Pagi itu aku menemukan sebuah gelas bening di rak paling atas dapur, gelas yang bentuknya berbeda dari tiga gelas yang biasa kami pakai saat makan, karena bagian bawahnya lebih tebal dan ada gambar bunga kecil yang hampir tidak terlihat di permukaan kacanya.
Aku berdiri di depan lemari cukup lama sambil berjinjit, mencoba mengambilnya sendiri, tetapi ujung jariku hanya menyentuh bagian bawah gelas sebelum akhirnya Ibu datang dan menurunkannya untukku.
“Jangan berjinjit terlalu tinggi, nanti jatuh.”
Aku menerima gelas itu dengan kedua tangan, lalu mengamatinya dari dekat seolah-olah sedang memegang sesuatu yang baru ditemukan di dasar laut.
Aku bertanya kepada Ibu kenapa gelas itu disimpan jauh sekali, padahal gelas-gelas lain diletakkan di rak bawah supaya mudah diambil.
Ibu mengusap bagian pinggir gelas menggunakan kain bersih, kemudian berkata bahwa gelas itu jarang dipakai.
Aku langsung bertanya apakah gelas yang jarang dipakai akan lupa bagaimana caranya menampung air.
Ibu tertawa kecil.
“Gelas tidak perlu berlatih, Nina.”
Aku mengisi gelas itu dengan air putih sampai hampir penuh, lalu mengangkatnya sedikit untuk melihat gambar bunga yang tampak lebih jelas ketika terkena cahaya dari jendela.
Bunganya hanya memiliki lima kelopak dan sebuah titik kecil di tengah, tetapi menurutku bentuknya seperti bunga yang sedang membuka mata setelah tidur terlalu lama.
Aku membawa gelas itu ke meja makan dan meletakkannya di samping gelasku sendiri, lalu memperhatikan keduanya dengan sungguh-sungguh.
Gelas milikku pendek dan sedikit lebar, sedangkan gelas bergambar bunga lebih tinggi dan terlihat kurus, seperti dua orang yang berdiri berdampingan tetapi berasal dari tempat yang berbeda.
Aku ingin menggunakan gelas baru itu saat sarapan, tetapi Ibu meminta agar aku berhati-hati karena kacanya lebih tipis daripada gelas yang biasa kupakai.
Aku mengangguk dan duduk dengan punggung tegak, berusaha tidak menggerakkan tangan terlalu banyak supaya gelas itu tidak tersenggol.
Ketika Ayah datang, aku langsung menunjukkan penemuanku kepadanya.
“Ayah, gelas ini beda sendiri.”
Ayah menarik kursi dan duduk di hadapanku, kemudian memegang gelas tersebut untuk melihat gambar bunga di permukaannya.
“Dulu Ibu sering memakai gelas ini.”
Aku menoleh kepada Ibu yang sedang membawa piring dari dapur.
“Kalau begitu, kenapa sekarang tidak dipakai lagi?”
Ibu berhenti sebentar sebelum meletakkan piring di meja, lalu menjawab bahwa dia sudah terbiasa menggunakan gelas yang lain.
Aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa terbiasa menggunakan gelas tertentu sampai lupa bahwa gelas lain juga bisa menampung air, tetapi aku tidak ingin memperdebatkannya saat sarapan.
Aku hanya menggeser gelas bergambar bunga sedikit lebih dekat kepada Ibu, berharap dia akan menggunakannya lagi meskipun hanya untuk minum satu kali.
Namun Ibu mengambil gelas miliknya yang biasa dan menuangkan teh ke dalamnya, sementara gelas bunga tetap berada di depanku dengan air putih yang belum berkurang.
Aku merasa sedikit kasihan kepadanya.
Aku tahu gelas itu tidak bisa merasa malu karena tidak dipilih, tetapi kalau aku menjadi gelas, mungkin aku akan bertanya-tanya kenapa orang-orang lebih menyukai gelas lain yang bentuknya hampir sama.
Setelah sarapan, aku mencuci gelas bunga sendiri dengan bantuan Ibu, lalu mengeringkannya menggunakan kain sebelum meletakkannya di atas meja.
Aku tidak ingin langsung mengembalikannya ke rak paling atas karena menurutku benda yang baru saja dikeluarkan sebaiknya diberi waktu untuk berada di luar.
Ibu membiarkanku melakukan itu, tetapi dia mengingatkan agar gelas tersebut tidak diletakkan terlalu dekat dengan pinggir meja.
Aku memindahkannya ke bagian tengah, kemudian mengambil buku gambar untuk menggambar bunga kecil yang ada di permukaan kacanya.
Aku menggambar gelas itu terlebih dahulu, tetapi bentuknya terlalu besar sehingga bunga yang kugambar di tengah tampak seperti pohon yang tumbuh dari dasar gelas.
Aku mencoba lagi pada halaman berikutnya, kali ini membuat gelasnya lebih tinggi dan bunganya lebih kecil.