No Record Found

Ahmad Muamar Z.
Chapter #4

Bab 3: The Fuck

Besoknya. Kamis, 12 Desember 2024. Pagi itu terasa cerah dan bersemangat, setidaknya sampai kami bertiga melangkah melewati gerbang sekolah. Sesuai rencana, hari ini adalah hari pengumpulan vas bunga ke ruang OSIS. Saya, Inayah, dan Ayra sengaja datang lebih awal, sekitar pukul setengah tujuh, agar punya banyak waktu untuk memindahkan mahakarya kami tanpa perlu terburu-buru.

Kami berjalan beriringan menyusuri koridor menuju ruang BK dengan langkah ringan. Di kepala kami, sudah terbayang penilaian sempurna dan pujian dari teman-teman kelas yang kami wakili. Sampai di depan pintu ruang BK, kami melepas sepatu dengan cepat, lalu saya mendorong pintu itu seperti biasa. Hembusan angin AC dingin kembali menyambut, tetapi entah kenapa, suasana ruangan pagi ini terasa berbeda.

Langkah kaki saya mendadak terhenti tepat di tengah ruangan. Pandangan saya langsung tertuju pada sudut meja besar, tempat kami meninggalkan vas keramik putih susu itu kemarin sore.

Kosong.

Tidak ada apa-apa di sana. Hanya permukaan meja kayu yang bersih mengilat. Jantung saya rasanya mencelos ke tempat paling dalam. Saya mengerjapkan mata beberapa kali, berharap saya hanya salah lihat karena masih mengantuk. Namun, hasilnya tetap sama. Vas bunga hasil kerja keras kami, yang membuat air mata dan tenaga kami diperas habis, hilang tanpa bekas.

“Loh? Bunganya mana?” tanya Ayra dari belakang saya, suaranya langsung bergetar panik.

Inayah menerobos maju, memeriksa kolong meja dan sudut-sudut ruangan dengan napas yang mulai memburu. “Kok gak ada? Kemarin kita taruh di sini, ‘kan? Jelas-jelas di meja ini!”

Ruangan yang kemarin terasa seperti tempat paling aman, sekalipun kiamat, mendadak berubah menjadi ladang kuburan yang mencekam bagi semangat kami.

Di tengah kepanikan kami yang mulai mengaduk-aduk ruangan, terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah pintu. Saat menoleh, saya melihat Pak Tufan berjalan masuk sambil menggendong tasnya. Beliau menatap kami bertiga dengan dahi mengkerut, sepertinya terganggu dengan kegaduhan yang kami buat sepagi ini.

“Kalian ngapain di sini pagi-pagi? Ribut sekali,” tegur Pak Tufan dengan suara beratnya yang ketus.

Inayah langsung berbalik, wajahnya pucat, tetapi matanya menuntut jawaban. “Pak, maaf … Bapak lihat vas bunga keramik kotak yang kemarin sore kami taruh di meja ini, gak, ya? Bunga artifisial putih, Pak.”

Pak Tufan menaruh tasnya di meja dengan hentakan pelan, lalu menatap kami bergantian dengan pandangan dingin. Bukannya membantu mencari, beliau malah mendengus.

Lihat selengkapnya