No Record Found

Ahmad Muamar Z.
Chapter #8

Epilog

Saya percaya ada banyak sekali hal di dunia ini yang tidak memerlukan jawaban, termasuk ke mana vas bunga kami pergi selama setahun terakhir, atau alasan yang mendasari Pak T**** sampai tega menyembunyikannya selama ini. Setelah keriuhan di aula perlahan surut dan anak kelas 12 mulai berhamburan keluar untuk mengunjungi stan expo campus, saya memilih memisahkan diri. Langkah saya membawa saya menyusuri koridor lantai satu yang mulai renggang, berjalan menuju satu tempat yang menjadi muara dari seluruh rasa sesak ini.

Ruang BK.

Saya melepas sepatu di depan pintu itu. Suara gemericik air dari akuarium kembali menyambut langkah saya, suaranya masih sama persis seperti kala itu, berpadu dengan embusan angin AC yang dingin. Ruangan itu kosong. Pak T**** tampaknya masih tertahan di luar setelah seminar, sementara Pak Jafar entah sedang berada di mana.

Saya melangkah mendekati meja kerja Pak T****. Di sana, vas bunga keramik putih susu itu masih berdiri dengan anggun, memamerkan keindahan bunga artifisial yang kelopaknya sedikit berdebu. Saya menatapnya lekat-lekat. Ajaibnya, rasa marah membabi buta yang sempat membakar dada saya beberapa waktu lalu kini menguap total. Tersisa kedamaian yang … melegakan. Benda ini tidak lagi terasa seperti sebuah beban, melainkan sebuah saksi bisu bahwa kami telah bertahan melewati badai kelalaian orang dewasa di sekolah ini.

Saya tersenyum kecil, sementara tangan saya mulai meraba vas bunga. “Baik-baik, ya, di sini.”

Saya menarik kembali tangan saya, lalu merogoh saku dalam jaket almamater universitas. Di sana, selembar kertas putih yang sudah saya lipat rapi sejak setelah menjadi pengisi acara berpindah ke jemari saya. Surat tanpa amplop. Saya meletakkannya dengan perlahan tepat di samping alas vas bunga tersebut, memastikan posisinya cukup mencolok agar langsung terlihat begitu pemilik meja ini kembali.

Lihat selengkapnya