"Hei, berapa banyak pupuk yang dipakai untuk satu tanaman?" Seorang gadis tiba-tiba datang menghampiri pemuda bertubuh kurus yang sedang asyik menabur pupuk untuk tanaman jagung yang baru tumbuh beberapa senti.
Pemuda itu beralih ke garit selanjutnya dan kembali menabur pupuk di pinggiran tanaman jagung dengan memberi sedikit jarak. Ia tidak menghiraukan keberadaan gadis itu dan tidak berniat menjawab petanyaannya. Gadis itu membuntuti si pemuda sambil bersenandung kecil.
"Kenapa pupuknya tidak ditaburkan langsung di dekat tanamannya?" Gadis itu berhenti bersenandung, ia berjongkok melihat pupuk yang telah ditabur. "Kenapa harus diberi jarak?"
Pemuda itu mempercepat gerakannya, ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan pulang. Ia merasa terganggu oleh kehadiran gadis asing yang terus menanyakan hal-hal tidak penting. Beberapa kali pun pemuda jangkung itu mengingat, otaknya tidak pernah menemukan wajah gadis itu di antara semua warga desa hingga ia berpikir mungkin gadis itu datang dari kota untuk berkunjung ke saudaranya yang tinggal di sini, atau memang warga yang baru pindah. Ia juga tidak merasa harus beramah-tamah dengan seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.
"Bukannya akar jagung ini masih pendek? Akan lebih mudah ia menyerap pupuk kalau ditabur tepat di atasnya, kan? Di sini." Gadis itu menunjuk tepat di tempat tunas itu tumbuh.
Pemuda itu masih tidak berbicara dan tidak berniat menjawab satu pun pertanyaan dari sang gadis. Ia hanya ingin segera menyelesaikan tugas terakhirnya sore ini agar bisa cepat-cepat pulang. Tubuhnya sudah lelah mengerjakan berbagai hal hari ini.
"Hei, kamu tidak mau menjawab semua pertanyaanku?" Gadis itu berdiri menghadang pemuda itu dan berkacak pinggang. Pipi dengan rona kemerahan itu menggelembung, bibirnya yang sedikit pucat mengerucut layaknya seorang anak kecil yang sebal karena janji orang tua yang mengajaknya ke kebun binatang tidak ditepati.
"Tidak tahu," jawab pemuda itu singkat. Ia memutar visor topinya ke belakang dan melewati sang gadis untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia adalah orang terakhir yang masih ada di ladang sedangkan petani lainnya sudah menyelesaikan pekerjaan mereka dan pulang. Setiap hari pun, pemuda itu selalu pulang paling akhir.
"Kamu petani, tapi tidak tahu?" Gadis itu terbelalak. "Aku kira karena kamu masih muda, kamu tahu banyak. Semacam petani ahli yang sedang meneliti penggunaan pupuk untuk menciptakan inovasi baru."
Gadis itu masih terus membicarakan tentang cara kerja petani profesional dengan pengembangan dan penemuan baru mereka, saat pemuda itu selesai dengan garit terakhir.
Pemuda dengan pakaian yang sudah basah dengan keringat itu segera membereskan ember dan karung pupuk yang sudah kosong, membawanya ke gubuk kecil yang berada di tengah-tengah ladang yang biasa digunakan petani untuk istirahat sejenak di tengah terik matahari. Ia lantas berjalan menuju sungai untuk membersihkan diri sebelum pulang.
Sang gadis membuntuti tanpa banyak tanya. Ocehannya telah berhenti ketika melihat pemuda itu beres-beres.
"Jangan ikut." Pemuda yang tersadar tengah diikuti itu protes.
"Memangnya gak boleh?" tanya gadis itu terlampau polos.
"Gak." Pemuda itu mempercepat langkahnya. Namun, gadis itu malah berlari mengejar.
"Memangnya kenapa?"