No Record Found

Ahmad Muamar Z.
Chapter #3

Bab 2: Your Day Will Come

Rabu, 11 Desember 2024. Saya membawa kardus besar berisi bahan-bahan bunga artifisial dan vas keramik kotak yang kami pesan secara daring. Beruntung, ada opsi pengantaran cepat dan kilat, sehingga pesanan kami tidak datang terlambat, meskipun menurut saya pribadi tidak cepat-cepat amat, sih.

Hari itu, saya membawa kardus menyusuri koridor, lalu bertemu Inayah dan Ayra di dekat belokan. Kami bertiga kemudian bersama-sama membawanya menuju ruang BK. Beban kardus ini tidak begitu berat, tetapi karena sudah saya pegang sejak tadi, cukup membuat tangan pegal.

Sampai di pintu depan ruang BK, kami melepas sepatu dan merapikannya di depan pintu yang telah ada beberapa pasang sepatu lain. Begitu pintu didorong, hembusan angin dingin dari AC ruangan langsung menyapu wajah kami. Aroma karpet dan aromaterapi yang menenangkan, serta suara gemericik air dari akuarium besar itu, langsung menyambut kami. Kontras sekali dengan suasana lapangan sekolah yang sedang bising oleh teriakan anak-anak yang menonton pertandingan lomba sepak bola antarkelas.

Di dalam ruangan, suasananya tidak begitu sepi. Di salah satu sudut meja besar, saya melihat Mikay dan Alila, anak kelas lain, sedang asyik duduk menumpang mengerjakan tugas yang sama seperti kami: Lomba vas bunga.

Kami bertiga melangkah masuk, mencari sisi meja yang kosong untuk mulai menggelar bahan-bahan kami. Pak Jafar yang sedang duduk di mejanya mendongak, lalu melempar senyum ramah ke arah kami. Beliau langsung mengangguk santai begitu kami menyapa, membuat kami makin merasa kalau tempat ini adalah pilihan yang paling tepat.

Sebenarnya, kami tidak asal masuk begitu saja. Hari Senin kemarin, saya sudah meminta izin langsung untuk memakai ruangan ini pada Pak Jafar, kemudian beliau membalasnya dengan sangat ramah, memperbolehkan kami datang kapan saja selama jam sekolah. Hal ini juga yang membuat saya menyukai guru-guru muda di sekolah ini: Mereka ramah dan baik-baik sekali.

Kami mulai membuka kardus besar itu di atas meja. Inayah langsung bertugas mengeluarkan vas keramik kotak yang syukurnya sampai dalam keadaan utuh tanpa retak sedikit pun. Sementara itu, Ayra mulai sibuk menatap bunga-bunga artifisial, memotong tangkainya yang terlalu panjang, dan menyusunnya berdasarkan gradasi warna yang pas. Saya sendiri kebagian tugas memegang ponsel, merekam dari sudut-sudut yang sekiranya diperlukan, sebagai syarat video proses pembuatan yang diminta Iram. Ralat, diminta panitia perlombaan, yaitu OSIS.

“Wah, niat banget kelompok lo, Sam,” celetuk Mikay dari seberang meja. Dia dan Alila rupanya ikut memperhatikan kesibukan kami sejak tadi.

“Iya nih, vasnya sampai pakai keramik asli segala,” timpal Alila sambil melihat ke arah vas kotak kami dengan kagum. “Kelompok gue cuma pakai vas kaca bening biasa beli di pasar.”

Lihat selengkapnya