Nona Batu

aksara_g.rain
Chapter #3

Bab 3 : Masalah

Entah sejak kapan Oji mulai menanti datangnya petang lebih dari biasanya. Bukan karena suasana senja yang menenangkan ketika semua orang pulang dan menyisakan dirinya memandang langit menguning sendirian, melainkan penantian akan datangnya seseorang yang perlahan merubah raut wajahnya.

"Oji!" Suara ceria dan ringan terdengar dari kejauhan. Pemuda itu tersenyum senang, tetapi alih-alih menoleh dan menyapa kedatangan Rania, Oji memilih untuk pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan pekerjaannya memotong daun jagung muda untuk dijadikan pakan domba. Sebelumnya, Oji membayangkan sekenario dalam kepalanya untuk memberanikan diri membalas sapaan Rania dengan sekedar mengatakan, 'hai, kamu datang lagi!' atau 'kamu sudah datang?' tetapi saat ia berusaha mencobanya, itu terlalu memalukan. Bagaimana pun, ia tidak terbiasa beramah-tamah seperti itu.

Hari ini panen jagung, dan hasilnya melimpah. Oji sengaja menyimpan jagung bagiannya untuk dimakan bersama Rania. Setiap panen besar, Adoy selalu membagikan sebagian hasil panen kepada pekerja atas perintah Ramji.

"Oji, hari ini aku bawa bukunya!" Gadis itu dengan bersemangat mengacungkan buku yang dibawanya tepat di depan muka Oji, hingga pemuda itu mundur.

"Mau jagung, Nona Batu?" Oji mengacungkan beberapa jagung yang masih terbungkus kulit kehijauan.

"Hei, sudah berapa kali aku mengatakan jangan memanggil aku dengan sebutan itu?" Bibir pucatnya yang penuh tampak mengerucut, tangannya bersilang di dada.

Oji membawa beberapa kayu bakar ke perapian.

"Akan kumaafkan kali ini, asal kamu memberiku jagung-jagung itu. Lain kali tidak akan kumaafkan." Meski nada bicaranya terdengar ketus, sorot mata yang berbinar, mulut yang terbuka dan hampir meneteskan liur itu tidak dapat membohongi perasaan yang sesungguhnya.

"Kukus atau bakar?" Pemuda itu bertanya lagi sambil mengacungkan panci kecil yang memang selalu disimpan di gubuk itu, sewaktu-waktu digunakan untuk merebus air atau merebus hasil panen supaya bisa disantap para pekerja.

"Bakar!" Rania menyimpan bukunya di bangku panjang. Sementara Oji menyalakan api dan membuat tusukan dari bambu untuk pegangan jagung bakar, Rania mengupas jagung-jagung itu.

"Apakah jagung ini juga kamu dapat dengan 'rahasia'?" Rania mencondongkan tubuhnya agar mendekat pada pemuda itu dan merendahkan suara pada kata 'rahasia' dalam kalimatnya.

Oji menggeleng. Tangannya sibuk membolak-balik jagung agar matang merata.

"Lalu?" Gadis itu menaikkan sebelah alisnya.

"Dikasih," jawaban pendek itu cukup membuat Rania puas untuk beberapa saat dan tidak mengoceh lagi.

Oji menyerahkan jagung yang sudah matang kepada Rania. Kepulannya membuat gadis itu bersemangat meniup.

Seperti biasa, gadis itu makan dengan lahap seperti seseorang yang seminggu tidak menemukan makanan. Oji hanya menghabiskan satu jagung dan Rania menghabiskan sisanya.

Setelah menghabiskan semua jagung bakar, Rania baru ingat pada buku yang dibawanya.

"Oji, buku ini sangat bagus. Menjelaskan tentang seluk beluk pertanian dari zaman dulu hingga metode-metode terbaru. Di zaman yang semakin modern, banyak teknologi yang mendukung pengolahan lahan pertanian." Gadis itu membuka halaman demi halaman dengan cepat tanpa membacanya.

Pemuda itu membereskan bekas tongkol jagung dan menyiram sisa perapian dengan air.

"Aku belum membaca semuanya. Sebenarnya aku ingin membacakannya juga untukmu, tapi sekarang aku benar-benar kenyang. Maukah kamu membacakan sisanya untukku?" Rania menyodorkan buku itu pada Oji yang langsung disambut dengan penolakan.

Lihat selengkapnya