Kami bertiga berjalan cepat menuju ruang sebelah, tempat ruang seni berada. Langkah kaki kami terasa berat, didorong oleh sisa-sisa harapan yang mulai menipis. Sepanjang jalan, Ayra masih sesenggukan kecil sambil mengusap matanya yang mulai sembap, sementara Inayah terus berjalan dengan rahang mengatup rapat, menahan amarah yang tidak dapat tersalurkan.
Begitu sampai di depan ruang seni, pintunya sudah terbuka lebar. Aroma khas cat minyak, tumpukan kanvas, dan kayu tripleks langsung menyerang indra penciuman kami. Di dalam ruangan, tampak Bu Esni, guru seni budaya kami, sedang sibuk menata beberapa patung tanah liat di atas rak pajangan.
“Bu Esni …,” panggil Inayah dengan suara serak.
Bu Esni menoleh, meletakkan patung di tangannya, lalu menatap kami bertiga dengan dahi mengkerut melihat kondisi kami yang berantakan sepagi ini. “Eh, kalian kenapa? Pagi-pagi kok mukanya sudah ditekuk begitu?”
“Bu, maaf mengganggu.” Saya membuka suara, mencoba terdengar setengah mungkin meski dada saya masih berombak hebat. “Ibu ada lihat atau menemukan vas bunga keramik kotak warna putih yang ada bunga artifisialnya gak, ya, di sini? Atau mungkin kemarin sore ada yang memindahkan ke ruangan ini?”
Bu Esni menghentikan kegiatannya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang seni yang penuh dengan berbagai barang kerajinan siswa. Beliau menggeleng pelan. “Vas bunga keramik kotak? Tidak ada, Samil. Dari kemarin sore, ruangan ini Ibu kunci rapat, baru Ibu buka lagi pagi ini. Ibu juga tidak ada menerima titipan vas bunga dari siapa pun.
Jawaban Bu Esni rasanya seperti hantaman batu yang menghancurkan sisa harapan kami. Lutut Ayra lemas, dia hampir terduduk kalau saja tidak buru-buru memegang pinggiran meja kayu panjang di dekatnya.
Melihat kami bertiga yang lesu, Bu Esni mendekat, menepuk-nepuk bahu Ayra dengan lembut. “Aduh, kok bisa hilang, sih? Harusnya kalian bilang Ibu kemarin dan taruh di sini saja. Lebih aman kalau di ruang seni.”
Kami bertiga hanya bisa diam dan saling lirik dengan penyesalan yang terlambat.
Bu Esni tampak ikut berpikir keras, lalu matanya mendadak berbinar seakan teringat sesuatu. “Eh, kalau gitu kenapa kalian gak coba lihat CCTV dulu aja? Siapa tahu kemarin sore terekam siapa yang masuk ke ruang BK atau membawa vas bunga kalian keluar dari sana.”
Mendengar saran dari Bu Esni, kami bertiga mendongak kompak. Secercah harapan kembali datang pada kami.