NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #1

BAB 1 - Rumah yang Tidak Pernah Lelah Menunggu

Kabut masih menggantung tipis ketika lampu teras itu menyala. Bukan karena lupa dimatikan. Memang belum pernah dimatikan sejak semalam. Cahayanya kuning, temaram, menembus embun yang turun di daun mangga.

 

Di dalam rumah kayu yang catnya sudah mengelupas di beberapa sisi, suara ayam tetangga mulai bersahut. Azan subuh mengalun dari surau di ujung gang, pelan, merambat lewat celah papan.

 

Pintu depan terbuka sebelum azan selesai. Tidak terburu-buru. Hanya dua daun pintu kayu yang didorong bersamaan, engselnya berbunyi pelan seperti orang menguap.

 

Naga berdiri di ambang. Umurnya tiga puluh sembilan. Rambutnya hitam, belum ada putihnya, tapi matanya menyimpan tenang yang biasanya cuma dimiliki orang jauh lebih tua. Ia memakai kaus oblong yang sudah tipis di bagian kerah dan sarung kotak-kotak yang dilipat sampai betis.

 

Ia menghirup udara sekali. Dalam. Lalu mengembuskannya pelan-pelan lewat hidung. Tangannya naik, mengusap kusen pintu yang basah embun.

 

“Pagi,” katanya.

 

Tidak keras. Tidak juga berbisik. Cukup untuk didengar dirinya sendiri. Atau didengar rumah.

 

Ia menuruni dua anak tangga teras. Kaki telanjangnya menyentuh tanah yang dingin. Di depannya, halaman. Tidak luas, tapi bersih. Pohon mangga berdiri di tengah, daunnya masih meneteskan sisa malam. Di bawahnya ada sapu lidi bersandar di batang.

 

Naga mengambil sapu itu. Gerakannya biasa saja, seperti orang mengambil sendok untuk makan. Ia mulai menyapu. Dari ujung teras ke arah pagar bambu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Debu dan daun kering berkumpul pelan-pelan.

 

“Sudah,” katanya pada lantai. “Jangan ngambek.”

 

Seekor burung gereja turun dari kabel listrik, mematuk-matuk tanah yang baru disapu. Naga berhenti sebentar, memperhatikan. Senyumnya kecil, hampir tidak kelihatan.

 

“Laparmu pagi-pagi,” katanya. “Tunggu.”

 

Ia meletakkan sapu, masuk ke dalam. Tidak menutup pintu. Kedua daunnya tetap terbuka lebar.

 

Di dapur, ia mengisi mangkuk kecil dengan beras sisa semalam. Dibawa keluar, ditabur di bawah pohon mangga. Burung-burung lain turun. Tiga. Lima. Tujuh. Naga jongkok, menonton mereka makan. Badannya tegap, jongkoknya masih gampang untuk ukuran orang yang katanya betah di rumah tua.

 

Angin lewat. Daun mangga bergesekan. Beberapa jatuh, berputar, mendarat di tanah yang baru bersih.

 

Naga mendongak. “Semalam anginnya kencang ya,” katanya pada pohon.

 

Pohon tidak menjawab. Tapi Naga mengangguk seolah mendengar sesuatu. Ia bangkit, memunguti daun yang baru jatuh satu per satu. Dikumpulkan di tangan, lalu dibuang ke tempat sampah di belakang rumah.

 

Jam dinding di ruang tamu berdentang sekali. Setengah enam.

 

Naga mengambil ember kecil dari samping sumur. Disiramkannya air ke pot bunga di teras. Melati. Lidah mertua. Bunga kertas yang merambat di pagar. Sambil menyiram, mulutnya bergerak.

 

“Ini juga mau dibersihin,” gumamnya. “Jangan iri sama yang di depan.”

 

Genteng bocor di sudut dapur sudah ia tandai sejak kemarin. Sekarang ia naik ke kursi kayu, menempelkan potongan seng bekas dengan paku kecil. Tok. Tok. Tok. Tangannya cekatan. Naik-turun kursi tidak goyah.

 

Selesai. Ia turun, mengetes dengan menyiram air dari botol. Tidak ada yang menetes lagi.

 

Lihat selengkapnya