"Oji!" Rania berteriak dari kejauhan.
Suara itu membuat pemuda yang sedang duduk di pinggiran kolam ikan sambil menggoyangkan kakinya ke depan dan belakang menjadi senang. Pekerjaannya selesai lebih cepat karena musim panen sudah lewat dan kini ladang sudah ditanami bibit baru. Ia menoleh ke arah gadis yang berlari kecil melewati jalan setapak di antara garit-garit yang baru saja ditanami ubi.
Ubi ditanam di sisi kiri kolam, membentang hingga puluhan meter, disambung dengan tanaman jagung sampai ke ujung. Sedangkan di sisi kanan kolam ikan, kandang domba memanjang yang disekat agar satu domba menempati satu ruang. Di halaman kandang terdapat lahan terbuka berpagar kayu tinggi yang sengaja ditanami rumput dan pohon pisang di pinggirannya, sesekali domba-domba dibiarkan berkeliaran dan merumput di sana. Tepat di depan kolam ikan ditanami berbagai sayuran dan rempah-rempah yang langsung menghadap jalan beraspal dengan lebar kurang dari dua meter. Jalan itu menjadi akses transportasi petani yang membawa kendaraan dan mengangkut hasil panen.
Rania mencondongkan tubuhnya ke arah Oji setelah ikut duduk di sebelahnya. Ia mengatur napas yang ngos-ngosan. "Hari ini aku memiliki misi rahasia." Ia merendahkan suaranya dan menakankan kata 'rahasia', sorot matanya sangat serius.
Oji mengerutkan dahi dan memandang Rania yang menurunkan tas selempangnya. Tangannya dengan gesit membuka tas itu dan mengeluarkan kotak bekal. "Ini dia misi rahasia kita."
Pemuda itu semakin tidak mengerti, ia berpikir gadis itu akan mengeluarkan buku-buku yang bisa membantunya cepat menghafal huruf-huruf dan bisa membaca. Tetapi justru yang dikeluarkannya adalah hal yang berbeda.
"Aku lapar dan belum sempat memakan bekal. Tapi, karena sudah ada di sini. Ayo tangkap ikan dan makan bersama." Rania tersenyum dengan wajah polosnya.
"Tidak boleh." Oji menggeleng.
"Kenapa? Ini akan menjadi rahasia kita, kan?" Rania mengguncang tubuh kurus Oji.
Pemuda itu menggeleng sekali lagi.
"Kenapa kemarin kamu melakukannya, dan sekarang malah tidak boleh?" Rania menyilangkan tangan di dada. Pipinya menggelembung dan bibirnya maju membentuk kerucut.
"Atau jangan-jangan ...." Rania dengan cepat mendekatkan wajahnya ke wajah Oji hingga keduanya bersitatap dengan jarak beberapa senti saja. "Kamu belum pernah melakukannya?"
Oji segera memalingkan wajah, tidak bisa berlama-lama menatap wajah tirus dengan mata bulat yang hitam legam itu. Otaknya kembali mengingat bayangan lekuk tubuh gadis itu ketika basah oleh air sungai dan itu selalu membuat wajahnya terasa panas.
"Hei, bukannya ini bagus? Itu akan menjadi rekor terbaru rahasia kita. Lalu, lihat apa yang aku bawa." Rania merogoh tasnya lagi dan mengeluarkan beberapa buku dan alat tulis. "Aku tidak akan bisa mengajarimu membaca atau menulis jika perutku lapar."
Untuk beberapa detik, mata Oji berseri dan sudut bibirnya terangkat, tetapi di detik berikutnya ia menggeleng.