Aku baru tahu kalau jam juga bisa berhenti bekerja, padahal selama ini kupikir semua jam harus terus bergerak karena kalau jarumnya diam, waktu pasti ikut diam dan orang-orang tidak perlu buru-buru melakukan apa pun.
Jam dinding di ruang tengah sudah berhenti sejak entah kapan, jarum panjangnya menunjuk angka dua belas sementara jarum pendeknya menunjuk angka empat, membuatnya terlihat seperti sedang memandangi sesuatu yang tidak bisa kulihat.
Aku memperhatikan jam itu cukup lama sampai leherku pegal, lalu menarik kursi kecil agar bisa melihatnya lebih dekat, meskipun Ibu selalu bilang aku tidak boleh naik kursi sendirian karena kakiku belum cukup panjang untuk menjaga keseimbangan.
“Sedang apa, Nina?”
“Aku sedang melihat apakah jamnya tidur, Bu.”
Ibu yang baru keluar dari dapur berhenti di dekat pintu, kemudian mendongak mengikuti arah telunjukku dengan wajah yang awalnya biasa saja sebelum perlahan berubah seperti seseorang yang baru saja menemukan barang lama di tempat yang salah.
“Jamnya rusak, Sayang.”
“Kalau rusak, apa dia bisa diperbaiki?”
“Bisa, mungkin.”
Aku mengerutkan hidung karena Ibu menggunakan kata yang paling tidak kusukai, sebab kata itu seperti pintu yang dibuka sedikit saja lalu dibiarkan begitu tanpa memberitahuku apakah aku boleh masuk atau harus menunggu di luar.
“Kenapa mungkin, Bu?”
Ibu tersenyum kecil sambil merapikan ujung bajunya, lalu berkata bahwa Ayah bisa memeriksanya nanti ketika pulang, seolah-olah kata nanti punya kaki yang bisa berjalan sendiri untuk mencari Ayah dan membawanya kemari.
Aku turun dari kursi dan menatap jam itu sekali lagi, merasa kasihan karena benda sebesar itu ternyata tidak bisa mengatakan sendiri apa yang membuatnya berhenti.
Aku ingin bertanya apakah jam itu lelah, tetapi takut Ibu akan tertawa, jadi aku menyimpan pertanyaan tersebut di dalam kepala dan berjanji akan memikirkannya sampai menemukan jawaban yang masuk akal.
Saat makan siang, aku memperhatikan jam itu dari meja makan dan mencoba menghitung berapa lama jarumnya sudah tidak bergerak, tetapi aku tidak tahu harus mulai menghitung dari mana karena aku tidak pernah melihat saat jarumnya berhenti.
“Bu, kalau jam berhenti, orang-orang masih boleh makan?”
Ibu mengangkat wajahnya dari piring dan tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaanku, kemudian mengangguk sambil menyuruhku menghabiskan sayur sebelum dingin.
“Tentu boleh, Nina.”
“Kalau begitu, jam tidak terlalu penting, ya?”
Ibu tidak langsung menjawab, dan aku melihat matanya bergerak sebentar ke arah ruang tengah sebelum kembali menatap makanannya.
“Jam membantu kita mengingat waktu.”
“Tapi kalau kita tidak melihat jam, kita masih bisa tahu kalau lapar.”
Kali ini Ibu tertawa pelan, meskipun tawanya hanya sebentar dan setelah itu ia kembali mengaduk nasi di piringnya dengan gerakan yang begitu lambat sampai aku mengira ia sedang menghitung butiran beras.
Aku tidak bertanya lagi karena orang dewasa kadang membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya sederhana, sama seperti aku yang kadang harus berpikir lama hanya untuk memilih warna krayon.
Selesai makan, aku mengambil kertas dan menggambar sebuah jam besar dengan lingkaran yang sedikit miring, lalu membuat dua jarum di tengahnya agar jam itu bisa menunjukkan pukul berapa saja tanpa harus memakai baterai.
Aku menggambar angka satu sampai dua belas dengan hati-hati, tetapi angka tujuh terlihat seperti tongkat dan angka sembilan terlalu dekat dengan angka sepuluh, sehingga jam buatanku tampak kebingungan menentukan tempatnya sendiri.
Di bagian bawah kertas, aku menulis bahwa jam tersebut tidak boleh berhenti sebelum semua orang selesai melakukan hal yang ingin mereka lakukan.