Jam sembilan pagi, matahari sudah naik tinggi. Tapi bayangan pohon mangga membuat teras rumah Naga tetap teduh.
Murad berdiri di depan pagar bambu. Tangannya kosong. Tidak ada plastik kopi, tidak ada kue kotak. Bahkan langkahnya ragu. Tadi malam ia hampir tidak tidur. Pikirannya bolak-balik. Ganggu nggak ya? Tiap hari ke sini. Orang kan butuh istirahat.
Baru juga mau membalik badan, suara itu datang dari dalam.
“Masuk saja.”
Naga. Duduk di teras, menyerut bambu dengan pisau kecil. Tidak mendongak. Seolah sudah tahu ada orang di depan pagar sejak lima menit lalu.
Murad ketawa, kikuk. Ia buka pagar, melangkah masuk. “Bapak kok tahu saya?”
Naga tetap menyerut. Serpihan bambu jatuh ke lantai. “Kalau orang sering datang…” Ia berhenti, meniup serbuk di bilah pisau. “…langkah kakinya juga jadi kenal.”
Murad diam. Kalimatnya biasa. Tapi entah kenapa dada Murad anget. Ia melepas sepatu di anak tangga kedua. Sudah hapal. Ritual rumah ini memang begitu. Sandal, sepatu, semua harus dibuka di anak tangga kedua. Tidak pernah dijelaskan kenapa. Tapi semua yang datang nurut saja.
Di teras ada dua kursi kayu. Yang kanan, yang biasa Murad duduki tiga hari terakhir. Yang kiri, selalu kosong. Kayunya lebih gelap, lebih tua.
Murad melangkah ke kanan. Belum sempat duduk, Naga bersuara lagi.
“Hari ini coba duduk di kiri.”
Tangan Murad menggantung di udara. Ia menoleh. “Kiri?”
Naga mengangguk. Tidak menatap Murad. Matanya ke kursi kanan. Lama. Kayak orang melihat orang yang duduk di situ, padahal kosong.
“Kenapa, Pak?”
Naga senyum. Tipis. “Kursinya capek. Yang kanan dipakai terus.”
Murad ketawa. Alasan Naga memang suka begitu. Masuk akal, tapi tidak masuk akal. Ia geser, duduk di kursi kiri. Kayunya dingin. Lebih tinggi sedikit dari yang kanan. Dari sini, pemandangan ke gang beda. Bisa lihat ujung surau.
Naga meletakkan pisau dan bambu. “Kursinya goyang.” Ia tunjuk kursi kanan yang baru kosong.
Murad mengetes dengan tangan. Benar. Kakinya satu agak pendek. “Saya benerin ya, Pak?”
“Alatnya di belakang. Dekat sumur.”
Murad berdiri. Di belakang rumah, ada kotak kayu. Isinya palu, paku, gergaji kecil, amplas. Lengkap. Kayak tukang. Ia bawa kotak itu ke teras.
Naga sudah siap dengan ganjalan kayu. Mereka kerja tanpa banyak komando. Murad membalik kursi, Naga menahan. Palu ketuk paku. Tok. Tok. Tok.
“Bapak belajar dari mana?” Murad bertanya sambil mengamplas kaki kursi yang baru diganjal.
“Dulu dia yang ngajarin.”
Murad berhenti mengamplas. “Dia?”
Naga tidak jawab. Tangannya sibuk mengetes kursi. Diduduki. Goyang sedikit. Ia berdiri lagi, nambah paku.
Murad tidak nanya lagi. Editor di dalam kepalanya bilang: tahan.
Angin lewat. Daun mangga jatuh di antara mereka. Naga memungut, meletakkan di meja.
“Kecil dulu bapak suka benerin-benerin?” Murad coba lagi, lebih aman.
Naga senyum. “Semua anak laki-laki harus bisa.” Ia mengetuk kepala palu ke telapak tangan. “Kalau nggak, nanti gimana benerin rumah sendiri.”
Murad mengangguk. Ia ingat bapaknya. Tidak pernah ngajarin benerin kursi. Bapaknya sibuk. Selalu di kantor. Pulang bawa oleh-oleh, bukan palu.
“Kursi ini udah tua,” kata Murad. “Kayaknya seumuran saya.”
“Lebih tua.” Naga mengelus sandaran kursi. “Ini dibuat pas saya umur tujuh bulan, dan bapak saya yang buat.”