Noctivine

Cléa Rivenhart
Chapter #1

Bagian 01

Bab 01 Noctivine (Done) tapi belum editing tanda baca haha. Editor dipersilakan.



Terkadang ada perasaan yang tak perlu diungkapkan, cukup dirasakan dalam keheningan. Dalam damai yang diciptakan sendiri, dengan menepi. Namun semua itu terasa sia-sia. Ke mana pun Tamara pergi, tak ada benteng atau tembok yang mampu melindunginya dari riuh dunia. Suara derit asahan gergaji bapaknya terus menjerit di telinga Tamara, menutupi bising pecahan piring ketika Tom dan Jerry kembali bertengkar—dua musuh yang, anehnya, selalu bertahan hidup sebagai mitra dalam kekacauan. 


Ibunya baru saja pergi beberapa jam lalu. Tamara tidak sabar untuk menanyakan hadiahnya. Meski pun ibunya akan kembali nanti, dan rasanya ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan hadiahnya. Sebelum uangnya habis, sebelum semester baru dimulai. Agar dia bisa mempunyai kisah menyenangkan yang juga dimiliki teman-temannya setiap kali hari pertama masuk sekolah. Sembari menyisil biji matahari, dia menyusun kata demi kata agar menjadi kalimat yang tidak terbata-bata. Agar meyakinkan seperti ucapan pembawa berita saat membacakan kabar terkini yang memotong adegan paling seru kartun kesukaannya dan selalu sukses membuatnya kesal. Dan mungkin saja, dengan cara yang sama. Dia akan sukses membuat hati bapaknya luluh dan menuruti kemauannya. 


Satu demi satu biji kuaci itu bergiliran ditempatkan di bawah sepasang gigi tengahnya sebelum kemudian dihimpit sepasang gigi bawahnya. Begitu terus, setiap hari, selama beberapa tahun terakhir. Hingga membuat kedua pasang gigi atasnya itu jarang dan mengeluarkan siulan setiap kali dia bernapas menggunakan mulut. Sambil terengah dan berusaha tidak berantakan, otak kecilnya terus menyusun. Namun pada saat napasnya mulai tercekik, suaranya tertumbuk suara bapak-bapak di luar. Panggilannya menggelegar mengucapkan nama bapaknya, tawa mereka bersahutan mengalahkan pukulan tiba-tiba dan bertubi-tubi sapu tom ke tubuh Jerry dan begitu sebaliknya. Hingga membuat mereka bingung, dan Tamara bingung. 


“Sibuk enggak?.” Tanya bapak-bapak yang dia hapal suaranya, tapi tidak namanya itu. 

“Enggak, kenapa memangnya?.” 

“Ada proyek nih, borongan tapi. Sanggup?.” Tanyanya lagi. 

“Tergantung...” merapikan pakaian dan serpihan gergaji yang berkilau di kursi keramat yang sudah dua generasi, berdiri dan mengambil korek. 

Bapak itu langsung merogoh sakunya, seolah sudah tahu apa yang diinginkan bapaknya. Tanpa diminta, bapak itu mengeluarkan dua batang rokok. 

“Gimana, kita obrolin saja di tempatnya langsung. Biar kelihatan nanti.” Jelasnya sambil memimpin jalan. 

“Ayok.” Ucap bapak Tamara sambil menyesap menyalakan rokok. 


Mereka pun pergi dengan suara kerasnya yang kian jauh dan sayup-sayup. 


*** 


Biru langit bercampur luntur oleh angin timur ke barat, kian melebur abu kehitaman dengan kekecewaan Tamara tentang jarum jam yang terus bergerak, tapi tidak dengan gerakan pintu di sampingnya. Hawa dingin mulai bersiul masuk lewat pintu yang sama menganga seperti gigi tengahnya. Tidak... Belum ada bayangan seseorang berdiri di sana melepaskan sepatu bot. Tidak ada gesekan langkah kaki kesana kemari menggantungkan topi di paku yang menancap di kayu pancang rumah. Yang ada hanyalah nyamuk-nyamuk lapar yang menancap-nancap kaki kecilnya. 


Harusnya dia sudah mandi di jam itu, tapi teriakan absensi teman-teman di toa masjid tidak lantas membuatnya lari untuk tidak ketinggalan dan menjadi anak terakhir di pengajian. Dia tidak mau menganggap lagi kunang-kunang adalah abu rokok bapaknya karena pulang terlalu malam, sehingga dia percaya diri berjalan sok berani dan santai. Namun rasa penasaran dengan jawaban tentang pertanyaan yang belum sempat keluar dari gigi jarangnya. Lebih besar dari ketakutannya pulang malam. 


Pintu terbuka tiba-tiba, bapaknya segera melepaskan semua benda yang menempel di badannya. Berjalan meninggalkan karung yang fungsinya sudah menjadi tas itu, dan seperti biasa. Tamara mengorek-ngorek isinya, mencari... Barangkali ada hal yang bisa menjadi miliknya dan memang selalu menjadi miliknya. Karena dia anak satu-satunya, keluarga ini menjadi sangat tahu diri sebab kemiskinan hanya memberinya kesempatan memiliki Tamara, tapi juga terkadang menjadi egois sebab tidak memberikan teman kandung untuknya bermain, atau sekadar tidak membuat rumah ini sepi. Dan tidak lagi membuatnya iri pada saat melihat teman sebayanya dilindungi, sekali pun mungkin orang itu bertubuh lebih mungil dari temannya. 


Kamar mandi menjadi sangat ramai, bahkan seluruh rumah menjadi begitu berisik. Ruang kecil yang hanya cukup untuk ember, sumur, dan gayung itu menjadi arena bertarung kedua bapaknya setelah sawah, kebun dan rumah butut yang perlu dirubuhkan dan ditambal. Tamara kembali terduduk lemah karena tidak ada gulungan uang lusuh yang digulung dengan ikatan karet gelang. Sepasang kakinya membuat irama detak yang senada detak jantungnya yang kian cepat karena menahan kecewa. Dia terus memukul-mukulkan kaki belakangnya ke kursi papan itu sambil menonton Naruto. 


Tamara ragu-ragu.

Lihat selengkapnya