"Kamu masih marah?" Rania yang duduk di pinggir kolam ikan tepat di sebelah Oji berkata pelan setelah keheningan melanda beberapa menit setelah kedatangannya. Jingga di ufuk barat merambat pelan, angin berembus lembut membawa hawa dingin. Tidak ada jawaban, tidak ada ekspresi yang mudah diartikan dari wajah sangar pemuda bermata coklat itu.
"Kemarin kamu pergi gitu aja." Gadis itu masih berusaha membuat Oji bicara walau hanya satu kata seperti biasanya.
Oji menjatuhkan diri ke tanah dan menutup wajahnya dengan topi, kedua tangannya menjadi bantalan kepala. Langit berwarna kuning kemerahan menyajikan ketenangan yang menyenangkan, sesekali burung melintas seperti sedang bermain kejar-kejaran dengan teman-temannya. Semilir angin membuat Oji semakin nyaman dan ingin memejamkan mata. Semalaman ia tidak bisa tidur karena terlalu gelisah. Sepanjang hari pun ia tidak tenang. Selalu terperanjat ketika seseorang memanggil namanya. Ia dibayangi oleh wajah Ramji yang murka karena ia ketahuan mencuri.
"Kamu benar-benar marah, ya?" Rania mengangkat topi yang menutupi wajah Oji sehingga pemuda itu membuka mata dan sedikit tersentak mendapati wajah tirus dengan mata hitam legam yang menatapnya begitu dekat. Ia menoleh ke samping untuk menghindar.
"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, dan jangan marah lagi." Rania membuang muka, menatap riak air kolam yang ditimbulkan oleh segerombol ikan. "Mau bagaimana lagi? Semuanya terjadi begitu saja. Lagipula, kamu juga tidak mendapat masalah, kan?"
Pemuda itu bergeming, kembali memejamkan mata ketika Rania sudah tidak mendekatkan wajahnya lagi.
"Hei, sampai kapan kamu akan mendiamkanku seperti ini?" Rania mengguncang tubuh Oji. "Maksudku, ya ... kamu memang jarang bicara. Tapi tetap saja aku merasa bersalah dan gelisah saat kamu tidak mengatakan apa pun padaku setelah kejadian kemarin."
"Aku ngantuk." Pemuda dengan rahang tegas dengan mata cekung yang sedikit menghitam itu mengambil topinya dari tangan Rania dan menaruhnya di wajah. Ia kembali menutup mata.
"Kamu akan terus seperti ini?" Rania mengambil topi itu kasar dan melemparkannya sembarang. "Setidaknya jawab aku sekali saja. Kamu marah atau tidak? Aku ini bukan manusia super yang tahu perasaanmu. Kamu harus bicara. Aku tidak bisa tidur nyenyak saat kemarin kamu meninggalkanku tanpa ber—"
"Aku tidak marah." Sebelum Rania menyelesaikan keluhannya, Oji memotong. Ia bangkit terduduk.
"Lalu kenapa kamu diam saja?" Rania lantas buru-buru mengoreksi pertanyaannya, "Ah, bukan, kamu memang tidak suka bicara. Kenapa kemarin kamu meninggalkanku begitu saja? Apa artinya itu kalau bukan marah? Dan hari ini, kenapa kamu lebih cuek dari biasanya? Kamu bahkan selalu menghindari tatapanku."
"Aku tidak tahu." Oji menutup mulutnya dengan punggung tangan.
"Jawaban macam apa itu?" Rania tidak habis pikir, ia selalu gagal memahami pemuda itu. "Baiklah, sebagai permintaan maaf, aku akan pastikan kamu tidak akan mendapat masalah. Kalau perlu, aku akan bicara dengan Mang Adoy."
Oji mengambil topi yang tergeletak tak jauh. Saat ia mengangkatnya, seekor kodok masuk ke dalam ceruk topinya.
"Aku sangat lapar. Tapi aku yakin kamu tidak akam mau melakukan 'misi rahasia' lagi setelag kejadian kemarin." Rania memegang perutnya yang terbalut kaos polos berwarna putih ditutup dengan kemeja lengan pendek berwarna abu-abu yang tidak dikancing dan celana jeans biru muda sebagai bawahannya.