Nina

Bear Winter
Chapter #25

Suara dari Rumah Sebelah

Pagi itu aku mendengar seseorang tertawa dari rumah sebelah, suaranya nyaring dan panjang sampai aku berhenti mengunyah roti karena sudah lama sekali rasanya tidak mendengar tawa yang terdengar sebebas itu.

Aku berlari ke jendela ruang tengah dan mengintip dari balik tirai, tetapi yang terlihat hanya pagar rumah tetangga dan sebatang pohon yang daunnya bergoyang tertiup angin.

Rumah sebelah biasanya sepi, bahkan suara pintunya jarang terdengar, jadi aku penasaran siapa yang datang dan membuat rumah itu terdengar seperti sedang mengadakan pesta kecil.

“Bu, rumah sebelah sedang ramai.”

Ibu yang sedang menyisir rambut di dekat cermin menoleh sebentar, lalu mengatakan bahwa mungkin ada keluarga yang sedang berkunjung.

Aku menyukai kata keluarga karena bagiku keluarga adalah orang-orang yang bisa membuat rumah terasa penuh meskipun jumlahnya tidak banyak, tetapi aku belum tahu apakah rumah yang ramai selalu berarti orang-orang di dalamnya sedang bahagia.

Tidak lama kemudian, aku melihat seorang anak perempuan keluar dari pagar rumah sebelah dengan membawa bola berwarna kuning, rambutnya dikuncir dua dan kausnya terlalu besar sampai menutupi sebagian celana pendeknya.

Ia menendang bola itu ke halaman, lalu berlari mengejarnya sambil tertawa sendiri ketika bola tersebut memantul ke arah yang salah.

Aku memperhatikan dari jendela sampai anak itu menyadari keberadaanku dan melambaikan tangan, membuatku buru-buru bersembunyi di balik tirai karena aku belum siap menyapa orang yang bahkan belum kuketahui namanya.

Beberapa saat kemudian, bel rumah kami berbunyi dan Ibu menyuruhku tetap berada di ruang tengah sementara ia membuka pintu depan.

Aku mendengar suara perempuan yang ramah, lalu suara anak kecil yang bertanya apakah aku boleh bermain dengannya, seolah-olah bermain bersama adalah hal yang semudah meminjam pensil.

“Nina, ada teman yang ingin mengajakmu bermain.”

Aku berdiri di dekat sofa sambil meremas ujung bajuku, sebab aku ingin bermain tetapi juga takut tidak tahu harus mengatakan apa ketika sudah berada di luar pagar.

Anak perempuan itu menatapku dengan mata bulat dan senyum lebar, lalu mengangkat bola kuningnya seolah-olah benda tersebut bisa menjadi alasan yang cukup untuk membuat kami langsung berteman.

“Aku namanya Rara, kamu mau main bola?”

Aku mengangguk pelan, kemudian melihat ke arah Ibu untuk memastikan bahwa aku benar-benar boleh pergi, dan Ibu membalasnya dengan senyum yang sedikit membuatku lebih berani.

Aku mengambil sandal dan berjalan keluar, sementara Rara sudah berlari ke halaman sebelum aku sempat mengikat tali sandalku dengan benar.

Awalnya aku hanya menendang bola pelan-pelan karena takut membuatnya jatuh ke jalan, tetapi Rara tertawa setiap kali tendanganku meleset dan berkata bahwa bola memang suka pergi ke tempat yang tidak direncanakan.

Aku menyukai cara Rara berbicara kepada bola seolah-olah benda itu punya pikiran sendiri, sehingga aku mulai merasa bahwa mungkin kami akan cocok menjadi teman.

Kami bermain sampai napasku sedikit terengah-engah, lalu duduk di dekat pagar untuk beristirahat sambil memperhatikan seekor kucing yang berjalan di atas tembok dengan wajah seolah-olah seluruh halaman adalah miliknya.

Lihat selengkapnya