"Oji, abis masukin domba ke kandang, jangan lupa kasih makan ikan dulu sebelum pulang." Adoy berteriak dari ladang ubi. Ia adalah petani senior yang dipercayai pemilik ladang untuk mengatur semuanya.
Pemuda itu menoleh, suara dari kejauhan mengalihkan atensi pemuda kurus tinggi yang tengah sibuk mengatur kawanan domba agar masuk ke kandang karena waktu merumput mereka telah selesai dan hari sudah sore.
"Siap, Mang," sahutnya sambil mengacungkan jempol kepada seorang lelaki yang mulai berjalan menjauh setelah menjawab dengan anggukan.
Oji dengan segera mamasukkan domba-domba itu ke kandang dan mengunci setiap pintu. Ia pun melangkah menuju kolam ikan yang tak jauh dari kandang, ia mengambil pakan yang selalu disimpan di gudang kecil samping kolam tempat menyimpan barang-barang pertanian.
Sore menjelang, dan satu per satu petani pulang meninggalkan garapan mereka. Oji adalah pekerja serabutan yang mengerjakan hal apa pun di ladang milik Ramji. Berbeda dengan pekerja lain yang hanya fokus pada garapan tanah yang ditanami berbagai sayuran, umbi-umbian, dan tanaman lainnya. Terlepas dari membantu pekerjaan para petani, Oji mengurus hal-hal di luar itu. Membawa domba merumput, memberi pakan ikan, dan pekerjaan-pekerjaan kecil yang dirasa tidak memerlukan tenaga petani dewasa. Ia juga selalu berkontribusi besar saat panen dengan tenaganya yang cukup besar untuk seukuran bocah kerempeng sepertinya.
Berbeda dengan petani lain, Oji selalu pulang paling akhir. Meski begitu, pemuda itu senang dengan ketenangan ketika semua orang pergi dan meninggalkan dirinya dengan cahaya jingga kemerahan yang perlahan mulai menghiasi langit. Tentu saja itu sebelum kedatangan gadis yang selalu mengoceh dan membuntutinya setiap sore.
"Oji!" Hari ini pun gadis itu muncul, berteriak dari kejauhan. Ia berlari-lari kecil menghampiri pemuda yang sekarang tengah sibuk menaburkan pakan ke kolam ikan. Beberapa hari telah berlalu, gadis itu sudah tahu nama pemuda itu dari orang-orang yang memanggilnya di ladang. Oji sendiri enggan memperkenalkan diri, apalagi menjawab setiap ocehan gadis itu. Ia hanya menjawab seperlunya dan sesingkat mungkin untuk meredakan ocehan gadis itu walau hanya sebentar.
"Hari ini kamu kasih makan ikan?" Gadis itu duduk di tepian kolam sambil mengamati Oji.
Rania bersenandung kecil sambil mengacung-acungkan kakinya ke depan dan belakang, memperhatikan ikan yang bergerombol dengan kepala menyembul keluar dan mulut yang mangap-mangap ketika Oji melemparkan pakan ke dalam kolam. Airnya tidak begitu jernih karena kolam tersebut tidak dilapisi apa pun, melainkan hanya tanah yang digali lebih dalam untuk menampung mata air yang mengalir di dekat sana dan memanfaatkannya untuk memelihara ikan dan pengairan ladang.
"Eh, katanya sebentar lagi panen ubi?" Rania bangkit dan berdiri di samping Oji. "Ubinya manis, gak, ya? Kayaknya enak kalau dibuat ubi bakar. Ah, atau kolak? Wah, aku jadi pengen buat macam-macam makanan dari ubi."
Oji membereskan wadah pakan dan menaruhnya kembali ke gubuk penyimpanan dan mengunci pintu karena pekerjaan hari ini telah usai.
Oji tidak terbiasa berbicara panjang lebar dengan seseorang, dan dengan wajahnya yang tampak sangar membuat orang-orang salah paham. Saat dihadapkan dengan Rania dan berbagai pertanyaan, ia hanya menyimak. Selama hidup, yang selalu ia katakan hanyalah 'iya' dan 'siap', selebihnya jarang sekali berbicara. Kalau pun harus berbicara panjang lebar, itu berarti Ramji meminta laporan atas pekerjaannya.
"Aku pengen lihat panen ubi, tapi gak bisa ke ladang siang-siang. Aku pergi ke sekolah dan ikut ekstrakulikuler pecinta alam." Rania tersenyum, tangannya memainkan beberapa helai rambut sebahunya. Sebuah kebiasaan ketika ia merasa sangat senang. "Katanya ada metode yang lebih efisien untuk menanam sayuran, namanya hidroponik. Gak perlu pake media tanah dan lebih hemat lahan."
Oji tidak berkomentar, ia melirik gadis itu dengan ekor matanya. Lantas, bayangan elok tubuh Rania yang basah dengan mata hitam yang menatap polos ketika menceburkan diri ke sungai memenuhi bayangannya. Segera ia memalingkan muka dan menutup mulutnya dengan punggung tangan. Sengatan panas yang tiba-tiba berdesir itu membuat telinganya memerah.
"Aku baru tahu teorinya, sih. Tapi, nanti bakal ada jadwal praktek. Kalo aku udah tahu caranya, kita coba bareng, ya, Oji!" Rania selalu memiliki suara ceria yang menyenangkan. "Ah, nanti aku bawa bukunya, deh. Biar kamu juga paham."
Oji mengangguk, meski ia tidak yakin apakah sebuah buku akan berguna baginya.