Felix menegakkan tubuhnya, melangkah pelan memutari meja. Setiap gesekan sepatu kulitnya di atas lantai marmer bergaung seperti dentang lonceng kematian bagi pernikahan mereka.
"Apa kau lupa tujuan awalmu menikah denganku? Atau kau mulai lupa diri?" Felix mendekat, melipat kedua tangannya di dada. "Mau aku ingatkan kembali posisi itu? Kau adalah istri seorang pengusaha di atas kertas. Kontrak lima tahun. Kita sama-sama diuntungkan. Kau hanya perlu berpura-pura menjadi istri baik yang kucintai di depan publik, dan aku menyuntikkan dana segar untuk menyelamatkan keluargamu yang bangkrut. Bukankah ini transaksi yang sangat jelas?"
Anya menatap lurus ke dada tegap Felix yang terbungkus kemeja hitam yang terpotong rapi. Jarak di antara mereka menipis, menembus batas kenyamanan yang biasanya dipelihara.
"Kau tidak perlu melewati batas dan menganggap pernikahan ini nyata," tekan Felix, suaranya mengalun seperti bisikan berbahaya di dekat wajah Anya. "Kau hanyalah bayangan yang berada di sampingku untuk menjalani kepura-puraan, tidak lebih dari itu. Dan aku rasa... tiga tahun sudah cukup untuk kepura-puraan ini."
Felix berbalik hendak melangkah pergi, menyapu aroma sandalwood dan wiski mahal yang membuat dada Anya makin sesak.
"Kenapa Anda ingin mengakhirinya sekarang?" potong Anya cepat, suaranya serak namun tertahan. "Masih ada dua tahun tersisa di dalam kontrak. Saya tidak peduli jika Anda memiliki wanita lain di luar sana... tapi setidaknya, bertahanlah sampai kontrak ini habis."
Langkah Felix terhenti seketika. Ia berbalik, menatap Anya seolah wanita itu baru saja mengutarakan kegilaan terbesar.
"Sungguh menakjubkan," ujar Felix dengan tawa getir. Ia melangkah maju, memangkas habis jarak di antara mereka hingga sosok tinggi besarnya membayangi Anya sepenuhnya. "Kau tahu, Anya? Kau adalah orang pertama yang cukup memberiku kesan lambung. Apa yang kuberikan selama tiga tahun ini belum cukup? Atau kau ingin aku bertahan hanya agar aku tetap menjadi ATM berjalanmu?"