No Marriage is Perfect

NonaAquarius
Chapter #5

Bab 5 Tanpa Riasan

Anya berdiri mematung di depan cermin rias yang dikelilingi pendar cahaya hangat. Di dalam pantulan kaca, jemarinya bergetar perlahan usai menyapu riasan tebal yang selama tiga tahun ini menjadi perisai utamanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, garis wajah aslinya menyeruak tanpa celah.


Sisa-sisa make-up yang luntur oleh air mata telah dibersihkan sepenuhnya, menyisakan kulit pucat bermandikan rona alami. Tanpa lapisan bedak dan pewarna bibir yang tegas, Anya tidak lagi terlihat seperti wanita bisnis berdarah dingin yang kaku dan tak terjangkau. Sebaliknya, yang terpantul di cermin adalah paras yang begitu halus, polos, dan rapuh. Mata berwarna almond yang berbinar basah, dibingkai bulu mata lebat nan lentik, serta bibir ranum berwarna merah muda alami yang sedikit bergetar.

Riasan tebal itu hanyalah topeng—cara Anya menyembunyikan luka hati dan kepura-puraan bahwa ia baik-baik saja. Namun malam ini, topeng itu telah hancur.


Ia menatap turun ke arah gaun malam tipis dari bahan sutra transparan yang membalut tubuhnya. Kain itu terlalu minim, jatuh pas di lekuk tubuhnya, hanya menyisakan kehangatan samar yang merayap di kulit. Ini adalah keputusasaan paling liar yang pernah ia ambil. Jika ini adalah malam terakhirnya di rumah ini sebelum surat perceraian itu disodorkan, Anya ingin meruntuhkan seluruh gengsi dan harga dirinya. Ia ingin menyerahkan seluruh jiwa dan tubuhnya—menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri untuk pertama dan terakhir kalinya.


"Toh, di matanya aku sudah begitu rendah..." bisik Anya pada pantulan dirinya sendiri, suara seraknya bergema sunyi di dalam kamar.


Gugup menghantam dadanya seperti gelombang pasang. Ketakutan akan celaan Felix membuat paru-parunya sempit, namun harapan kecil yang tersisa di sudut hatinya mendorong kakinya untuk melangkah keluar kamar.


Langkah kaki Anya terhenti di depan pintu utama kamar Felix. Udara di lorong terasa membeku. Napasnya memburu kaku, jemarinya mengepal erat pada pinggiran gaun malamnya yang minim bahan untuk menahan getaran hebat di seluruh persendiannya.


Tanpa mengetuk, Anya mendorong pintu kayu jati itu hingga terbuka lebar.

Gemerincing engsel pintu memotong keheningan. Di ambang balkon, Felix Vincenzo menoleh. Iris gelapnya membeku seketika saat mendapati siluet wanita yang berdiri di ambang pintu kamarnya.


Felix tertegun. Terkejut bukan hanya karena kehadiran Anya yang tak terduga di dalam wilayah pribadinya, melainkan karena penampilan wanita itu yang secara drastis menelanjangi persepsinya selama tiga tahun terakhir.


Anya berdiri di sana, terbungkus kain transparan yang mengekspos garis-garis lembut tubuhnya di bawah pendar lampu temaram. Pakaian itu begitu minim, begitu provocatif, menyingkap kehangatan kulit dan lekuk feminin yang selama ini tersembunyi rapat di balik setelan kerja kaku.


Namun, yang membuat jantung Felix berdesir hebat—sebuah hentakan liar yang tak sanggup ia kendalikan—adalah wajah Anya.


Tidak ada riasan. Tidak ada topeng cuek. Wajah polos itu terlihat begitu murni, memancarkan kecantikan alami yang jauh lebih memikat, sensual, dan berbahaya daripada wanita mana pun yang pernah Felix temui. Mata almond-nya yang berembun menatap Felix dengan kerentanan murni, sementara bibirnya yang basah ranum sedikit terbuka, mengundang desakan napas yang tertahan.


Lihat selengkapnya