No Marriage is Perfect

NonaAquarius
Chapter #6

Bab 6 Rasa Gugup

Suara desir angin pendingin udara memenuhi seisi ruangan yang luas dan temaram itu, terasa menusuk hingga ke sumsum tulang Anya Valerie. Di atas kasur berukuran king-size yang terbungkus sprei sutra hitam, tubuh rentannya terkunci rapat di bawah bayangan tegap Felix Vincenzo.

Genggaman jemari Felix di kedua pergelangan tangan Anya terpasang begitu ketat, seperti borgol besi yang menekan pembuluh darahnya hingga memicu rasa nyeri yang terpendam. Rahang Felix mengeras, manik mata gelapnya berkilat oleh amarah yang belum padam, berkobar di atas kerentanan Anya yang terpapar tanpa sisa. Anya tak berani bergerak, bahkan tak berniat memprotes. Sejak awal, Felix telah menegaskan bahwa kelembutan adalah hal terakhir yang boleh ia harapkan malam ini.


Cengkeraman itu perlahan melonggar, namun tekanan psikologis yang mengudara justru makin mencekam. Berat tubuh Felix yang menindihnya membuat dada Anya terasa terimpit, mengikis pasokan oksigen di paru-parunya.


"Bukankah posisi ini terbalik?" bisik Felix dengan suara bariton yang dalam, dingin, dan bergetar oleh hasrat yang tertahan. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter di atas wajah Anya. "Kau yang mendatangi kamarku. Kau yang memohon untuk melayaniku. Seharusnya kau yang berada di atas. Kau yang memuaskanku, bukan aku yang melayani dirimu."


Felix tersenyum tipis—sebuah kurva di bibirnya yang penuh cemoohan. Pria itu menopang tubuhnya, lalu mundur perlahan hingga ia berbaring terlentang di tengah ranjang, menyadarkan punggung bidangnya pada kepala ranjang.


"Turun," perintah Felix, nadanya datar namun sarat kepemilikan yang mutlak. "Merangkaklah naik ke atas tubuhku. Bukankah itu peran yang lebih cocok untuk wanita yang melemparkan dirinya sepertimu?"


Setiap kata yang meluncur bagai asam cair yang membakar harga diri Anya. Namun, dengan bibir bawah yang bergetar dan kelopak mata yang berembun, Anya mematuhi perintah itu. Ditelannya bulat-bulat rasa malu yang menghanguskan dadanya. Ia bergerak perlahan, merangkak naik di atas kasur yang empuk, membiarkan rambut panjangnya terurai berantakan menyapu bahunya yang terbuka.


Di bawah pendar lampu dinding yang redup, keindahan tubuh Anya mengekspos kontradiksi yang menyiksa benak Felix. Gaun malam tipis transparan yang membungkus kulit mulusnya tidak mampu menyembunyikan kontur feminin yang begitu sempurna. Namun di balik keindahan fisik yang liar dan menggoda itu, raut wajah Anya tetap polos, murni, dan tanpa riasan—seseorang yang pasrah menyerahkan segalanya.

Lihat selengkapnya