Jumat, 06 Desember 2024. Waktu rasanya terbanting ke hari itu. Hari ketika semua kekacauan ini bermula.
Suasana kelas siang itu benar-benar riuh dan gerah setelah bel pulang jam ujian berbunyi. Wali kelas kami, Bu Mayah, keluar setelah memberikan pengumuman yang sukses membuat satu kelas mengeluh berjamaah: tugas akhir semester membuat kerajinan vas bunga untuk perlombaan antarkelas. Tugas ini terkenal melelahkan jiwa dan raga karena persyaratannya agak banyak. Sayangnya, saya, Inayah, dan Ayra lah yang dipilih ketua kelas untuk mewakili kelas ini. Mau tidak mau, kami harus bergerak cepat. Dalam hitungan detik, kami sudah duduk melingkar. dan resmi menjadi satu tim.
Tidak lama setelah kami berkumpul, Iram, si ketua kelas yang menunjuk kami, datang menghampiri. Dia menarik satu kursi kosong lalu ikut duduk melingkar. Wajahnya tampak tanpa dosa, padahal dia baru saja melemparkan beban berat ini ke pundak kami bertiga.
“Sorry, ya, guys, gue terpaksa tunjuk kalian,” ucap Iram sambil menyengir, kemudian beralih ke mode serius. “Tapi ini demi nilai kelas kita juga. Bu Mayah tadi kirim syarat-syaratnya ke gue, jadi tolong disimak dulu.”
“Kenapa gak dikirim lewat WhatsApp aja ke kami?” kata Inayah.
Iram mengangguk. “Iya, nanti gue kirim juga, kok. Sekarang, gue mau jelasin lagi biar gak ada miskomunikasi.”
Kami bertiga hanya bisa menghela napas pasrah.
“Pertama, bunganya harus artifisial, gak boleh pakai bunga asli karena gampang layu, dan gak boleh pakai bunga recycle karena … gak tau, di sini aturannya gitu. Kedua, vas bunga wajib berbahan keramik atau kaca, sama sekali gak boleh plastik, dan bentuknya harus kotak persegi. Ketiga, proses pembuatannya harus direkam minimal selama dua menit, itu udah termasuk dari awal sampai jadi produknya. Terakhir, kalian bertiga wajib post twibbon di media sosial masing-masing dan di caption wajib tag akun OSIS dan akun SMA kita. Link template twibbon nanti juga gue kirim. Dan, vas bunganya dikumpulin minggu depan, di hari Jumat.”
“Bentar, Ram. Ini lo lagi bacain syarat lomba tingkat nasional atau gimana, sih? Ribet amat.” Saya mengeluh, langsung memijat pelipis yang mendadak pening.
Inayah berdecak. “Mana harus beli vas keramik kotak lagi. Cari di mana coba?”
“Sebenernya kalau vas bunga dan lain-lain bisa kita beli di online, tapi pertanyaannya, waktunya cukup atau gak buat barangnya sampe? Takutnya lama di jalan,” timpal Ayra. “Ini aja udah Jumat. Cuma enam hari buat persiapan dan bikin produknya.”
“Ya … jangan salahin gue. Kan gue cuma bantu infoin aja ke kalian. Kalau mau ngadu, ke OSIS dan sekolah aja. Mereka yang buat acaranya,” tutur Iram.
Kami bertiga saling tatap. Tidak salah, sih.
Iram mengetuk-ngetuk jarinya ke meja, memastikan kami kembali menyimak. “Kriteria penilaiannya, kreativitas 25 persen, komposisi dan keseimbangan 25 persen, teknik keterampilan 25 persen, dan kebersihan plus kerapian 25 persen.”
“Ribet banget. Kayak jurinya sepaham itu aja sama karya,” sindir Inayah.