No Marriage is Perfect

NonaAquarius
Chapter #7

Bab 7 Memuaskan Felix

Anya menarik napas tipis, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Perlahan, jemarinya yang masih bergetar mengangkut keberanian. Ia mengulurkan tangan ke dada Felix, menyusupkan jarinya ke celah kimono tidur berbahan sutra yang dikenakan pria itu, lalu mendorong kain itu hingga dada bidang berotot milik Felix terpapar sepenuhnya.


"Aku ingin melihat bagaimana caramu melayaniku sampai aku puas," tegas Felix, suaranya berat, sarat akan tekanan gairah yang mulai menguasai kendalinya. "Jangan buat aku kecewa, Anya."


Anya menelan saliva. Momen ketika telapak tangannya akhirnya menyentuh kulit dada Felix, rasa hangat dan padatnya otot pria itu mengirimkan getaran sengatan listrik yang merambat langsung ke pusat sarafnya. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia menyentuh seorang pria secara intim.


Namun, seiring dengan sentuhan itu, sebuah bayangan hitam melintas kilat di sanubarinya. Tubuhnya mendadak menegang, persendiannya membeku, dan gelombang ketakutan yang purba mendadak mencekik lehernya. Memori kelam berusia empat tahun lalu—ketika ia menjadi korban percobaan kekerasan seksual saat berusia delapan belas tahun—kembali mencuat seperti hantu yang menakutkan. Trauma yang terpendam rapat itu mencengkeram dadanya, membuat napasnya memburu kaku dan matanya merebak oleh air mata ketakutan.


Felix menyadari perubahan drastis pada tubuh Anya. Getaran hebat di jemari wanita itu dan napasnya yang patah-patah membuat Felix mengernyitkan dahi. Amarah dan gairahnya tertahan oleh kepanikan samar yang melihat kerentanan murni di mata istrinya.


Dengan gerakan yang tak terduga, Felix mengulurkan tangannya, melingkarkan jemari besarnya di atas jemari Anya yang tertahan di dadanya. Sentuhannya kali ini tidak lagi kasar, melainkan hangat dan mantap.


"Tidak apa-apa," bisik Felix dengan nada suara yang sedikit melunak, meski raut wajahnya masih memperlihatkan ketegangan yang tertahan. "Jika ini pertama kalinya bagimu... aku yang akan mengambil kendali."


Anya memejamkan mata sejenak, membiarkan kehangatan telapak tangan Felix mengikis sisa-sisa bayangan kelam masa lalu. Pria di hadapannya ini adalah suaminya—pria yang selama tiga tahun ini memegang seluruh hatinya, betapa pun kejamnya kata-kata yang keluar dari bibirnya.


"Maafkan saya..." bisik Anya, membuka matanya perlahan. "Saya akan... melakukan yang terbaik."


Lihat selengkapnya