Kami bertiga serentak menoleh. Dari ujung koridor, Iram berjalan setengah berlari menghampiri kami dengan papan klip di tangan kanannya. Senyum lebar khasnya masih melekat di wajah, memancarkan aura tanpa dosa yang seketika hanyut begitu dia berdiri cukup dekat untuk melihat mata Ayra yang bengkak dan wajah kami yang kusut.
“Loh, kalian kenapa? Kok malah pada madesu (masa depan suram) begini tampangnya? Ayra nangis?” tanya Iram bingung, bergantian menatap kami bertiga.
“Vas bunga kelas kita hilang, Ram,” jawab saya langsung, tanpa basa-basi. Suara saya terdengar sangat datar, sisa dari rasa lelah yang menguras emosi sejak tadi pagi.
“Hah? Hilang gimana? Jangan bercanda, deh, Sam! Hari ini kan tenggat terakhir dikumpulin ke OSIS, jam delapan!” Suara Iram langsung naik satu oktav. Wajahnya mendadak pias, sepertinya langsung terbayang nilai estetika kelas kami yang terancam kosong.
Inayah menghela napas tajam, lalu menceritakan semuanya dengan berapi-api, mulai dari ruang BK yang kosong melompong, gaslighting dari Pak Tufan yang menuduh kami tidak mau mendengar larangannya, sikap lepas tangan Pak Jafar, sampai kenyataan pahit bahwa CCTV koridor hanyalah pajangan. Iram mendengarkan dengan mulut setengah terbuka, beberapa kali memegangi kepalanya yang mendadak ikut pening.
“Sumpah? Demi apa, sih? Kok bisa gitu?” Iram menggaruk rambutnya frustrasi, mondar-mandir di koridor. “Aduh, mampus, deh. Kalau gak ngumpulin vas bunganya, kelas kita bisa didenda sama OSIS.”
“Ya, lo jangan mikirin nilai doang dong, Ram! Lo pikir kami gak capek? Kami udah peras tenaga sama air mata buat bikin itu vas, dan sekarang malah dituduh nyampah!” semprot Inayah, emosinya yang sempat tertahan kini meledak ke arah Iram.
“Iya, iya, sorry, maksud gue bukan gitu,” potong Iram cepat, berusaha menenangkan Inayah. “Tapi tadi Pak Tufan beneran bilang kalau mungkin barangnya dibuang Mas Suris?”
Tepat setelah Iram menanyakan hal tersebut, pandangan saya tidak sengaja menangkap sosok pria paruh baya berkaos oblong abu-abu yang sedang berjalan di ujung koridor sambil membawa ember hitam dan sapu lidi. Itu Mas Suris, orang yang biasa membersihkan sekolah kami setiap sore hari.
“Eh, itu Mas Suris!” Saya menunjuk cepat. “Daripada nebak-nebak tuduhan Pak Tufan, mending kita tanya langsung.”
Tanpa membuang waktu, kami berempat langsung berjalan cepat menghampiri Mas Suris yang bersiap membersihkan area tangga koridor lantai satu.
“Mas Suris!” panggil Iram sedikit berteriak.
Pria paruh baya itu menoleh, menghentikan langkahnya di dekat anak tangga, lalu menatap kami berempat dengan dahi berkerut. “Eh, iya? Ada apa?”
Kami berempat langsung mengerubungi beliau. Inayah mengambil alih pembicaraan, mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar terlalu menuduh. “Mas, maaf mau tanya. Kemarin sore apas Mas Suris bersih-bersih di ruang BK, ada lihat vas bunga keramik kotak warna putih punya kelas kami, gak? Yang ada bunga artifisialnya, Mas.”