Pukul delapan pagi. Matahari sudah naik, tapi belum menyengat. Embun di daun mangga tinggal sisa-sisa, sebentar lagi hilang.
Naga jongkok di samping teras. Tangannya memegang pot tanah liat yang retak di bagian bibir. Retaknya tidak besar, hanya segaris, tapi cukup membuat tanahnya bocor kalau disiram. Ia menempelkan campuran semen putih pakai sendok semen kecil. Pelan-pelan, seperti orang menambal luka.
“Kena hujan kemarin,” katanya pada pot. “Makanya jangan nakal.”
Dari arah gang, suara langkah kaki. Tidak tergesa. Naga tidak menoleh. Ia terus meratakan semen dengan ibu jari.
“Assalamualaikum, Pak Naga.”
Suara itu. Naga kenal. Kemarin. Yang bawa map biru, tanya harga tanah.
Naga menoleh. Murad berdiri di depan pagar bambu. Umurnya mungkin dua puluh dua tahun. Rambutnya rapi, kemejanya biru muda, lengannya digulung sampai siku. Tidak ada map hari ini. Di tangannya ada kantong kertas cokelat, berminyak sedikit di dasarnya.
Naga bangkit. Menepuk-nepuk tangannya yang kotor semen. “Waalaikumsalam.”
Ia berjalan ke pagar, membuka pintunya. Tidak dikunci memang. “Masuk.”
Murad ragu sedetik. “Ganggu nggak, Pak?”
“Air kopi udah masak dari tadi,” kata Naga. Ia menunjuk ke teras dengan dagu. “Tinggal bikin.”
Murad melangkah masuk. Matanya menyapu halaman. Bersih. Dua pasang sandal masih di depan pintu. Yang kecil tetap tidak dipakai.
Naga kembali jongkok, menyelesaikan tambalannya. “Duduk dulu. Saya cuci tangan.”
Di teras ada bangku kayu panjang, bekas catnya sudah mengelupas. Murad duduk di ujung. Kantong kertas ia letakkan di sebelahnya.
Naga keluar dari dalam, tangannya basah, membawa dua gelas kaca dan teko seng. “Tubruk aja ya,” katanya. “Nggak ada saring-saringan.”
Murad berdiri, ikut membantu. “Saya bukain kopinya, Pak.”
Dari kantong kertas, keluar sebungkus kopi bubuk. Mereknya biasa, yang dijual di warung. “Tadi lewat pasar,” kata Murad. “Kepikiran.”
Naga mengangguk. “Bagus. Yang kemarin tinggal sedikit.”
Mereka tidak masuk dapur. Teko seng diletakkan di lantai teras. Naga menuang air panas dari termos besar. Uapnya naik, bikin kacamata Murad berembun sebentar.
“Berapa sendok?” tanya Naga.
Murad tertawa. “Saya ngikut Pak Naga aja.”
Naga menyendok tiga untuk teko, lalu dua lagi. “Biar kental. Biar betah.”
Mereka diam sebentar, menunggu bubuknya turun. Angin lewat. Daun mangga jatuh satu, mendarat pas di samping teko.
“Musim hujan telat,” kata Murad.
“Iya,” jawab Naga. “Mangga jadi bingung mau berbuah kapan.”
Murad senyum. “Ayam tetangga semalam masuk sini lagi?”
“Sudah. Jam lima subuh. Saya usir pakai sapu.” Naga menuang kopi ke dua gelas. “Tapi balik lagi. Bandel.”
Murad menerima gelasnya. Panas. “Pak Naga tinggal sendiri?”
Naga sedang meniup kopinya. Ia tidak langsung jawab. Matanya ke pohon mangga. Dua burung gereja hinggap di dahan rendah.
“Kalau burung dihitung…” katanya. “Ramai.”
Murad tertawa. “Saya serius, Pak.”
Naga mengangguk. “Saya juga.” Ia menyesap kopinya. “Kamu?”
“Saya?” Murad garuk kepala. “Saya kos di kota. Sendiri juga.”