Keheningan di antara mereka berdetak begitu lambat, bermuatan gairah dan ancaman yang saling mengikat. Pernyataan cinta yang meluncur dari bibir Felix Vincenzo sejenak melumpuhkan seluruh pertahanan Anya Valerie. Di dalam rongga dadanya, detak jantungnya bergemuruh hebat, beradu dengan napasnya yang tertahan di udara dingin.
Apakah ini nyata? Bisakah ia berharap pada pria ini sekali saja?
Namun, kehangatan semu itu menguap secepat kilat ketika mata gelap Felix memancarkan kejamnya kenyataan. Rahang pria itu terangkat sedikit, mengukir senyum tipis—sebuah kurva di bibirnya yang bukannya memancarkan kelembutan, melainkan cemoohan yang tajam dan tak berdosa.
"Kau tidak mungkin benar-benar berharap aku mengatakan hal itu, bukan?" bisik Felix, suaranya mengalun seperti beludru racun tepat di atas permukaan bibir Anya.
Itu adalah kali pertama Anya melihat Felix tersenyum begitu lebar di hadapannya, namun senyuman itu terasa lebih dingin daripada es di Kutub Utara. Pria itu menikmati ketidakberdayaan Anya, merayakan momen di mana harapan yang baru saja mekarnya ia remukkan dengan tangannya sendiri.
Dada Anya bergetar hebat. Rasa hangat yang sempat menyusup ke pembuluh darahnya kini berganti menjadi rasa sakit yang menjalar dan membakar.
"Anda sesenang itu mempermainkan saya?" tanya Anya, suara seraknya tertahan di antara napas mereka yang tumpang tindih. Ia menatap iris gelap Felix, mencari sisa kemanusiaan di sana. "Ternyata, selama ini Anda benar-benar tidak pernah menerima saya sebagai seorang istri..."