.

Payung itu ternyata lebih besar daripada yang kuingat, atau mungkin tanganku saja yang masih terlalu kecil untuk memegang gagangnya dengan nyaman.

Aku mencoba memutarnya di atas kepala, berjalan dari ruang tengah ke dapur, kemudian berhenti di depan Ibu yang sedang memotong sayuran.

“Bu, ini payung siapa?”

Ibu menoleh dan pisau di tangannya berhenti sebentar sebelum kembali bergerak.

“Punya Nina, sepertinya.”

Aku melihat payung itu lagi, lalu bertanya kenapa aku tidak pernah memakainya.

Ibu tersenyum kecil dan berkata mungkin karena akhir-akhir ini jarang hujan ketika aku pergi keluar.

Aku tidak terlalu percaya pada jawaban itu karena aku ingat pernah kehujanan sampai ujung rokku basah, sementara Ibu berlari membawakan handuk dan Ayah sibuk mencari pakaian kering di lemari.

Kalau payung ini memang milikku, seharusnya dia ikut pergi saat itu, bukan bersembunyi di belakang pintu seperti sandal yang kehilangan pasangannya.

Aku membawa payung itu ke dekat jendela dan memeriksa seluruh bagiannya, menemukan satu garis hitam di kain merah muda serta sedikit karat pada bagian logam yang bisa dilipat.

Aku mengusap garis hitam itu dengan ujung jari, tetapi warnanya tidak hilang.

“Bu, payungku sakit.”

Ibu mendekat, mengambil payung dari tanganku, lalu memeriksa bagian yang berkarat.

“Bukan sakit, Sayang, mungkin hanya sudah lama tidak dipakai.”

Aku bertanya apakah benda bisa merasa sedih kalau terlalu lama tidak dipakai, sebab payung ini pasti pernah menunggu hujan berkali-kali tanpa tahu kapan seseorang akan membawanya keluar.

Ibu tidak segera menjawab, hanya membuka dan menutup payung itu sekali sebelum menyerahkannya kembali kepadaku.

“Kalau begitu, kita ajak dia jalan-jalan saat hujan.”

Aku senang mendengar usul itu, lalu meletakkan payung di dekat pintu supaya tidak terselip lagi di tempat yang gelap.

Aku juga menaruh sepasang sandal di sampingnya, meskipun sandal yang sebelah masih belum ditemukan, karena menurutku payung dan sandal sama-sama membutuhkan teman ketika sedang menunggu.

Siang itu langit terlihat putih dan terang, bahkan matahari terasa seperti lampu besar yang dibiarkan menyala terlalu dekat dengan kepala.

Aku duduk di teras sambil memegang payung, berharap awan datang membawa hujan supaya aku bisa segera menggunakannya.

Ayah pulang ketika aku sedang menghitung awan yang bergerak lambat di atas atap tetangga, lalu berhenti di dekatku untuk melihat apa yang sedang kulakukan.

“Menunggu hujan?”

Aku mengangguk dan menunjukkan payung merah muda yang kutemukan.

Ayah mengangkat alis ketika melihatnya, kemudian mengambil payung itu sebentar dan memeriksa gagangnya.

“Sudah lama sekali Ayah tidak melihat payung ini.”

Aku bertanya apakah Ayah yang membelikannya untukku.

Ayah terdiam sejenak sebelum mengangguk, lalu mengatakan bahwa dulu payung itu selalu kubawa ketika keluar rumah.

Aku mencoba membayangkan diriku yang lebih kecil sedang berjalan sambil membawa payung merah muda, tetapi bayangan itu tidak muncul dengan jelas.

Aku hanya bisa membayangkan seseorang bertubuh pendek dengan langkah kecil, sementara payungnya miring ke satu sisi karena tangannya belum cukup kuat untuk memegangnya lurus.

“Dulu Nina suka hujan,” kata Ayah.

Aku langsung menoleh kepadanya.

“Sekarang juga suka.”

Lihat selengkapnya