Nina

Bear Winter
Chapter #24

Tanaman yang Menunggu

Di dekat jendela dapur ada sebuah pot kecil berwarna putih yang tanahnya mulai retak, sementara tanaman di dalamnya tumbuh miring ke arah cahaya seperti anak kecil yang berusaha mengintip sesuatu dari balik pintu.

Aku baru menyadarinya ketika sedang mencari kupu-kupu di luar jendela, sebab selama ini pot itu hanya terlihat seperti benda biasa yang diletakkan Ibu di sudut ruangan dan tidak pernah kupikirkan lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk melewatinya.

Daunnya tinggal beberapa helai, sebagian berwarna hijau pucat dan sebagian lagi menguning di ujung, sedangkan batangnya kurus seperti belum sempat tumbuh besar sebelum sesuatu membuatnya kelelahan.

“Bu, tanaman ini sakit?”

Ibu yang sedang mencuci piring menoleh ke arah pot itu, kemudian mematikan keran dan mengeringkan tangannya dengan kain yang tergantung di dekat wastafel.

“Mungkin kekurangan air.”

Aku mengambil gelas kecil dari rak, tetapi Ibu segera menghentikanku sebelum air di dalamnya sempat kutuangkan, lalu menjelaskan bahwa tanaman tidak boleh disiram terlalu banyak karena akarnya juga perlu bernapas.

Aku tidak mengerti bagaimana akar bisa bernapas padahal tidak memiliki hidung, tetapi aku mengangguk saja karena orang dewasa biasanya mengetahui hal-hal aneh yang tidak diajarkan oleh gambar-gambar di buku.

Ibu mengambil penyiram tanaman dari bawah meja, lalu memberiku sedikit air agar aku bisa membantu membasahi tanahnya tanpa membuat pot itu kebanjiran.

Aku menuangkan air perlahan-lahan sampai tanah yang tadinya pucat berubah menjadi lebih gelap, kemudian menunggu beberapa saat untuk melihat apakah daunnya akan kembali tegak seperti telinga kelinci yang baru bangun tidur.

Tentu saja tidak ada yang berubah secepat itu, dan aku mulai merasa tanaman tersebut mungkin sedang marah karena baru diperhatikan setelah sekian lama dibiarkan sendirian.

“Kalau sudah disiram, kapan dia sembuh, Bu?”

“Tidak langsung, Sayang, tanaman perlu waktu.”

Aku menghela napas karena waktu lagi-lagi menjadi jawaban untuk sesuatu yang ingin segera kuketahui, padahal menurutku waktu seharusnya bisa sedikit lebih baik kepada orang yang sedang menunggu.

Ibu tersenyum mendengar keluhanku, kemudian menyuruhku meletakkan pot itu di dekat jendela agar tanaman mendapat cukup cahaya matahari.

Aku memindahkannya dengan kedua tangan, berhati-hati supaya tanahnya tidak tumpah, lalu memilih tempat yang menurutku paling bagus karena sinar matahari jatuh di sana seperti selimut tipis berwarna kuning.

Sejak hari itu, aku memeriksa tanaman tersebut setiap kali melewati dapur, kadang-kadang dengan menyentuh tanahnya menggunakan ujung jari dan kadang hanya dengan melihat daunnya dari jauh.

Aku tidak selalu menyiramnya karena Ibu bilang tanaman bisa mati kalau terlalu banyak air, jadi aku belajar membedakan tanah yang masih lembap dengan tanah yang sudah kering meskipun keduanya sama-sama berwarna cokelat.

Menurutku merawat tanaman lebih sulit daripada memberi makan boneka, karena boneka tidak akan berubah menjadi kurus atau kehilangan warna hanya karena aku lupa memperhatikannya selama beberapa hari.

Suatu pagi, aku menemukan satu daun kecil tumbuh di dekat batang yang hampir tidak terlihat, bentuknya masih terlipat dan warnanya lebih muda daripada daun-daun yang lain.

Lihat selengkapnya