No Marriage is Perfect

NonaAquarius
Chapter #8

Bab 8 Gugup

Sentuhan lembut yang mengalir dari jemari Felix perlahan meredakan badai ketegangan di dalam dada Anya. Ciuman itu tidak lagi menuntut, melainkan membawa ritme baru yang menghanyutkan. Namun, ketika tangan Felix dengan terampil merayap ke punggungnya dan mengait pengait pakaian dalamnya, kesadaran Anya tersentak.


Ia langsung melepas tautan bibir mereka, menarik diri, dan menyilang kedua tangannya di depan dada untuk menyembunyikan ketelanjangannya.


Felix terdiam. Manik matanya menatap tajam ke arah Anya yang memeluk tubuhnya sendiri dengan jemari yang gemetar.


"Apa aku tidak boleh melihatnya?" bisik Felix, suaranya begitu rendah, berat, dan sarat akan dominasi yang mengikat.


"Sa-saya..."

Belum sempat Anya merangkai kata, Felix bergerak cepat. Dalam satu gerakan mulus, pria itu menukar posisi, menindih tubuh Anya kembali. Napas Anya tertahan, debar jantungnya kembali menggila, melampaui batas kewajaran.

"Bi-bisakah... lampunya dimatikan?" pinta Anya dengan suara tercekat, nyaris berupa ratapan.


Felix tidak menjawab. Pria itu mengabaikan permohonan tersebut sepenuhnya. Dengan tatapan yang makin gelap oleh gairah, Felix menyingkirkan kedua tangan Anya dan melepaskan sisa pelindung tubuh wanita itu hingga sepenuhnya terbuka di bawah pendar lampu temaram.


Pandangan Felix turun menyapu lekuk tubuh Anya yang tanpa sehelai benang pun. Keindahan murni dari kulit pucat bagai pualam itu membuat rahang Felix mengeras, membakar sisa-sisa kewarasannya. Felix merunduk, menelusuri leher jenjang Anya dengan bibirnya, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang panas dan menuntut. Sentuhan itu berubah sedikit lebih kasar, didorong oleh gelombang nafsu yang menguasai akal sehatnya.


Di bawah tekanan itu, Anya tanpa sadar meloloskan desahan halus dari bibirnya—sebuah suara lembut yang justru memicu letupan liar di dalam diri Felix. Pria itu kembali membungkam bibir Anya dengan lumatan yang dalam, lalu turun menyapu sensitivitas di telinganya, membuat Anya merasa kehilangan pegangan atas dunianya sendiri.


Sensasi asing ini membakar sekujur saraf Anya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tubuhnya merespons dengan kenikmatan yang begitu intens, melunturkan rasa takut dan membawanya pada pusaran hasrat yang menuntut lebih.


Felix membelah kedua lutut Anya, menempatkan dirinya di antara renggangan tubuh wanita itu untuk memulai penyatuan. "Rasanya akan sedikit sakit di awal..." bisiknya serak di dekat telinga Anya, "tapi... ini akan mendatangkan kenikmatan."


Anya mengangguk pelan, memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan tekanan berat di hadapannya.


Satu sentakan.

Tubuh Anya menegang kaku. Rasa perih yang tajam langsung menusuk, berpadu dengan sensasi penuh yang menghantam rongga dadanya.

Lihat selengkapnya