Di dalam kamarnya yang lengang, Anya Valerie duduk terpaku di hadapan meja rias. Cahaya lampu menyinari pualam kulitnya yang pucat. Setiap kali pandangannya beradu dengan pantulan dirinya di cermin, dadanya dihantam kepedihan yang lambat dan meremukkan.
Di bawah pendar temaram itu, tubuhnya dihiasi jejak-jejak kemerahan yang pekat—sebuah tanda kepemilikan yang tertoreh dari gairah dan benturan emosi Felix beberapa saat lalu. Tanda-tanda fisik itu tidak terasa hangat, melainkan membakar jiwa Anya dengan kenyataan betapa kasarnya perlakuan sang suami. Penyatuan fisik yang baru saja mereka lalui sama sekali tak melunakkan benteng dingin di hati Felix.
Anya memeluk dirinya sendiri. Air mata dingin menetes perlahan, membasahi pipinya tanpa suara. Cinta sepihak ini terlalu menyiksa... Namun yang paling memukul hatinya adalah fakta menyedihkan bahwa betapa pun merendahkannya tatapan dan kata-kata Felix, ia tetap tak sanggup membenci pria itu.
Ia takut menghadapi esok hari. Ia takut pada saat di mana Felix akan melangkah mendekatinya dengan selembar kertas yang akan menghapus jejak tiga tahun keberadaannya di hidup pria itu.
Sementara itu, di kamar utama, Felix keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk putih terlilit di pinggangnya. Tetesan air merayap turun di atas otot dadanya yang tegap dan rata. Gemeringis dering ponsel di atas meja nakas memotong keheningan malam.
Felix melangkah mendekat, memicingkan mata saat mendapati nama yang tertera di layar. Dalbert Alexio.
Dahi Felix mengernyit tajam. Amarah dingin menyulut benaknya. Apa wanita itu langsung mengadu pada ayahnya? pikir Felix, menghakimi Anya tanpa ragu. Ia sudah muak dengan segala drama ini. Ia ingin menyudahi kontrak, memutus ikatan, dan bebas dari wanita yang ia anggap penuh kepura-puraan itu.
Felix menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo," sapanya dingin, tak berusaha menyembunyikan nada kaku di suaranya.