Aku menemukan sepatu kecil di dalam kotak tua yang disimpan di bawah tempat tidur Ibu, sepasang sepatu berwarna putih dengan tali merah muda dan sol yang sudah menguning di bagian ujungnya.
Aku mengeluarkannya pelan-pelan karena takut ada sesuatu yang rusak, lalu meletakkannya di atas karpet dan menyandingkannya dengan sandal yang sedang kupakai.
Sepatu itu kecil sekali sampai aku tidak mengerti bagaimana kaki seseorang bisa masuk ke dalamnya, apalagi berjalan jauh tanpa merasa sesak.
Aku memanggil Ibu untuk melihat penemuanku, tetapi ketika dia datang dan melihat sepatu itu, langkahnya berhenti di ambang pintu.
“Dari mana kamu mengambilnya, Nina?”
Aku menunjuk ke bawah tempat tidur.
“Dari kotak yang itu.”
Ibu mendekat, lalu berjongkok di depanku sambil mengambil salah satu sepatu dengan kedua tangan.
Aku bertanya apakah sepatu itu milikku ketika aku masih kecil, sebab ukurannya terlalu kecil untuk dipakai sekarang.
Ibu mengangguk pelan.
“Dulu kamu sering memakainya.”
Aku mencoba membayangkan diriku memakai sepatu tersebut, berjalan dengan langkah pendek sambil memegang tangan Ibu, tetapi bayangan itu tidak muncul dengan jelas di kepalaku.
Aku hanya bisa melihat sepatu putih itu di atas karpet, diam dan sedikit berdebu, seperti benda yang sudah lama menunggu seseorang mengingatnya.
Aku bertanya kenapa Ibu menyimpannya jika aku sudah tidak bisa memakainya.
Ibu membersihkan debu di bagian ujung sepatu menggunakan ibu jarinya, lalu menjawab bahwa sepatu itu masih bagus untuk disimpan.
Menurutku sepatu dibuat untuk berjalan, bukan untuk tidur di dalam kotak, tetapi aku tidak ingin membuat Ibu merasa harus menjelaskan sesuatu yang belum tentu bisa dijelaskannya.
Jadi aku mengambil kedua sepatu itu dan mencoba memasukkan kakiku, tetapi jari-jariku bahkan tidak bisa melewati bagian depannya.
Aku tertawa karena kakiku sekarang terlalu besar, lalu meletakkannya kembali dengan posisi berdampingan.
“Kalau sudah kekecilan, apa sepatunya sedih, Bu?”
Ibu menatapku dan tersenyum tipis.
“Mungkin dia senang karena kamu sudah tumbuh besar.”
Aku tidak begitu menyukai kata mungkin, tetapi kali ini aku membiarkannya lewat karena aku sedang memikirkan hal lain.
Aku ingin tahu apakah sepatu itu masih ingat jalan-jalan yang pernah kami lalui bersama, seperti jalan di depan rumah, halaman yang penuh daun kering, atau lantai toko yang dingin ketika Ibu mengajakku membeli sesuatu.
Aku bertanya kepada Ibu ke mana saja aku pernah pergi memakai sepatu itu.
Ibu menyebut beberapa tempat, tetapi ada bagian yang tidak bisa diingatnya dengan jelas, sehingga aku mulai membayangkan perjalanan sendiri dari potongan cerita yang kudengar.
Dalam bayanganku, aku berjalan melewati jalan panjang sambil menggenggam tangan Ibu, sedangkan Ayah membawa tas kecil berisi air minum dan beberapa makanan ringan.
Aku tidak tahu apakah perjalanan itu benar-benar pernah terjadi seperti yang kubayangkan, tetapi aku suka membayangkan bahwa sepatu putih tersebut pernah membawaku ke tempat-tempat yang menyenangkan.
Ibu mengembalikan sepatu itu ke dalam kotak, tetapi aku meminta agar dia tidak menutupnya dulu karena aku masih ingin melihat bagian dalamnya.
Ada bekas lipatan kecil di dekat tumit dan noda tipis di bagian sol, seperti jejak tanah yang tidak berhasil dibersihkan sampai tuntas.
Aku menyentuh noda itu dengan ujung jari.