Waktu kembali melesat maju ke masa kini. Ruang aula sekolah pagi ini terasa sejuk oleh embusan angin AC, sunyi dari obrolan ratusan anak kelas 12 yang duduk memenuhi barisan kursi plastik. Saya duduk di barisan paling belakang, bersama Inayah dan Ayra yang ada di samping kanan, menikmati sisa-sisa waktu di acara seminar expo campus yang telah dimulai.
Di barisan yang sama, hanya berjarak dua kursi, saya menangkap sosok Mikay dan Alila. Begitu pandangan kami tidak sengaja bertemu, mereka langsung melambaikan tangan heboh dan menggeser duduk agar dapat mengobrol lebih dekat dengan kami.
“Samil, Inayah, Ayra!” bisik Mikay setengah tertawa, mencondongkan badannya ke depan. “Gila, kangen banget, gak, sih, sama suasana sekolah? Gak kerasa ya kita udah jadi kating aja di sini.”
Alila mengangguk cepat menyetujui, matanya berbinar memandang sekeliling aula. “Iya, sumpah. Gue kangen banget sama keributan koridor, jajan di kantin, pokoknya semua memori di sini!”
Inayah mendengus pelan, senyum tipis terasa agak dipaksakan. “Kalau gue? Jawabannya jelas gak. Gue gak kangen sama tempat ini.”
“Sama! Gue juga gak kangen sama sekali,” timpal Ayra ketus.
Mikay dan Alila kompak melirik ke arah saya, seolah meminta saya memihak mereka. Saya hanya tersenyum kecil dan menggeleng. Sebelumnya, saya ada sedikit rindu dengan sekolah ini, tetapi setelah tahu vas bunga kami yang hilang setahun lalu ternyata ada di ruang yang sama dengan tempat hilangnya, rindu saya lenyap. Jika Anda belum terbayang seperti apa rasanya, seperti kolam penuh air yang atasnya tetap terbakar api. Airnya tidak berguna, sementara apinya terus menyala.
Sebelum Mikay atau Alila merespons lebih jauh, suara dengung mikrofon memutus percakapan kami. Seorang pria paruh baya dengan pakaian necis melangkah mantap mendekati podium di tengah panggung.
Pak T****. Tentu Anda tahu siapa orang ini, jadi izinkan saya hanya menyebutkan huruf pertamanya saja.